Good Bye Banke

Haaa? Apa itu banke? Banke itu istilah seorang ustadz yang sering mengisi kajian di kantor saya untuk menyebut orang atau lembaga yang meminjamkan uang dengan tambahan riba yang mencekik. Beberapa masyarakat menyebut mereka dengan sebutan bank keliling disingkat banke hehehe.

Ustadz tersebut sedang merintis usaha yang tujuannya membebaskan masyarakat dari kepungan banke ini. Karena memang banke sudah menggurita hingga ke pelosok. Walaupun perjanjiannya berat sebelah dan bunga pinjamannya mencekik, masih banyak juga masyarakat yang entah karena terpaksa entah karena apa tetap menjadi nasabah mereka.

Sebagai gambaran, jika kita meminjam uang sebesar Rp1.000.000,00. Kita hanya akan menerima Rp. 950.000,00 kadang malah hanya Rp. 900.000,00 karena ada potongan di depan sebagai administrasi atau entah apa sebutannya. Dari pinjaman sejumlah itu, ‘nasabah’ harus mengembalikan sebesar Rp. 100.000,00 x 12 kali cicilan alias Rp. 1.200.000,00 yang wajib dicicil seminggu sekali.

Coba hitung. Dalam 3 bulan nasabah harus membayar riba sebesar 20%-30% dari pokok pinjaman. Artinya bunga yang mereka ambil dari setiap nasabah adalah 7%-10% sebulan. Jadi dalam satu tahun, jumlah bunga sudah sama dengan jumlah pokok hutangnya. Bahkan bisa jadi lebih besar. NgeRIBAnget ngga sih?

Terkadang, seringkali malah, ‘nasabah’ itu hanya mampu membayar bunganya saja. Pokok hutangnya tak pernah berkurang walau uang yang dibayarkan sudah melebihi jumlah pokoknya. Sekian tahun cuma mampu membayar ‘taik’ nya saja. Pokoknya tak pernah terbayar. Buanyaaaak masyarakat pedesaan (dan mungkin perkotaan),  yang terlilit masalah seperti ini.

Dan masalah inilah yang sekian lama melilit salah satu pengasuh anak-anak saya. Kehidupannya yang sulit seringkali memaksanya meminjam uang dari para banke ini. Dan tak hanya ke satu banke, tapi beberapa banke. Hampir setiap hari rumahnya didatangi penagih.

Saat itu hutangnya sudah mencapai Rp. 3.000.000,00. Membuatnya sering ngahuleng, ngalamun, terkadang matanya berkaca-kaca. Setelah ditanya, berceritalah dia tentang hutang-hutangnya. Selama ini dia hanya sanggup membayar bunganya doang, sementara pokok hutangnya segitu segitu aja.

Saat membicarakan masalah ini dengan suami, setelah menimbang, mengingat, akhirnya kami memutuskan untuk menutup semua hutang ribanya. Niat saya waktu itu cuma satu, biar doi fokus saat ngasuh anak-anak saya. Ngga kepikiran cicilan ini itu ini itu lagi.

Suami meminta catatan pada siapa saja dia berhutang dan berapa besarnya. Yaaa kalau lihat catatan hutangnya yang mbrindil, memang wajar kalau dia ngga fokus bekerja. Gajinya selalu kurang, karena habis untuk bayar hutang. Jadilah buat hidup sehari-hari terpaksa berhutang lagi. Gali lubang tutup lubang.

Berbekal catatan itulah suami berkeliling menutup hutangnya satu demi satu. Hanya berharap semoga setelah hutang-hutangnya dilunasi. Dia ngga tergoda lagi menciptakan hutang baru. Di rem dulu pokoknya maaah. Reeem reeem reeeem….

 

Rate this article!
Good Bye Banke,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: