FATAHILLAH, PEMBEBAS JAKARTA Bagian 3

#3 Sunda Kelapa Jalur Perdagangan Baru

 

Rasa penasaran dengan lanjutan tulisan “Fatahillah, Pembebas Jakarta” ini menuntutku harus banyak-banyak lagi mencari referensi sejarah. Kisah Fatahillah ini memang banyak versinya, ada beberapa sumber yang berbenturan ceritanya. Saya memang harus jeli untuk menarik benang merah dari sejarah ini, sehingga sejarah ini tidak hilang begitu saja. Diantara kesibukan dengan aktifitas lainnya dan juga masih dalam posisi Suami Siaga, semangat untuk tetap menulis harus terus di jaga hingga tuntas 30 artikel.

 

Pasca penaklukan Malaka tahun 1511 oleh Portugis membuat para pedagang mulai mencari alternatif jalur perdagangan. Pada dasarnya para pedagang tidak ikut campur dalam urusan kenegaraan Malaka, mereka lebih bersikap netral demi keselamatan diri dan harta miliknya. Lambat laun sepak terjang Portugis di Malaka menunjukkan taringnya, pedagang yang masuk ke Malaka harus tunduk aturan Portugis, perdagangan yang ada dimonopoli oleh Portugis dan dikenakan biaya pajak yang tinggi.

 

Faktor itulah yang menyebabkan pedagang-pedagang mencari jalur perdagangan lainnya yang sebelumnya berpusat di Malaka, pedagang-pedagang merubah jalur melalui pantai barat Sumatera, lalu masuk ke selat Sunda selanjutnya menelusuri pantai utara Jawa menuju kepulauan Indonesia bagian Timur yang menghasilkan rempah-rempah. Sehingga membuat Malaka semakin berkurang intensif perdagangannya. Mereka ada yang ke Aceh, Banten, Demak, Sunda Kelapa, dan lain-lain sehingga pelabuhan-pelabuhan baru yang disinggahi akan menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan menjadi sebuah kota pelabuhan teramai seperti Sunda Kelapa.

 

Portugis menyadari itu semua, ternyata Malaka bukanlah produsen dari semua rempah-rempah yang mereka cari. Dan dengan diterapkannya politik monopoli serta upaya kristenisasi oleh Portugis peranan Malaka sebagai pusat perdagangan Asia jadi terganggu. Guna mempertahankan fungsi Malaka sebagai pelabuhan transito, kapal-kapal Portugis melakukan pelayaran kearah timur Indonesia sesuai petunjuk para Nahkoda dari India, dan Maluku adalah tujuannya.

 

Sunda Kelapa menjadi pelabuhan terbesar setelah Malaka ditinggalkan oleh pedagang-pedagang. Pelabuhan sunda kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki oleh Kerajaan Sunda, selain Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Sunda Kelapa juga merupakan pelabuhan terpenting Kerajaan Sunda karena dapat ditempuh dari ibu kota kerajaan dalam tempo dua hari. Sunda Kelapa terbujur sepanjang satu – dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit di sungai Ciliwung, yang sungainya bisa dimasuki 10 kapal dagang dengan kapasitas 100 ton. Sedangkan kapal-kapal besar yang mempunyai kapasitas 500-1.000 ton harus berlabuh di depan pantai.

 

Pesatnya perkembangan perdagangan di pelabuhan Sunda Kelapa juga membuat penyebaran agama Islam di wilayah kerajaan Sunda berkembang, penyebaran agama Islam dibawa oleh pedagang-pedagang Muslim. Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh pedagang-pedagang Muslim berlangsung secara damai tanpa kekerasan, bahkan ada beberapa keluarga Istana yang memeluk agama Islam. Tapi Raja Sri Baduga Maharaja yang berkuasa pada saat itu merasa resah dengan perkembangan agama Islam di wilayahnya. Walaupun ingin mendapatkan keuntungan dari kedatangan pedagang muslim, Raja Sunda juga merasa khawatir dengan penyebaran Islam yang dilakukan pedagang muslim.

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16] : 125)

 

 

Rate this article!
Tags:
author

Author: