How Fragile We Are (Fikih Medsos)

Oleh: Yusup Sobirin (MahaYusru)

(KMO 08A-10. PJ: Bu Rumiah)

 I

Saya tidak akan bicara tentang hukum, adab, atau rencana kalkulasi transendens tentang hal ini, sebab sungguh saya tak punya kapasitas dan kepatutan. Tapi tentu saja saya punya kuasa atas kisah saya. Meski kadang kisah lah yang menguasai saya.

Tiap kali membuka Fesbuk lalu menelusuri lini masa, segera saya membuat rancang bangun reaksi terhadap segala jenis pembaruan yang dilakukan teman Fesbuk yang saya izinkan muncul di newsfeed. Aiiih, ada update status akun yang rajin melike status saya, sebagai balas jasa saya pun melike statusnya, tak perduli apapun muatan tulisannya. Oh tentu saja, persetan dengan apakah tulisannya mengandung ajakan berderma (amaro bi shadaqotin), himbauan kepada kebaikan (au amaro bi ma’rufin), dan ajakan rekonsiliasi (au amaro bi ishlahin bainannaas), atau justru berisi keluhan, ghibah, bercampur syubhat syahwat atau bertentangan dengan syariat, atau apapun terserah, I don’t care!! Bahkan saya melike tanpa membacanya!! Hukumnya adalah, You Like My Status, I Like Back Yours.

Oh, aktivitas di media sosial juga akan ada hisab dan perhitungan kelak di akhirat? Maaf saya kadangkadang lupa (baca: tak perduli). Saya kira wilayah multimedia tak masuk catatan Roqib ‘Atid. Maaf maaf. (Saya bahkan tak tahu ada ayat begini: “…dan bahkan kamu berpikir Allah tidak mengetahui beberapa hal yang kamu kerjakan.” QS Fushilat (41): 22).

Ya, ya, kadang saya memang menemukan status dengan kalimat bermuatan hal yang setidaknya tidak ada manfaatnya (tidak informatif, tidak menghibur, tidak edukatif, tidak solutif, apalagi inspiratif). Tapi saya tak tahu kalau ada ungkapan dari Imam Hasan Al Bashri bahwa, “di antara pertanda bahwa Allah ‘meninggalkan’ hambaNya adalah Beliau menjadikan si hamba jatuh perhatian bahkan hingga tersibukkan oleh hal hal yang tidak berguna bagi dirinya”, yang penting like saja lah, itu salah satu adab bermedsos, masalah ungkapan imam AlHasan itu mah nanti saja dipikirkannya bila sudah tua.

Bahkan kadang saya menemu juga status dengan muatan kalimat yang cenderung pada maksiat, syubhat, syahwat oriented, dilengkapi foto foto yang yaaaah tahu sendiri lah. Oh foto foto yang diaplot akhwat muslimah itu masuk kategori Tabarruj?!! Tabarruj apaan sih? Apa? Tabarruj masuk kategori budaya Jahiliyyah? Jahiliyyah teh naon deui eta?

Dan bisa ditebak, saya juga tak perduli, terutama jika foto fotonya cantik, dan maknyuusss, ya saya like lah. (oh, ada ayat “..dan janganlah kamu ikut (sepakat) pada halhal yang kamu tak punya pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati (termasuk pikiran), semua itu harus kamu pertanggungjawabkan.” (QS Alisra (17): 36)?) Hehe maaf para ustadz, KTP saya ga bisa baca quran, lagian masih lebih asyik mantengin lini masa fesbuk ketimbang baca kitab suci, punten..hihihi *senyumLicik*)

Bahkan sejak pertama saya nge-add, atau approve pertemanan, pertimbangan saya bukan kemaslahatan, baik itu maslahat pemikiran, ruhiyah, atau silaturahim. Mulia sekali kalo saya sampai memertimbangkan maslahat. Yang penting yang jadi teman saya banyak. Dan itu keren. Saya tak perduli, apakah yang nge-add dan/atau saya add adalah alay, atau jablay, atau lalay, terseraaaaah!! Yang penting teman saya banyak. Masalah ‘alMar’u ‘ala diini kholilih’ atau ‘wihdatul mar’I khoirun min jaliisi-suu’ atau ‘al Akhilla’u yaumaidin ba’dhuhum liba’dhin aduww’ atau ‘ya wailataa laitani lam attakhidz fulaanan kholila’ atau yang lain yang lain, itu mah bagian para ustadz, bukan bagian saya.

II

Tiap saya mendapati tulisan saya ranum oleh peLike, varian impresi seliweran di benak saya, mulai dari hore, yeay, hingga astaghfirullah. Tapi maaf, saya tidak bermaksud menghakimi apapun aktifitas anda, termasuk aktifitas ‘remeh’ di media sosial, saya sungguh benar benar tak perduli dengan apapun yang anda lakukan selama tidak mengganggu kepentingan, atau menculik tuhan saya. Saya hanya dibuat kagum tapi kehabisan decak dan tepuk. Maafkan.

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow’s rain will wash the stains away

Bagi saya, meLike, selain berarti suka dengan konten pernyataan, juga bermakna sepakat, dan ikut amin. Sepakat dengan ide yang dituliskan, atau nimbrung amin bila muatannya adalah doa. Masalahnya, untuk tiba di 3 arti like itu, hal pertama yang dibutuhkan adalah paham dan mengerti. Bagaimana bisa saya sepakat dengan gagasan anda kalau saluran ungkapa anda adalah bahasa yang tidak saya pahami, dan akan jadi musibah pula bila saya ikut mengamini doa yang tidak saya pahami. Hanya percaya pada penutur dalam konteks ini tidaklah relevan dan sungguh sangat bodoh.

But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime’s argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are

Sungguh saya berterimakasih kepada semua yang telah dan selalu setia melike tulisan-tulisan saya, dan maafkan karena saya tidak punya prinsip ‘lu jempolin punya gw, gw jempolin punya lo’, sehingga saya tak bisa membalas amal jempol anda dengan melike kembali secara sembarangan tulisan anda.
Sungguh, I really really do thank. Tapi kadang saya bingung, masalahnya seringkali saya sendiri tak paham arah makna dari tulisan tulisan saya. Saya salut kepada para likers, yang tentunya memahami betul muatannya hingga bersedia melike, dan sekaligus saya mengajukan permohonan, bila saat itu terjadi, bantu saya memahami tulisan yang saya sendiri tidak paham.

Atuh naha teu ngarti mah make ditulis?

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are

 

(Dipublish kali pertama di fesbuk, several times ago)

 

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply