Faktor Penyebab Baby Blues

Baby blues dikenal sebagai kesedihan berkepanjangan yang dapat menyerang ibu setelah melahirkan, Biasanya akan menyerang perempuan yang baru saja merasakan menjadi seorang ibu. Saya pun sempat mengalami baby blues, pasca melahirkan anak pertama saya. Kali ini saya akan berbagi faktor apa yang bisa menyebabkan baby blues terjadi.

  1. Faktor perubahan hormon pada seorang ibu. Usai melahirkan, terjadi perubahan hormon pada tubuh ibu. Kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres) pada tubuh ibu bisa naik hingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi. Sementara itu, di saat yang sama, hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI meningkat, dan kadar progesteron sangat rendah. Sehingga sangat mudah bagi seorang ibu yang baru melahirkan mengalami keletihan fisik dan ketidakstabilan emosi.

 

  1. Trauma masa lalu dari seorang ibu. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Biasanya seorang yang baru menjadi ibu akan meniru apa yang pernah didapatkan dari orang tuanya dahulu, atau siapapun yang mengasuhnya. Bagaimana dengan seorang ibu yang mempunyai riwayat tidak harmonis dengan orang tuanya sendiri? Ibu yang menyimpan trauma masa lalu, akan sangat mudah terpicu stres saat dia dihadapkan di situasi baru menjadi orang tua. Dan sayangnya, terkadang seorang tidak menyadari bahwa dia mempunyai trauma yang belum diselesaikannya, kemudian langsung menjadi orang tua seketika.

 

  1. Faktor kelelahan saat mengurus bayinya. Seorang yang baru saja menjadi ibu akan terkejut dengan perubahan aktivitas kesehariannya. Sebelumnya bisa tidur nyenyak, setelah punya bayi, waktu tidur akan banyak berkurang. Sebelumnya dia bangun pagi, bisa segera mandi dan bersiap-siap merapikan penampilan untuk bekerja, misalnya. Lalu setelah mempunyai bayi, seorang ibu akan terbangun dengan wajah letih karena kurang tidur, tidak sempat menjaga penampilan, disertai aroma ompolan bayi. Kemampuan beradaptasi sangat diperlukan di sini. Dan ibu yang mengurus bayinya sendiri dengan tidak mendapat bantuan akan sangat mudah mengalami kelelahan yang bisa menimbulkan stres pada akhirnya. Kurangnya perhatian, baik dari suami maupun dari lingkungan bisa menjadi pemicu utama.

 

  1. Tuntutan kesempurnaan dari lingkungan. Akan ada banyak sekali nasihat yang ibu terima dari siapapun setelah dia baru saja merasakan menjadi orang tua. Kurangnya pengetahuan sebagai ibu dan terlalu banyak informasi yang diterima, kadang bisa menimbulkan kepusingan tersendiri. Terutama bagi seorang ibu yang perfeksionis. Layaknya orang tua mana pun pasti ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya sendiri. Tuntutan memberikan ASI eksklusif, menjaga bayinya, belum termasuk tuntutan untuk tetap melakukan pekerjaan domestik dan menjaga penampilan diri sendiri. Namun, kita tidak akan pernah bisa mengharapkan kesempurnaan. Sebaiknya seorang ibu memfokuskan pada kebutuhan diri dan bayinya. Akan sangat baik bila menerima pengertian dari lingkungan. Tinggal serumah dengan seorang perfeksionis, juga bisa memicu terjadinya stres pada ibu yang baru melahirkan.

 

  1. Faktor lainnya, seperti adanya persoalan rumah tangga dengan suami, dengan mertua, dan lingkungan lainnya. Bisa juga kondisi bayi yang sering sakit-sakitan. Semua ini bisa memicu stres seorang ibu. Maka, sangat penting bagi seorang ibu, terutama yang baru saja merasakan pertama kalinya menjadi seorang ibu, agar mendapatkan bantuan dari lingkungan sekitarnya, baik bantuan tenaga, dukungan moral, maupun perhatian dan pengertian. Ada baiknya, jangan hanya memperhatikan kebutuhan bayinya, perhatikan juga apa yang sedang dibutuhkan oleh ibunya.
Rate this article!
author

Author: