Etika Terhadap Orangtua

Siapapun kita pastilah mempunyai orangtua, yaitu ayah dan ibu kita. Karena melalui mereka berdualah kita terlahir di dunia ini.

 

Selama 9 bulan ibu menjaga kita dengan baik dalam rahimnya, hingga melahirkannya dengan susah payah. Sejak melahirkan, sebagian besar waktunya ia korbankan untuk merawat dan membimbing kita dengan penuh kesabaran.
Dengan melihat betapa besar jasa dan pengorbanan seorang ibu, Rasulullah Saw. pun sampai memerintahkan kita untuk lebih mengutamakan bakti kita kepada ibu, sebagaimana hadits berikut ini:
Abu Hurairah ra. menuturkan ada seorang lelaki menghadap Rasulullah Saw. Kemudian ia bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku?”
Rasulullah Saw. menjawab, “Ibumu.”
“Kemudian siapa?”
“Ibumu.”
“Setelah itu siapa?”
“Ibumu.”
“Dan siapa lagi?”
“Bapakmu.”
(HR. Muslim) 1)
Berkat kasih sayang dan kesabaran ibu dan ayah dalam membimbing dan merawat sang buah hati, banyak “keajaiban” yang terjadi dalam setiap proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Dari yang semula hanya bisanya tidur, minum susu, dan menangis.., seiring dengan berjalannya waktu menjadi bisa merangkak, duduk, berdiri, berjalan bahkan berlari dan melompat. Celoteh pertama yang disambut dengan gembira oleh ibu dan ayah juga mulai berkembang terus berkat bimbingan mereka hingga menjadi lancar berbicara. Perkembangan kecerdasan juga semakin meningkat saat seorang anak sudah mulai bisa membaca, menggambar dan berhitung.
Kesemuanya itu merupakan hasil dari kerjasama yang baik antara ibu dan ayah dalam membimbing, merawat dan mengasuh buah hatinya. Seorang ibu biasanya yang berperan langsung dalam melahirkan, merawat dan mengasuhnya.
Sedangkan seorang ayah meskipun tidak langsung terlibat dalam pengasuhan buah hatinya, ia bekerja dengan sepenuh hati demi memberi nafkah keluarganya. Sehingga biaya kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah buah hatinya dapat terpenuhi.
Semua perhatian, bimbingan, pengorbanan dan perjuangan orangtua tersebutlah yang sesungguhnya dapat membawa pada keberhasilan putra putrinya. Terlebih mereka sering menyelipkan doa untuk buah hatinya. Sedangkan doa orangtua itu makbul (akan dikabulkan) oleh Allah Swt. Sebagaimana hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.”
(HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).
Maka wajiblah bagi kita untuk membalas semua yang telah orangtua lakukan tadi dengan cara berbakti terhadap mereka. Allah Swt. juga telah memerintahkan kepada kita agar berbakti dan berbuat baik terhadap orangtua.
Sebagaimana firman-Nya sebagai berikut:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسٰنَ بِوٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ ۥ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَفِصٰلُهُ ۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِى وَلِوٰلِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ
wa washshoinal-insaana biwaalidaiih, hamalat-hu ummuhuu wahnan ‘alaa wahniw wa fishooluhuu fii ‘aamaini anisykur lii wa liwaalidaiik, ilayyal-mashiir
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman 31: Ayat 14)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Salah satu bentuk bakti kita terhadap orangtua adalah dengan beretika yang baik terhadap mereka.
Berikut ini adalah beberapa etika yang wajib kita tunjukkan terhadap orangtua:
1. Bersikap merendah (santun) dan mendoakan mereka.
Allah SWT berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
wakhfidh lahumaa janaahaz-zulli minar-rohmati wa qur robbir-ham-humaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 24)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com
Dalam hal ini maksud merendahkan diri terhadap orangtua adalah berkata dengan suara yang lembut dan tidak bersikap sombong terhadap mereka.
Jadi meskipun nanti kita telah menjadi orang yang sukses dan mempunyai harta berlimpah, janganlah menunjukkan sikap dan cara bicara yang angkuh terhadap mereka. Karena hal tersebut dapat menyakiti hati orangtua. Sedangkan menyakiti hati orangtua termasuk perbuatan durhaka.
Lebih baik mendoakan orangtua kita saja agar Allah Swt. senantiasa mengampuni kesalahan mereka dan menyayangi mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kita sejak kecil.
2. Jangan berkata ah, cih, atau apapun yang semacam itu dan jangan membentak orangtua. Tapi ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap mereka.
Allah Swt. berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
wa qodhoo robbuka allaa ta’buduuu illaaa iyyaahu wa bil-waalidaini ihsaanaa, immaa yablughonna ‘indakal-kibaro ahaduhumaaa au kilaahumaa fa laa taqul lahumaaa uffiw wa laa tan-har-humaa wa qul lahumaa qoulang kariimaa
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com
Semakin bertambah usia orangtua kita, biasanya sikapnya cenderung menjadi kekanakan dan pikun. Pada saat itu sebaiknya kita tetap sabar dalam menghadapi mereka.
Ingatlah, bahwa dulu mereka juga telah bersabar mengasuh kita dengan segala polah tingkah yang mungkin pernah membuat mereka letih dan kesal.
Jangan pernah sekalipun membentak mereka atau berkata ah atau cih dan semacamnya saat mereka meminta tolong.
3. Mendengarkan dengan baik saat mereka mengajak berbicara.
Jangankan orangtua…, kita sendiri pasti akan senang bila sedang berbicara, bercerita dan curhat lalu ada yang mau menyimak dan mendengarkan dengan baik.
Maka jadilah pendengar yang baik, khususnya bagi orangtua kita. Karena hal tersebut menunjukkan pada besarnya perhatian kita terhadap mereka.
4. Memperhatikan dengan baik saat mereka sedang memberi nasehat, lalu mengikuti sesuai dengan apa yang telah dinasehatkan/dipesankan sepanjang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Al Hadits.
Kalau orangtua sering memberikan nasehat kepada kita itu bukan karena mereka rewel atau cerewet terhadap kita.
Sebenarnya mereka hanya berkeinginan agar kita menjadi anak yang shaleh/shalehah dan tidak terjerumus pada perbuatan salah yang bisa merugikan/membahayakan kita.
Hal tersebut menunjukkan betapa sayangnya mereka terhadap kita. Maka dengarkan baik semua nasehat mereka dan patuhilah sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama kita.
5. Membantu pekerjaan orangtua semampu kita agar dapat meringankan beban mereka.
Dalam bekerja sehari-hari, baik untuk mencari nafkah maupun mengurus rumah tangga, orangtua kita terkadang harus bekerja sampai petang. Tentu hal ini sangat meletihkan mereka.
Meskipun mereka tidak pernah mengeluh, tapi sebaiknya kita berempati terhadap kesibukan mereka dengan cara ikut membantu pekerjaan mereka semampu kita.
Bisa juga kita membantu mereka dengan cara mencoba usaha kecil-kecilan sesuai minat dan bakat yang hasilnya bisa digunakan untuk uang jajan atau membayar uang sekolah. Siapa tahu usaha tersebut malah menjadi rintisan untuk usaha kita di masa depan.
6. Menjaga nama baik orangtua.
Dalam bermasyarakat, kita harus hati-hati dalam berperilaku. Karena sekalinya kita salah melangkah dan melakukan perbuatan yang melanggar hukum atau ajaran agama, nama baik kita dan orangtua akan tercoreng.
Saat orangtua menanggung malu atas perbuatan kita tersebut, tak hanya hatinya sedih. Kadang bahkan dapat membuatnya sakit karena memikirkan perbuatan kita.
Maka jangan gegabah dalam berperilaku. Jangan berpikir sesaat hanya untuk kesenangan yang tak seberapa.
7. Mengajak orangtua untuk tinggal bersama kita, terutama saat kondisi fisik/mentalnya sudah melemah.
Saat usia orangtua kita semakin menua, pada saat itu baik fisik maupun mentalnya juga menjadi melemah. Saatnya bagi kita untuk membalas jasa dengan mengajak mereka untuk tinggal di rumah kita supaya kita dapat menjaga dan merawat mereka dengan baik.
Jangan malah menitipkan mereka di panti jompo walau kita mampu membiayainya. Karena hal tersebut berarti menghilangkan kesempatan emas kita untuk berbakti dengan sebaik-baiknya terhadap mereka di sisa umur mereka.
8. Mencurahkan perhatian terhadap orangtua.
Masih ingatkah teman, saat dulu orangtua sering membawakan oleh-oleh untuk kita sesudah bepergian,  ketika kita masih anak-anak? Waktu itu rasanya senang sekali ya teman-teman…Oleh-oleh dari orangtua menjadi barang yang selalu kita harapkan.. 🙂
Nah, setelah kita semakin dewasa, apalagi sudah berumahtangga, bila kita sedang berkunjung ke rumah orangtua, bawalah oleh-oleh untuk mereka. Pilihlah barang atau makanan yang mereka sukai. Nanti kita akan ikut merasa bahagia saat melihat senyum dan sinar mata mereka yang terpancar gembira saat menerima oleh-oleh tersebut.
Perhatian yang lain bisa juga diberikan dalam bentuk mengirimi uang setiap bulan untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, memberangkatkan haji, mengajak umrah bersama, wisata bersama, jalan-jalan keliling kota sekedar mencicipi kuliner, sering menelepon dan berkunjung ke rumahnya, dan masih banyak lagi..
9. Mengeluarkan sedekah atas nama orangtua.
Saat kita mengeluarkan sedekah, sesekali dapat kita niatkan untuk bersedekah atas nama orangtua kita, khususnya saat mereka sudah meninggal dunia. Tujuannya agar orangtua dapat memperoleh pahala sedekah tersebut.
Abu Hurairah ra. mengabarkan, ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.
“Ya Rasulullah, bapakku sudah meninggal dunia. Beliau meninggalkan harta tetapi tidak memberi wasiat mengenai harta peninggalannya itu. Dapatkah harta-harta itu menghapus dosa-dosa beliau, bila aku sedekahkan atas namanya?”
Nabi Muhammad Saw. menjawab, “Ya, dapat.”
(HR. Muslim) 2)
10. Menggantikan kewajiban orangtua dalam melaksanakan ibadah haji
Saat orangtua kita semakin tua dan fisiknya makin melemah sedangkan mereka memiliki kondisi ekonomi yang memungkinkan untuk melaksanakan ibadah haji, kita dapat menggantikan mereka dengan niat menunaikan kewajiban tersebut. Hadits di bawah ini dapat kita jadikan dasar dalam membolehkannya.
Abdullah bin Abbas ra. menceritakan, Fadhal bin Abbas yang masih kecil pernah membonceng di unta yang ditunggangi Rasulullah Saw. Pada saat itu datanglah seorang wanita dari Khots’am meminta fatwa kepada beliau. Fadhal melihat kepada wanita itu, dan wanita itupun memandang Fadhal. Lalu Rasulullah Saw. memalingkan wajah Fadhal ke arah lain
“Ya Rasulullah, ” panggil wanita itu. Kewajiban menunaikan ibadah haji terpikul kepada bapakku yang sudah tua. Beliau sudah tudak sanggup lagi dudul di atas kendaraan lama-lama. Bolehkah aku menggantikan beliau?”
Nabi Muhammad Saw. menjawab, “Ya, boleh,”
Tanya jawab itu terjadi ketika haji wada’
(HR. Muslim)
Dalam hadits tersebut juga menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. ingin mengajarkan Fadhal yang masih kecil untuk menundukkan pandangan matanya dari wanita dewasa. 3)
11. Melaksanakan nadzar, wasiat dan melunasi hutang orangtua.
Semasa hidupnya ada beberapa orang yang mungkin pernah bernadzar karena ingin sembuh dari sakitnya atau tercapai keinginannya.
Pada saat keinginan telah tercapai atau penyakitnya telah sembuh, namun ajal tiba-tiba datang menjemputnya. Padahal nadzarnya belum terpenuhi atau baru terpenuhi sebagian darinya.
Bila orangtua kita yang mempunyai nadzar, kita dapat membantu dalam melaksanakannya saat orangtua kita telah berpulang dan belum sempat menyelesaikannya.
Ibnu Abbas ra. menceritakan, saad bin ‘Ubadah pernah meminta fatwa pada Nabi Muhammad Saw. mengenai nadzar ibunya yang telah meninggal dunia tapi belum sempat menunaikannya. Lalu Rasulullah Saw. bersabda,” Bayarlah olehmu atas namanya.”
(HR. Muslim) 4)
Begitupun bila orangtua mempunyai wasiat atau hutang namun belum terlunasi saat mereka telah berpulang ke hadirat-Nya. Bantulah mereka dengan segera memenuhi dan menyelesaikan semuanya itu agar tidak menjadi beban bagi mereka di akhirat nanti.
12. Menjalin hubungan baik dengan sahabat ayah.
Ternyata bila kita menjalin hubungan baik dengan sahabat atau rekan ayah kita sepeninggalnya juga merupakan salah satu perbuatan baik yang bisa kita lakukan demi bakti kita kepadanya.
Rasulullah Saw. bersabda, ” Sesungguhnya di antara kebaikan yang paling baik adalah seorang anak menyambung hubungan dengan teman ayahnya sepeninggalnya.”
(Hadits Shahih: diriwayatkan oleh Muslim, no. 2552(11), dari Shahabat Ibnu ‘Umar ra.) 5)
Demikianlah beberapa etika yang wajib kita lakukan terhadap orangtua kita. Sesungguhnya dengan semua etika yang tak lain merupakan perwujudan dari bakti kita terhadap orangtua tersebut, ternyata dapat membuka pintu surga bagian tengah untuk akhirat kita nanti.
Nah, akhirnya semua kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita akan menyia-nyiakannya atau mengambil kesempatan emas ini?
Sebagaimana hadits berikut ini:
“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Engkau bisa sia-siakan pintu itu atau engkau bisa menjaganya.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
——————————
Referensi:
1) Buku “Ridho Allah tergantung Ridho Orangtua”, penulis: Syamsul Rijal Hamid, penerbit: Cahaya Salam, distributor: PT. Bhuana Ilmu Populer, hal. 80.
2) Buku “Ridho Allah tergantung Ridho Orangtua”, penulis: Syamsul Rijal Hamid, penerbit: Cahaya Salam, distributor: PT. Bhuana Ilmu Populer, hal. 69.
3) Buku “Ridho Allah tergantung Ridho Orangtua”, penulis: Syamsul Rijal Hamid, penerbit: Cahaya Salam, distributor: PT. Bhuana Ilmu Populer, hal. 56-57.
4) Buku “Ridho Allah tergantung Ridho Orangtua”, penulis: Syamsul Rijal Hamid, penerbit: Cahaya Salam, distributor: PT. Bhuana Ilmu Populer, hal. 68
5) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 141-142

Rate this article!
Etika Terhadap Orangtua,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: