Etika terhadap Lawan Jenis

Allah Swt. telah menciptakan semua makhluk-Nya berpasang-pasangan. Ada jantan dan betina. Ada pria dan wanita. Tujuannya adalah untuk saling mengenal, saling melengkapi dan melanjutkan keturunannya.
Allah Swt. berfirman:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوٰجًا ۚ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثٰى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُّعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِى كِتٰبٍ ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. Fatir 35: Ayat 11)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Namun di antara semua makhluk ciptaan-Nya, hanya manusia yang diberikan rambu-rambu oleh Allah Swt. dan Rasulullah Saw. dalam berinteraksi antara pria dan wanita.
Karena manusia tercipta memiliki akal pikiran dan hawa nafsu. Dan sudah merupakan kodratnya bila antara pria dan wanita dapat timbul rasa ketertarikan satu sama lain, karena dorongan naluri dan hawa nafsunya.
Maka dengan adanya rambu-rambu yang Allah Swt. tetapkan di Al Qur’an dan yang Rasulullah Saw. tuntunkan dalam Al Hadits, diharapkan manusia dengan akal pikirannya sanggup mengelola dan mengendalikan hawa nafsunya agar terhindar dari fitnah. Karena fitnah antara wanita dan pria adalah ujian hidup  yang membahayakan.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.”
(HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no.7122)
Seperti yang sering kita lihat dan dengarkan di berita-berita nasional, bahkan di sekitar kita betapa semakin merebaknya kasus yang terjadi karena tak bisa mengendalikan hawa nafsu. Seperti terjadinya pelecehan seksual, perselingkuhan, perkosaan, pelacuran, dan lain-lain.
Nah, sekarang mari kita pelajari rambu-rambu dari Allah Swt. dan Rasulullah Saw. yang dapat kita aplikasikan dalam bentuk etika.
»» Etika Pria terhadap Wanita:
 
1. Menundukkan pandangan/ mencegah pandangan yang liar terhadap wanita.
Allah Swt. berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذٰلِكَ أَزْكٰى لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 30)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Pandangan mata itu (laksana) anak panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barangsiapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan perempuan maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya, yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu dengan Tuhannya.”
(HR. Ahmad) 1)
2. Tidak mengganggu dan menggoda baik secara lisan maupun tertulis (lewat media sosial/surat).
3. Tidak menyentuh fisik wanita kecuali dalam kondisi darurat (misal, dokter yang akan memeriksa atau mengobati).
Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya salah seorang di antaramu ditikam dari kepalanya dengan jarum dari besi lebih baik daripada menyentuh seseorang yang bukan mahramnya.”
(HR. Thabrani) 2)
4. Tidak berkata dan bersikap kasar atau memanggil wanita dengan panggilan yang tidak pantas.
5. Tidak melakukan pelecehan seksual terhadap wanita baik secara verbal, tertulis maupun dalam tindakan.
6. Tidak berduaan dengan wanita dalam suatu tempat (berkhalwat) karena bisa mengundang fitnah dan bisa menjadi penyebab timbulnya perzinaan.
Rasulullah Saw. bersabda:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka jangan sekali-kali dia bersunyi-sunyi dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaithan.”
(HR. Ahmad) 3)
»» Etika Wanita terhadap Pria:
1. Menundukkan pandangan.
2. Memelihara kemaluan.
3. Menjaga/menutup auratnya dengan kain kerudung hingga ke dadanya.
Allah Swt. berfirman:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُهُنَّ أَوِ التّٰبِعِينَ غَيْرِ أُولِى الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 31)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
2. Memiliki rasa malu hingga tidak melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan harga dirinya. Rasa malu adalah perhiasan bagi wanita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
(HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
3. Menjaga martabat sebagai seorang wanita dengan tidak mengganggu dan menggoda pria, baik secara lisan maupun tertulis (lewat media sosial/surat).
4. Tidak menyentuh fisik pria kecuali dalam kondisi darurat (misal, dokter yang akan memeriksa atau mengobati).
5. Tidak berkata dan bersikap kasar atau memanggil pria dengan panggilan yang tidak pantas.
6. Menolak bila diajak berduaan dengan pria dalam suatu tempat (berkhalwat) karena bisa mengundang fitnah dan bisa menjadi penyebab timbulnya perzinaan.
Dengan mencegah diri dari perbuatan zina, maka sesunggguhnya kita telah menghindarkan diri dari perbuatan keji dan jalan yang buruk.
Sebagaimana firman Allah Swt. :
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ ۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ فٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
—————————
Referensi:
1) Buku “Mengapa Banyak Larangan? – Hikmah dan Efek Pengharaman”, penulis: Tauhid Nur Azhar, penerbit: Tinta Medina, hal: 3.
2) Buku “Mengapa Banyak Larangan? – Hikmah dan Efek Pengharaman”, penulis: Tauhid Nur Azhar, penerbit: Tinta Medina, hal: 16.
3) Buku “Panduan Wanita Sholihah – Serial Buku Pintar Akhwat”, editor: Abu Fathan, penerbit: Asaduddin Press, hal: 19.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply