Etika Terhadap Anak

Selama ini bila membicarakan tentang etika, biasanya yang terpikir dalam benak kita adalah bagaimana seharusnya bersikap baik terhadap orangtua dan siapapun yang lebih tua daripada kita. Padahal sikap dan perlakuan yang baik terhadap anak juga tidak kalah pentingnya.
Meskipun di antara pembaca ini sebagian ada yang sudah menikah tapi belum mempunyai anak, ada yang sedang merencanakan pernikahan dan ada yang masih jomblo, insya Allah pembahasan ini akan tetap berguna sebagai bekal ketika nanti sudah memiliki anak.
Bagi siapapun yang akan, sedang dan sudah melangsungkan pernikahan, tentu salah satu tujuan dari pernikahannya adalah untuk melanjutkan keturunannya dengan memiliki anak.
Konsekwensinya, ketika Allah Swt. sudah menganugerahkan anak, maka ia harus merawat dan menjaganya dengan sebaik mungkin. Sebab anak adalah merupakan amanah dari Allah Swt.
Namun ironisnya, beberapa tahun terakhir ini justru terjadi beberapa kasus kekerasan dan perlakuan yang tidak sepantasnya terhadap anak yang dilakukan oleh orangtuanya sendiri. Hal ini bisa kita lihat dan saksikan di berita nasional, media sosial, bahkan di sekitar kita.
Perlakuan yang tak sepantasnya/kekerasan terhadap anak, secara garis besar terbagi menjadi 2 macam:
1. Perlakuan tak pantas/kekerasan terhadap fisik anak, seperti:
 
– mencubit
– menampar
– memukul
– mencambuk
– menjambak rambut
– menjewer telinga
– menendang
– tidak memberi makan/minum
– memaksa melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan usia dan kemampuannya
– menyiksa
– memperkosa
– membunuh
2. Perlakuan tak pantas/kekerasan terhadap mental anak, seperti:
– memanggil/ menjuluki dengan panggilan/sebutan yang tidak pantas
– mengancam
– meremehkan kemampuannya
– memaksa menguasai materi yang di luar minat dan kemampuannya
– membandingkan fisik dan kemampuannya dengan anak lain secara tidak adil
– memarahi dengan kata-kata yang kasar
– mengabaikan
– menghina fisik dan kemampuannya.
– tidak memahami perasaan dan kemampuannya.
Contoh beberapa kasus kekerasan terhadap anak yang pernah dimuat di beberapa berita nasional:
Dengan melihat begitu banyaknya kasus tersebut, dapat kita simpulkan bahwa ternyata banyak di antara kita yang belum siap menjadi orangtua yang baik bagi anaknya. Sehingga menjadi PR bagi kita agar lebih banyak belajar tentang ilmu parenting (ilmu tentang pengasuhan anak).
Tujuannya agar nanti setelah berumahtangga menjadi lebih siap ketika sudah mempunyai anak (bagi yang belum mempunyai anak) dan dapat memperbaiki sikap/etika kita terhadap anak (bagi yang sudah mempunyai anak).
Lagipula, dengan penerapan etika yang baik terhadap anak, sesungguhnya kita sedang meletakkan fondasi yang kuat dalam keluarga agar selamat dunia akhirat.
Allah Swt. juga telah berfirman dalam Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk menjaga keluarga dari api neraka:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Nah, sekarang yuk kita simak apa saja etika yang harus kita terapkan terhadap anak, berikut ini:
1. Sesudah menikah, saat sebelum berhubungan, hendaknya sepasang suami istri berdoa terlebih dahulu. Agar keturunannya nanti dijauhkan dari gangguan setan.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ فَقَالَ بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
 
“Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: (Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa), “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”

(HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434).
2. Ketika seorang istri sedang hamil, hendaknya sering membaca Al Qur’an dan menjaga sikapnya dengan baik (beretika baik). Begitu pula dengan suaminya. Agar membawa pengaruh yang baik terhadap anak yang sedang di dalam kandungan.
3. Seorang ibu yang sedang hamil hendaknya juga menjaga asupan makanan dan minumannya dalam hal gizi, keamanan, kebersihan dan kehalalannya. Agar anak yang di dalam kandungannya juga terjaga kesehatan dan keberkahannya.
4. Setelah melahirkan, hendaknya seorang ibu menyusui bayinya selama 2 tahun agar mendapatkan manfaat ASI, sebagai makanan terbaik untuk bayi di samping makanan dan minuman pendamping ASI lain yang bergizi, aman dan halal.
Allah Swt. berfirman:
وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ ۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَآرَّ وٰلِدَةٌۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ ۥ بِوَلَدِهِۦ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوٓا أَوْلٰدَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ ءَاتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوٓا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
5. Jangan lupa untuk menunaikan aqiqah saat bayi berusia 7 hari. Cukurlah rambutnya dan berilah nama yang baik padanya. Kedua hadits di bawah ini dapat dijadikan dasar tentang disunnahkannya aqiqah
Dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda:
“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”
(Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya)
Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda:
“Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” 
(Shahih, Hadits Riwayat Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan)
6. Dalam proses pertumbuhan dari bayi hingga usia balita, bimbinglah anak dengan penuh perhatian dan kesabaran ketika mulai menyapih, belajar tengkurap, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.
7. Ketika anak sudah mulai bisa berbicara, secara bertahap ajarkanlah doa-doa harian dan ayat-ayat pendek dari Al Qur’an.
8. Susunlah menu makanan dan minuman yang aman, bergizi dan halal agar anak tumbuh dengan sehat, cerdas dan diberkahi Allah Swt.
9. Ajak anak bermain sambil belajar dan berkreasi (bisa dengan alat peraga, peralatan menggambar dan mencoret-coret di kertas buram, ke taman bermain, diputarkan video/lagu anak-anak yang bisa menstimulasi imajinasi positifnya) dan membacakan dongeng yang mengandung hikmah/pelajaran budi pekerti sebelum tidur.
10. Bimbinglah anak dalam belajar mandiri, dimulai dari belajar makan sendiri, mandi sendiri, toilet training, serta bersosialisasi dengan anggota keluarga lain dan tetangganya.
11. Ajarkan anak untuk pandai menjaga dirinya dari gangguan orang yang tak dikenal dan dari pengaruh buruk dari internet dengan tidak terlalu cepat memberikan gadget kepada mereka.
12. Ketika anak sudah mulai bersekolah di TK dan SD, belikanlah buku-buku dan majalah anak-anak yang berkualitas agar memperluas wawasannya. Sesekali ajak mereka ke perpustakaan atau toko buku untuk menumbuhkan minat bacanya.
13. Anak-anak usia SD sudah mulai bisa dilatih bagaimana menjaga kebersihan dan kerapian kamarnya serta diajarkan bagaimana beretika yang baik.
14. Berilah informasi kepada anak tentang mana saja jajanan yang sehat atau yang membahayakan kesehatan serta bagaimana cara meminimalisir polusi udara yang dapat mengganggu kesehatan dan kecerdasan. Lebih aman lagi bila anak dibawakan bekal dari rumah.
15. Ketika sudah mulai baligh, orangtua harus lebih berhati-hati mengawasi pergaulan mereka. Di sela waktu, jelaskan juga tentang bagaimana proses menstruasi, mandi basah, cara-cara mandi junub dan pendidikan seks dengan bahasa yang tidak vulgar. Anak perempuan juga sudah diwajibkan menutup aurat dengan mengenakan kerudung. Dan tegaskan pula bahwa mereka sudah mempunyai kewajiban melaksanakan shalat 5 waktu dan puasa Ramadhan.
16. Ketika anak-anak kita sudah mulai timbul rasa ketertarikan dengan lawan jenis, jelaskanlah pada mereka bahwa memiliki rasa cinta adalah hal yang wajar dan merupakan karunia dari Allah Swt. Namun harus bijaksana dalam mengelola rasa cinta tersebut. Yaitu dengan tidak melakukan pacaran supaya terhindar dari perbuatan zina.
17. Asahlah minat dan bakat yang dimiliki anak (bisa secara otodidak atau ikut les yang dapat menunjang). Dukunglah saat anak akan mengikuti lomba, pentas seni/pameran kreatifitas. Bila sukses beri pujian atau penghargaan yang dapat membuatnya lebih percaya diri. Tapi bila gagal, hibur dan beri motivasi agar tidak patah semangat.
18. Sesekali ijinkan anak untuk berjalan-jalan bersama teman-temannya untuk refreshing di sela kepadatan waktu belajarnya dengan catatan dapat menjaga dirinya dari pergaulan yang tidak benar. Atau atur waktu agar orangtua dapat berwisata bersama anak untuk menambah keharmonisan keluarga dan membuka wawasan baru tentang daerah atau negara yang dikunjungi.
19. Ketika anak mengalami kesulitan dalam belajarnya, bantu anak dengan mencarikan guru atau tempat les yang sesuai dan dapat mengatasi masalah belajarnya.
20. Ketika anak sudah memasuki usia SMA, bantulah ia dalam mempertimbangkan dan mempersiapkan rencana kuliahnya sesuai dengan passionnya. Biasakan juga dalam mengasah skill of lifenya.
21. Ajarkan anak untuk pandai mengelola waktu dan uangnya serta  bisa mengatur skala prioritas dari kegiatan atau kebutuhannya sehari-hari. Dukunglah anak bila ingin belajar merintis usaha sesuai passionnya dari nol.
22. Sebagai orangtua, kita juga harus dapat berperan seperti teman buat anak kita, sehingga anak tidak sungkan untuk curhat bila sedang ada masalah. Saat itu kita bisa membantu mengatasi masalahnya dengan menasehati atau memberi solusi.
23. Selepas SMA/SMK, bila anak ingin langsung bekerja, bantu anak dalam mempertimbangkan rencana kerja dan pilihan tempat bekerjanya.
24. Saat anak mulai kuliah, bantulah dalam mencari tempat kost atau asrama yang aman dan lingkungannya baik. (bila kuliah di luar kota). Seringlah ditengok dan ditelepon agar anak lebih bersemangat dengan adanya dukungan dan perhatian dari orangtua. Selain itu agar pergaulan anak juga tetap dapat terpantau.
25. Ketika anak sudah siap untuk menikah, orangtua bisa membantu mencarikan jodoh melalui relasinya yang dapat dipercaya. Bila ada calon yang sudah cocok (dari teman sendiri atau yang akan dijodohkan), maka yang pertama harus dijadikan pertimbangan  adalah bagaimana shalatnya/agamanya, latar belakang keluarganya dan akhlaknya.
26. Bila sudah terjadi saling kesesuaian antara kedua pihak, orangtua harus menyegerakan pernikahan untuk menghindarkan anak dari perbuatan zina.
Dengan semua etika dan perlakuan yang baik terhadap anak sebagaimana yang sudah saya uraikan tadi di atas, insya Allah semua anak akan dapat menjalani kehidupannya sejak dari kandungan hingga menikah nanti dengan bahagia dan tanpa masalah.
Karena dengan etika/perlakuan yang baik dari orangtuanya, seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, beraqidah Islam yang kuat, berakhlak mulia, cerdas, sehat, shaleh/shalehah.
Sehingga anak-anak kita tak hanya menjadi menjadi qurratu a’yun bagi orangtuanya di dunia, namun kelak juga menjadi sumber amal jariyahnya di akhirat. Aamiin ya rabbal’aalamiin…
Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga perkara (yaitu) dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendo’akannya.
(HR. Muslim, no. 1631)

Rate this article!
Etika Terhadap Anak,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply