Etika Terhadap Keluarga/Saudara

Pada dasarnya pengertian keluarga terbagi menjadi dua macam. Ada keluarga inti, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak atau suami, istri dan anak. Ada juga keluarga besar, yang terdiri dari keluarga inti, kakek, nenek, paman, bibi, saudara kandung, saudara sepupu, keponakan, cucu, mertua, menantu dan saudara ipar.
Yang akan saya bahas di sini adalah tentang etika terhadap keluarga besar. Karena pada pembahasan sebelumnya, saya sudah menguraikan tentang beberapa etika terhadap keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu (orangtua) dan anak.
Nah, untuk etika terhadap keluarga besar yang termasuk di dalamnya ada pengertian keluarga inti yang lain (suami dan istri) akan saya uraikan bersama pembahasan tentang etika terhadap anggota keluarga besar yang lain.
»» Etika terhadap Suami:
1. Menghomati dan taat pada suami sepanjang tidak berlebihan dan tidak melanggar Al Qur’an dan Al Hadits.
2. Menjaga kehormatan diri dan setia terhadap suami.
3. Melayani suami dan keluarga (dalam segala urusan rumah tangga).
4. Menjaga penampilan dan kebersihan diri.
5. Menjaga rahasia rumah tangga.
6. Menjaga harta suami.
7. Berhati-hati dalam bergaul dengan orang lain, khususnya dengan lawan jenis.
8. Tidak memakai make up, parfum dan pakaian yang berlebihan (yang terbuka auratnya) saat di luar rumah.
9. Meminta izin kepada suami bila akan keluar rumah atau menggunakan hartanya.
10. Menemani suami ketika sedang makan dan saat sakit.
11. Mendukung suami dan membantu pekerjaannya secara moril dan materiil (bila istri juga bekerja)
12. Menjadi teman bicara, pendengar dan tempat curhat yang baik bagi suami dengan membantu memberi solusi atau menghiburnya saat sedang ada masalah.
13. Selalu berterima kasih dan bersyukur atas pemberian suami dan pengertian dengan segala kondisi suami.
Istri yang memiliki etika yang baik semacam itulah yang disebut istri shalihah dan menjadi perhiasan dunia yang terbaik.
Rasulullah Saw. bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”
(Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar)
Beliau juga bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.”
(HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)
Keutamaan seorang istri yang shalihah telah disebutkan dalam hadits berikut ini:
Rasulullah Saw. berkata:
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”
(HR. Ahmad 1/191)
»» Etika terhadap Istri
1. Bersikap dan berkata lembut.
2. Sesekali ikut membantu istri dalam  pekerjaan rumah tangganya.
3. Ikut terlibat dalam pengasuhan anak.
4. Bertanggung jawab dalam memberi nafkah istri dan anaknya.
5. Melindungi istri dan anak dari berbagai bahaya di manapun dan kapanpun.
6. Menyediakan tempat tinggal yang nyaman serta aman untuk istri dan anak.
7. Menundukkan pandangan, berhati-hati saat berkomunikasi dengan lawan jenis dan menjaga hubungan yang setia dengan istri.
8. Menghargai masakan istri.
9. Siap mengantar istri ketika sedang akan keluar rumah untuk suatu keperluan.
10. Siap mengantar istri berobat/membelikan obat ketika istri sedang sakit.
11. Sesekali memberikan hadiah baju, mengajak wisata atau kejutan lain untuk menyenangkan istri.
12. Menjaga rahasia rumah tangga.
13. Bersikap terbuka dan jujur dalam berkomunikasi dengan istri.
Seorang suami yang memiliki semua etika itu terhadap istrinya, bisa dikatakan sebagai suami yang shalih.
Rasulullah Saw. pun telah memberikan contoh bagaimana seharusnya sikap yang baik sebagai suami dan kepala keluarga sebagaimana sabdanya berikut ini:
«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى»
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku”
HR at-Tirmidzi (no. 3895) dan Ibnu Hibban (no. 4177), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.
Allah Swt. juga telah berfirman dalam Al Qur’an tentang bagaimana seharusnya seorang istri/suami beretika hingga dikatakan shalihah/shalih sebagai berikut:
الرِّجَالُ قَوّٰمُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَبِمَآ أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوٰلِهِمْ ۚ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَالّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
»» Etika terhadap Keluarga Besar secara keseluruhan.
1. Terhadap anggota keluarga besar yang sudah dewasa dan berumahtangga:
– Hendaknya saling menghargai privasi keluarga masing-masing.
– Saling pengertian, kompak dan tolong menolong.
– Bila terjadi kesalahpahaman, segera diselesaikan dengan cara yang baik dan bijaksana.
– Dibiasakan saling bersilaturrahim dan mengirim makanan untuk menambah keakraban dalam keluarga.
– Sesekali diadakan acara kumpul keluarga besar atau wisata bersama untuk lebih mempererat hubungan kekeluargaan.
2. Terhadap anggota keluarga besar yang masih anak-anak dan remaja:
– Kompak, saling menghargai dan saling tolong menolong.
– Saat ada yang berulangtahun bisa saling mengirim kado atau ucapan selamat.
– Menjalin hubungan baik dan keakraban dengan saling berkunjung atau jalan-jalan bersama, namun tetap dalam batasan yang tidak melanggar ajaran agama.
Dengan saling menjaga etika yang baik antar keluarga inti dan keluarga besar, maka akan terjalin sebuah keharmonisan keluarga dan terhindarkan dari semua permasalahan/perpecahan keluarga.
Bagi yang memutuskan hubungan silaturahmi bahkan mendapat ancaman tidak akan masuk surga.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :
“Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi”
(Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5984) dan Muslim (no. 2556), dari Jubair bin Muth’im ra. ) 1)
Dan bagi yang menyambung silaturahmi hikmahnya adalah diperluas rejekinya dan dipanjangkan umurnya oleh Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :
“Barangsiapa yang suka diluaskan.rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5986) dan Muslim (no. 2557(21)), dari Shahabat Anas ra.) 2)
Sedemikian pentingnya jalinan hubungan yang baik dalam sebuah keluarga, maka sedekahpun lebih utama diberikan terlebih dahulu kepada keluarga kita sebelum diberikan kepada orang miskin yang bukan keluarga kita.
Sebagaimana sabda Rasululllah saw. :
“Shadaqah kepada orang miskin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada kerabat mendapat dua: shadaqah dan menyambung kekerabatan.”
(Hadits Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 658), an-Nasa-i (V/92), Ibnu Majah (no. 1844), dan ad-Darimi (I/397), lafazh hadits ini milik Ibnu Majah, dari Shahabat Salman bin ‘Amir adh-Dhabbi ra. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykaatul Mashaabiih (no. 1939). 3)
————————-
Referensi:
1) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 152.
2) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 152.
3) Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” , penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit: Pustaka At Taqwa, hal: 153.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply