GULING

GULING

“Katanya tidak boleh diganti”. Tyas menjelaskan mengapa barang jelek itu masih ada di atas tempat tidur baru itu.

“Ya, dibuang saja.” Lilis masih berargumen. ” Paling juga ngambek sebentar”.

“Sudah pernah kucoba. Nangisnya dari pagi sampai sore. Habis itu malamnya dia nggak bisa tidur. Aku ikut-ikutan nggak tidur. Akhirnya aku sendiri yang sudah kan?” Tyas membeberkan perilaku Dimas anak laki lakinya yang semata wayang. Sekarang Dimas sudah hampir remaja. Dua minggu lagi kelulusannya dari SD akan diumumkan.

Lilis mendengarkan saja penjelasan Tyas tentang tingkah keponakannya itu. Ini adalah perilaku ke sekian dari Dimas, yang Lilis sangat tidak setuju. Tetapi sebaliknya, Tyas selalu berargumen ” Nggak bisa. Nanti dia …. (begana dan begini)”

Ketika kelas satu SD, Dimas masih dibekali dengan botol susu ke sekolah. “Dia nggak mau minum susu kalau nggak pake botol yang ada dot-nya”. Perkara dot itu akhirnya ditinggalkan gara-gara seluruh teman sekelasnya menertawakannya.

“Dia nggak mau makan kalau nggak disuapin” penjelasan Tyas suatu hari untuk kesibukan Tyas membututi Dimas ke mana pun bermain, sepulang sekolah. Mengejar-ngejar Dimas “demi sesuap nasi” itu akhirnya berhenti gara-gara Tyas tidak sanggup lagi mengikuti Dimas yang bermain semakin jauh dari rumah.

“Aa…chhh…mandinya nggak bersih kalau dibiarkan sendiri”. Walau sudah dikhitan, Dimas masih dimandikan Tyas sang Bunda. Suatu hari Dimas tidak mau lagi dimandikan karena di kalangan teman sekelasnya berlaku SOP : setelah dikhitan, harus mandi sendiri.

“Aku masih tidur sama dia lho…” kata Tyas bangga bercerita tentang betapa Dimas masih membutuhkan kelonannya agar Dimas bisa tidur setiap malam. “Nah, dia cepat tertidur kalau pakai guling itu”. Tyas tersenyum menerangkan betapa sangat pentingnya peran barang yang sangat menjengkelkan Lilis. Ingin rasanya Lilis menyindir “Trus suamimu kamu taruh di mana?” Tetapi celutukan itu ditahannya demi hubungan baik dengan kakak laki-laki yang dihormati dan disayanginya, suami Tyas.

Lilis memandang jijik dan kesal pada barang lepek berwarna tak jelas di atas kasur Dimas yang baru datang dari toko. Sarung guling itu baru dibuka untuk dicuci (masih sempat Tyas berpikir untuk mencucinya ya ?!) Wujudnya sudah tidak berbentuk. Mirip karung goni yang berisi dasarnya saja. Di ujungnya diikat dengan karet gelang karena ada sobekan yang mengeluarkan kapuk. Badan guling itu dipenuhi dengan pola pulau pulau karena iler. Lilis mengangkat benda itu dan mendekatkannya ke hidungnya.

“Wuu…eekk” Lilis hampir muntah. Entah percampuran bau apa tetapi yang dominan saat ini adalah bau pesing.

Solo, 21 Juli 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
GULING,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: