Goresan Sejuta Ekspresi

Bakat itu tidak ditentukan sejak   lahir. Ehehe, iklan banget yah, emg iya, barusan aj nongol iklannya terus saya tulis disini.Bukan tanpa alasan nulisnya, karena saya pikir ada benarnya juga.Termasuk dalam hal menulis ini, kita bisa mahir jika terbiasa, tapi setelah terbiasa, bisa juga hilang kemampuan kita jika tidak diasah lagi dan lagi.

Sebenarnya sejak kecil saya suka menulis, bikin cerpen, bikin artikel, bahkan pernah nulis cerita seperti novel waktu sekolah dulu yang buku tulisan tangan saya itu hilang entah kemana. Tidak terpikir sama sekali untuk menjadikannya sebuah terbitan buku, semua mengalir saja karena saya suka, masih sekolah juga sih, hehe. Memilih ekskul pun saya suka bergabung dengan majalah sekolah, cari berita, membuat artikel, mading, pokoknya yang berbau menulis.

setelah lulus SMA, masuk kuliah saya sudah mulai jarang menulis. saya mulai disibukkan dengan kegiatan akademis yang menuntut banyak praktikum, penelitian, laporan. Sibuk pula dengan kegiatan organisasi kampus, benar-benar sepertinya tidak ada waktu untuk menulis seperti waktu sekolah dulu. Sampai sekarang berkeluarga pun saya jarang bisa menulis .

     Rasanya kesukaan yang sudah lama tidak saya lakukan itu, benar-benar membuat saya mati gaya kalau ingin menulis lagi. Kaku tangan ini bergerak menulis sesuatu, kaku pikiran ini merangkai kata-kata untuk ditulis. Tapi saya masih punya kerinduan untuk kembali menulis lagi. Kenapa?karena saya suka. Kalau flashback duluuu itu saya suka melihat ekspresi orang-orang yang mebaca tulisan saya. Pas yang saya tulis ada lucunya saya puas lihat orang yang baca tertawa. Pas ada sedihnya saya takjub lihat ekspresi mereka jd sedih, begitu pula kalau ada tulisan yang membuat bahagia, marah, atau aneh dibacanya, hehe. Hingga akhirnya saya punya keinginan untuk membiasakan diri menulis lagi. Pengen belajar lagi membuat goresan ajaib yang bisa bikin ekspresi yang membacanya berubah ubah.

 

Rate this article!
Goresan Sejuta Ekspresi,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: