Etika Terhadap Sahabat/Teman

Ada sebuah kutipan tentang teman dan sahabat sebagai berikut:
Menjadi seorang teman adalah pekerjaan mudah, tapi persahabatan adalah buah yang lama berbuah


—Aristoteles
Dari kutipan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan antara teman dan sahabat. Yaitu dalam hal kualitas dan kematangan dalam hubungannya.
Teman adalah orang yang kita kenal melalui perjumpaan di suatu tempat, acara, atau kegiatan. Bisa di sekolah, di acara resepsi, atau di kegiatan yang melibatkan beberapa orang atau kelompok.
Bahkan seorang teman bisa juga kita kenal melalui media sosial. Sifat pertemanan ini hanyalah sekedar perkenalan biasa saja. Sekedar saling mengetahui identitas masing-masing dan tidak mendalam.
Sedangkan sahabat adalah teman baik, teman dekat atau teman akrab. Sahabat adalah teman yang sudah saling memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Teman yang sudah seperti saudara sendiri.
Kata “sahabat” secara etimologi berasal dari bahasa Arab shahabah (ash-shahaabah, الصحابه) yang pada mulanya merujuk pada sahabat Nabi.
Dalam Islam ada beberapa kutipan tentang sahabat seperti berikut ini:
Seorang teman tidak bisa dianggap sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan; pada saat dibutuhkan, sikapnya di belakang kamu, dan setelah kematianmu. –
Ali bin Abi Thalib
Teman sejatimu adalah orang yang memperingatkanmu untuk peduli terhadap urusan akhiratmu. – Abdul Qadir Jillani
Demi menjalin hubungan persahabatan dan pertemanan yang semakin baik dan terhindar dari semua hal yang bisa merusak atau merengggangkannya, ada beberapa etika yang harus kita jaga di sini. Di antaranya, sebagai berikut:
1. Bila bercanda tidak berlebihan, tidak bicara atau bersikap yang kasar dan tidak saling memanggil dengan panggilan yang tidak pantas.
2. Menjadi sahabat/teman yang ‘apa adanya’ (tulus) bukan ‘ada apanya’ (karena ada maunya/ada maksud tertentu)
3. Tidak saling menggunjing, berprasangka buruk dan mengadu domba.
Allah SWT berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)
* Via Al-Qur’an Indonesia
4. Bila salah seorang sahabat/teman berbuat salah atau terjadi kesalahpahaman, hendaknya diselesaikan secara baik-baik, kemudian saling meminta maaf untuk menghindari dendam dan permusuhan.
5. Biasakan saling tolong menolong dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam keburukan.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعٰٓئِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْىَ وَلَا الْقَلٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوٰنًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوٰنِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban), dan Qalaid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”


(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2)
* Via Al-Qur’an Indonesia
6. Mengingatkan bila sahabat/teman melakukan perbuatan yang melanggar hukum pemerintahan atau ajaran agama dengan berprinsip pada amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran).
7. Mendukung dan memotivasi sahabat/teman saat sedang mengikuti suatu kegiatan atau lomba.
8. Memberi ucapan selamat saat kegiatan atau lomba yang diikutinya sukses dan menghibur/membesarkan hatinya saat mengalami kegagalan.
9. Bila ada sahabat/teman yang sedang mengalami masalah, jadilah tempat curhat dan pendengar yang baik, lalu memberi saran/ nasehat untuk membantu mengatasi masalahnya.
Jarir ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila salah seorang kamu minta nasehat kepada kawannya, hendaklah kawannya memberi nasehat kepadanya
(HR. Bukhari) 1)
10. Membiasakan saling mengucap salam bila bertemu. Ketika bersin dan mengucap “Alhamdulillah” balaslah dengan doa “Yarhamukallah” (khusus untuk sahabat/teman yang muslim)
11. Untuk menambah keakraban, bila tempat tinggalnya berjauhan, sesekali bisa saling bersilaturahmi, atau berwisata bersama atau saling berkirim surat. Dan harus ada batasan yang tidak melanggar ajaran agama (khususnya bila sahabat/temannya lawan jenis).
12. Jika sahabat/ teman sedang sakit, maka kunjungi dan doakan untuk kesembuhannya.
13. Ketika salah seorang sahabat/teman (yang lawan jenis) telah diikat dalam suatu hubungan pernikahan, sebaiknya kita mengakhiri komunikasi secara on line dan off line untuk menghormati suami/istri mereka. Juga supaya tidak mengganggu pernikahan/rumah tangga mereka.
14. Bila sahabat/teman melangsungkan pernikahan, hadirilah undangan pernikahannnya. Dan bila kita yang akan melangsungkan pernikahan, jangan lupa pula untuk mengundang mereka.
15. Jika ada sahabat/teman yang berpulang ke hadirat Allah Swt. maka datanglah untuk bertakziyah dan mengantar menuju ke peristirahatan terakhirnya.
Nabi Saw. bersabda: “Hak seorang muslim atas muslim lain ada 6, yaitu: Jika bertemu, berilah salam kepadanya. Jika diundang, datangilah. Jika minta nasehat, berilah nasehat. Jika bersin dan membaca Alhamdulillah, doakanlah. Jika sedang sakit, kunjungilah. Jika meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya.


(HR. Muslim) 2)
Begitulah beberapa etika yang harus kita terapkan saat kita mempunyai sahabat/teman agar indahnya persahabatan/pertemanan dapat terjaga, namun tetap mengikuti ketentuan dari Allah Swt dan Rasulullah Saw. sehingga tak salah arah dan tidak menjadi penyebab kerusakan rumah tangga sahabat/teman kita.
—————————-
 
Referensi:
 
1) Buku “274 Hadits dan Doa Pilihan Nabi Saw.”, terjemahan Al Ustadz Abdullah Umar Khoyyath, penerbit: Pustaka Amani Jakarta, hal: 14.
 
2) Buku “274 Hadits dan Doa Pilihan Nabi Saw.”, terjemahan Al Ustadz Abdullah Umar Khoyyath, penerbit: Pustaka Amani Jakarta, hal: 14.

Rate this article!
Tags:
author

Author: