Etika terhadap Tetangga

Orang-orang yang paling dekat rumahnya dengan rumah kita dan tinggal di sekitar rumah kita adalah tetangga. Pada sebagian orang ada yang memiliki hubungan yang baik dengan tetangga. Namun tidak sedikit yang hubungannya bermasalah dengan tetangganya, bahkan bermusuhan.
Padahal banyak hal positif yang dapat kita rasakan bila kita menjalin hubungan yang baik dengan tetangga. Seperti:
1. Dapat menjadi pengganti saudara yang bisa selalu stand by dan siap membantu kita karena rumahnya berdekatan dengan rumah kita.
2. Dapat menemani kita dan ikut menjaga anak kita saat sedang sendirian di rumah (dengan syarat bukan lawan jenis dan dapat dipercaya).
3. Dapat ikut menjaga rumah kita saat kita sedang pergi, semisal mudik atau pergi ke luar kota dalam waktu yang agak lama.
Selain itu, Allah Swt. juga telah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga. Sebagaimana firman-Nya:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْئًا ۖ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا وَبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنۢبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 36)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Nah, oleh karena itu, kita hendaknya selalu berusaha menjaga hubungan yang baik dengan tetangga, di antaranya dengan beretika yang baik terhadap mereka.
Berikut ini beberapa etika terhadap tetangga:
1. Bila bertemu memberi salam/menyapa dengan baik dan sopan. Hindarilah perkataan yang kasar atau yang dapat menyinggung perasaannya.
2. Bila ada tetangga yang sukses usahanya atau diberi kelimpahan harta, boleh iri secara positif (menjadi termotivasi sehingga menjadi lebih rajin bekerja dan berusaha agar bisa mengikuti jejak kesuksesannya) tapi tidak boleh hasad (tidak senang melihat kenikmatan orang lain).
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra. , pengertian hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah Swt. berikan kepada orang lain (dinukil dari Kitaabul ‘Ilmi, hal. 71) 1)
Sedangkan hasad itu juga dapat menghilangkan kesempurnaan iman. Sebagaimana sabda Nabi Saw. :
“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia menyukai agi saudaranya apa-apa yang ia sukai bagi dirinya.”
(Hadits Shahih: Diriwayatkam oleh al-Bukhari (no.13) Muslim (no.45), an-Nasa-i (VIII/115), at-Tirmidzi (no. 2515), ad-Darimi (II/307), Ibnu Majah (no. 66), dan Ahmad (III/176, 206, 251, 272,278), dari Anas ra.) 2)
Allah Swt. juga dengan jelas telah melarang sifat iri hati yang negatif (hasad) tersebut dalam firman-Nya sebagai berikut:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَسْئَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 32)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Tapi selain iri yang positif, juga ada hasad yang diperbolehkan dalam Islam (disebut ghibthah), yaitu: berharap mendapat seperti apa yang dimiliki oleh seseorang yaitu kebaikan dunia dan agama, namun tidak membenci kedua kebaikan itu dan tidak mengharap hilang dari yang memilikinya.
Rasulullah Saw. bersabda:
Tidak boleh hasad kecuali dalam dua perkara: (1) seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menggunakan harta tersebut dalam berbuat kebajikan (di jalan kebenaran), dan (2) seseorang yang dikaruniai oleh Allah berupa hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”
(Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 73, 1409, 7141, 7316) dan Muslim (no. 816), ini lafazh al-Bukhari, dari Shahabat Ibnu Mas’ud ra.)
Obat Hasad ada 6, yaitu:
– Mendoakan tanpa sepengetahuannya.
– Berusaha mencintainya, menanyakan keadaannya dan.keluarganya.
– Mengunjunginya dan mengakui kelebihannya.
– Memunculkan rasa tidak rela bila ia tidak hadir, diejek atau dicela.
– Mendahulukannya daripada diri sendiri.
– Meminta pendapat atau nasehat kepadanya. 3)
Saya sengaja membahas lebih mendalam tentang larangan iri/hasad khususnya kepada tetangga ini karena setelah melihat banyak masalah yang terjadi dalam kehidupan bertetangga ini yang bermula dari rasa iri/hasad.
Baik, berikutnya saya lanjutkan lagi etika terhadap tetangga.
3. Menjaga privasi masing-masing keluarga dan membatasi pergaulan antar lawan jenis untuk menghindari fitnah.
4. Saling bersilaturahim, khususnya saat hari raya untuk menambah keakraban. Bisa juga dengan saling mengirim makanan atau oleh-oleh.
Sebagaimana hadits berikut ini:
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah), mewasiatkan kepadaku,
إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ
“Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatian penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik.” (HR. Muslim)
5. Berusaha membantu semampu kita. Bila sedang repot dalam menyelenggarakan acara, bisa membantu melalui tenaga atau memberikan saran. Bila sedang mengalami masalah ekonomi, bisa membantunya dengan memberi sedekah. Bila sedang mengalami masalah keluarga, bisa membantunya dengan memberi nasehat dan menutupi aibnya.
6. Tidak saling menggunjing, menghasut, mengadu domba atau memprovokasi antar tetangga.
7. Ketika kita diundang dalam suatu acara, menghadirinya. Dan sebaliknya bila kita akan mengadakan acara, juga mengundangnya.
8. Mengadakan rapat yang tujuannya untuk membicarakan dan menyelesaikan secara bersama bila ada permasalahan di sekitar lingkungan/rumah yang berhubungan dengan kebersihan dan keamanan.
9. Bila terjadi perselisihan atau kesalahpahaman antar tetangga, segera diselesaikan baik-baik, lalu saling meminta maaf agar tidak dendam dan bermusuhan.
10. Sesekali diadakan acara gathering, misalnya dengan wisata atau menikmati kuliner bersama.
11. Ketika tetangga sedang sakit, usahakan untuk menjenguknya dan mendoakan keaembuhannya.
12. Ketika tetangga ada yang meninggal, datanglah bertakziyah, ikut menshalatkan dan mengantar hingga ke pemakamannya.
13. Menghormati adat istiadat atau keyakinan antar tetangga dengan tidak saling menggangu. Karena Rasulullah Saw. juga telah melarang kita untuk mengganggu tetangga dalam sabdanya sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” 
(HR. Bukhari 6016 dan Muslim 46).
Dengan suasana bertetangga yang harmonis, insya Allah akan dapat mendukung kehidupan keluarga yang tenang dan nyaman.
Maka bila kita menginginkan hal tersebut., mari kita selalu menjaga etika dalam bertetangga seperti yang sudah saya sebutkan tadi di atas…. 🙂
————————–
Referensi:
1) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 195
2) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 199
3) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 200-201

Rate this article!
Etika terhadap Tetangga,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply