FREE RIDER

FREE RIDER

Istilah itu aku dapat dalam sebuah rapat beberapa tahun lalu. Pengungkapnya adalah pemimpin tim tempat aku bekerja. Sampai saat ini aku masih ingat ungkapan itu. Mengapa? Karena aku memakai otak kanan ketika mendengar istilah itu. Aku bertanya-tanya, apakah aku yang sudah bekerja dengan kesungguhan, tetap masuk dalam definisi itu?

Pertanyaan itu sudah muncul beberapa hari sebelum rapat.

“Bu Lisa, besok pagi kita dipanggil untuk briefing”, rekan kerjaku mengajakku bicara ketika kami sedang berberes untuk pulang.

“Briefing? Apa? Siapa?”

“Bos”.

Keesokan harinya. Ada sekitar empat atau lima orang termasuk aku dalam ruangan kerja bos kami. Semuanya adalah rekan kerja yang satu tim denganku. Kesamaan kami, kami adalah “orang lama”. Istilah itu ada ketika itu.

Organisasi tempat kami bekerja, sedang direstrukturisasi. Ada yang pergi dan ada yang datang. Ciri utama dari yang baru masuk adalah mereka “satu gerbong”. Istilah itu juga muncul ketika itu. Nah, coba sandingkan istilah “orang lama” dan “satu gerbong”. Apa yang tersirat, kira kira? Orang lama perlu dipahamkan bahwa akan terdapat pejabat baru, budaya baru, semangat baru, yang orang lama perlu “memperluas comfort zone-nya” agar dapat menerima kekinian itu. Akan terjadi lonjakan bisnis, bottom line yang spektakuler, dan sejenis itu dengan adanya manajemen baru itu. So, “do not be free rider”. Jangan sampai ente tidak berkontribusi! Titik.

Untuk itulah kami dikumpulkan di ruangan itu, untuk memahamkan kami bahwa kami jangan hanya enak-enakan menikmati keberhasilan organisasi tanpa ikut bekerja. Di depan kami ada sebuah TV flat ukuran besar. Kami duduk menghadap barang itu. Diputarlah sebuah film kartun pendek, seingatku begitu, yang bercerita tentang seorang tukang kayu. Alur ceritanya tak kuingat saat ini. Selama tayangan film kartun itu, sang bos memberikan sejenis wejangan. Pesan inti dari film kartun itu: kalau mau maju harus berubah.

Pesan “harus berubah” itu tak begitulah kupedulikan. Yang bergelayut di kepalaku justru pertanyaan “beginilah caranya mengedukasi diriku dan rekan kerjaku, agar kami lebih giat bekerja”. Kata kuncinya adalah “cara”.

Di antara yang hadir tersebut, aku adalah yang paling senior. Walau aku tidak berada pada jabatan struktural, aku adalah pemimpin sebuah kelompok kerja di area keuangan dan akuntansi. Ketika itu terdapat rumor.

“Mengapa bukan Bu Lisa saja yang menjabat?” seorang temanku bersungut-sungut.

“Kan sudah ada, dari gerbong baru”, timpal temanku lainnya, sambil berbisik. Keduanya bergosip di depanku. Aku hanya nyengir.

Tampaknya briefing itu ditujukan agar aku mendukung kebijakan pejabat baru di keuangan, agar aku tidak memprovokasi yang lain, agar aku tidak makar, agar aku, agar aku… Sebegitu burukkah manajemen menilai diriku?

Keluar dari ruang itu, gaya kerjaku, semangat kerjaku, solidnya aku dengan kelompok kerjaku, tampaknya sama saja. Dalam arti, tidak karena “si tukang kayu”, lantas semangat kami menurun atau bertambah. Dari dulu, kalau boleh kusimpulkan, kami bekerja dengan gembira dan memenuhi target.

Sampailah pada sebuah rapat setelah briefing. Istilah free rider, muncul lagi di rapat itu. Dan aku angkat bicara.

“Sebaiknya job description kita, semua, dievaluasi, termasuk job description saya. Jangan sampai saya menjadi free rider”. Kalau kuingat kembali peristiwa itu, aku merasa, bahkan sampai saat ini, bahwa aku adalah pahlawan karena bisa menantang pejabat di rapat itu. Masih kurasakan pertanyaan itu sampai saat ini “Apakah aku ini free rider?”. Namun, lebih jauh lagi begitukah cara “merengkuhku”?

Bulan-bulan berlalu, bottom line yang diharapkan akan meloncat itu tetap di “bottom”. Patut juga kusyukuri tampaknya, bahwa aku bukan dari “gerbong baru” tersebut dan tetap menjadi free rider dalam tanda kutip.

Bandung, 05 11 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
FREE RIDER,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: