Etika terhadap Pemeluk Agama Lain

Dalam hidup bermasyarakat, kita tak hanya diciptakan oleh Allah Swt. dalam jenis kelamin yang berbeda (pria dan wanita), namun juga berbeda ras dan suku bangsa. Ada ras Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid. Ada suku Jawa, Sunda, Batak, dan lain-lain.. Tujuan Allah Swt. dalam menciptakan semua perbedaan ini adalah untuk saling mengenal.

 

Allah Swt. berfirman:

 

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَأُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom

 

Selain itu dalam masyarakat kita juga mengenal ada berbagai pemeluk agama. Ada pemeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Mereka hidup berdampingan bersama di negara kita.

 

Di antara keluarga dan teman saya sendiri juga ada pemeluk agama yang berbeda dengan agama saya. Tapi ahamdulillah hubungan di antara kami berjalan dengan baik dan saling menghormati agama/keyakinan masing-masing.

 

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai muslimah dalam hubungannya dengan teman atau saudara yang non muslim, ada beberapa etika terhadap non muslim atau antar pemeluk agama yang harus dijaga agar hubungan tetap terjalin dengan baik, tapi tanpa mengganggu keyakinan masing-masing:

1. Berkata dan bersikap yang baik.

 

2. Terhadap karyawan yang berbeda agama, sediakan tempat, perangkat dan waktu beribadah untuknya, serta berilah kesempatan untuk libur di hari besar keagamaannya.

 

3. Dalam suatu kegiatan bersama kawan yang berbeda agamanya dengan kita, saat ia ingin melakukan ibadah, berilah kesempatan/waktu untuk menunaikannya.

 

4. Jangan memaksa seorang pemeluk agama lain untuk pindah agama.

 

Sebagaimana firman-Nya sebagai berikut:

 

لَآ إِكْرَاهَ فِى الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom

 

5. Dalam hal muamalah (hablumminannaas) , kita dapat bekerjasama dengan orang non muslim, tapi tidak dalam hal aqidah/ ibadah.

 

Allah Swt. berfirman:

 

قُلْ يٰٓأَيُّهَا الْكٰفِرُونَ

 

“Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 1)

 

لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

 

“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 2)

 

وَلَآ أَنْتُمْ عٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ

 

“dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 3)

 

وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ

 

dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 4)

 

وَلَآ أَنْتُمْ عٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ

 

“dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 5)

 

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

 

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom.
6. Memberi perlakuan yang sama dalam hal perlindungan keamanan terhadap non muslim.

Allah Swt. berfirman:

 

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۥ ۚ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ

 

“Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui.”

 

(QS. At-Taubah 9: Ayat 6)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom

 

6. Tidak membeda-bedakan dalam hal pelayanan masyarakat.

 

7. Bila berdakwah, sampaikan dengan cara yang baik.

 

Allah Swt. berfirman:

 

ادْعُ إِلٰى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجٰدِلْهُمْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom

 

Mereka yang berbeda agamanya dengan kita bagaimanapun adalah sesama manusia yang harus kita hormati dan hargai.

 

Maka indahnya perbedaan akan kita rasakan di saat dalam semua perbedaan itu terjalin hubungan yang harmonis.

Rate this article!
Tags:
author

Author: