Etika di Media Sosial

Pada era teknologi dan informasi yang semakin canggih seperti sekarang ini, kapanpun dan di manapun kita sering melihat orang-orang yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Bisa di waktu pagi, siang, sore atau malam hari.. Baik di kamar tidur, di kantor, di kendaraan, bahkan ada yang di WC..
Ada yang sedang aktif di Facebook, Twitter, Whatsaap, Intagram, dan Path. Ada juga yang lagi searching di Google. Semuanya tampak asyik dan tenggelam dalam kesibukan dengan gadgetnya.
Orang yang sudah kecanduan dengan gadgetnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. : wajah tampak serius dan tak peduli dengan orang di sekelilingnya, menundukkan kepala dan matanya fokus pada gadgetnya, kadang senyum sendiri, dan jarinya tampak lincah menari-nari di atas gadgetnya… 😀
Para gadget dan media sosial mania ini faktanya memang sudah menyebar ke semua umur. Tak hanya di kalangan dewasa. Namun juga di kalangan remaja, manula bahkan anak-anak. Baik pria maupun wanita. Entah mengapa benda mati itu bisa sedemikian ‘menghipnotis’ para penggunanya ya?
Sementara sudah banyak beredar berita yang tidak menyenangkan tentang berbagai masalah dan peristiwa yang terjadi gara-gara terlalu sibuk/asyik dengan gadget. Berikut ini beberapa beritanya:
© Seorang balita mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicara dan motoriknya karena sejak usia 10 bulan diberi gadget oleh ibunya untuk menenangkannya ketika rewel.
© Gadget juga membuat anak susah tidur karena gadget yang menyala merangsang otak anak dan menekan hormon melatonin yang membuat orang mengantuk.
© Rumah tangga hancur gara-gara media sosial.
© Seorang balita tewas terlindas mobil gara-gara ibunya asyik main smartphone.
© Terjadinya tawuran pelajar akibat provokasi melalui media sosial.
Dengan melihat contoh kasus-kasus di atas, bisa kita simpulkan bahwa sebetulnya yang menjadi sumber masalah itu bukan gadget dan media sosial yang di dalamnya. Tapi lebih pada pribadi masing-masing para penggunanya.
Maka seharusnya kita lebih bijak dalam menggunakan gadget dan media sosial. Karena sebetulnya semua perangkat canggih tersebut diciptakan untuk memudahkan dan membantu para penggunanya dalam belajar dan bekerja.
Dan ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dari perangkat yang ‘smart’ tersebut. Misalnya:
1. Sebagai sarana untuk mempromosikan usaha kita.
2. Sebagai sarana memperoleh informasi, berita dan ilmu pengetahuan.
3. Sebagai sarana menjalin pertemanan.
4. Sebagai sarana menebar kebajikan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dakwah dan berbagi kisah inspirasi.
Nah, agar gadget dan media sosial tidak menjadi sumber masalah, berikut ini beberapa etika yang harus kita jaga:
1. Sebaiknya gadget tidak diberikan pada anak sebelum usia 10 tahun. Lalu batasi penggunaannya (maksimal 1 jam) dan awasi pemakaiannya (orangtua harus tahu passwordnya).
2. Berikan aplikasi kakatu (http://kakatudotwebdotid/) dan kiddle (http:/dotkiddledotco/) pada anak bila ingin mengakses internet secara lebih aman.
2. Jangan mengupload foto/video dengan ekspresi dan penampilan yang kurang pantas serta gambar dan film yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi.
3. Sebelum menerima pertemanan di media sosial, lebih baik selidiki dulu identitasnya. Jangan mudah terbujuk untuk melakukan apapun yang bisa merugikan atau membahayakan kita.
4. Tulislah status yang baik dan menginspirasi. Jangan menulis status dengan kata-kata kasar, jorok dan yang bermuatan kebencian.
5. Jangan menulis dan berbagi tulisan yang hoax, mengandung ujaran kebencian, fitnah, isu SARA, dan hasutan.
6. Sebelum sharing suatu info, lebih baik selidiki dulu kebenarannya dan manfaat/mudharatnya. Jangan sampai dengan info/berita yang kita share itu malah membuat masalah besar, baik dalam suatu rumah tangga, institusi atau negara.
7. Jangan mau diajak ketemuan dengan orang yang baru kita kenal di media sosial, apalagi tanpa tujuan yang jelas. Hati-hati, jangan mudah tertipu karena penampilan dan jangan mudah terbujuk rayuan manis /iming-iming materi.
8. Jangan mengirim chat/foto/ video yang mengandung unsur hoax, kekerasan, kebencian, fitnah, hasutan dan pornografi kepada siapapun.
9. Jangan mudah terpengaruh isu yang masih belum bisa dibuktikan kebenarannya dan jangan mudah terprovokasi berbagai macam hasutan. Terlebih yang dapat mengancam perpecahan bangsa.
10. Ketika sedang dalam acara silaturahim atau makan bersama keluarga atau teman, lebih baik simpan dulu gadgetnya dan utamakan kebersamaan dengan mereka. Kecuali bila ada sesuatu hal yang penting.
11. Jangan gunakan media sosial untuk melakukan hal-hal yang dapat memicu perselingkuhan dalam rumah tangga, pengkhianatan dalam suatu pemerintahan, tindakan kecurangan saat test atau tindakan korupsi dalam pekerjaan.
12. Jangan gunakan media sosial untuk sarana melakukan kemaksiatan dan kemusyrikan, seperti menonton film porno, bermain judi, ramal meramal nasib dan lain-lain.
13. Disiplinlah dalam mengatur waktu dan kendalikan diri dalam menggunakan gadget. Agar waktu kita dalam sehari tidak terlalu banyak tersita, khususnya dalam menggunakan media sosial. Karena masih lebih banyak yang lebih penting untuk kita perhatikan. Yaitu keluarga dan orang-orang terdekat di sekitar kita.
Bila semua etika di media sosial itu kita terapkan, insya Allah tidak akan ada lagi permasalahan dan pertikaian di rumah tangga, masyarakat dan negara.
Hubungan antar keluarga, warga, suku bangsa dan pemeluk agama di negara kita ini juga akan menjadi lebih harmonis dan tidak ada permusuhan satu sama lain.
Yuk, kita mulai bijak dalam bermedia sosial.. Agar kehidupan keluarga kita tenang. Agar persatuan dan kesatuan bangsa kita semakin menguat, lalu bersama-sama memajukan negeri ini meski berbeda suku bangsa, etnis, agama dan pandangan hidup. Hingga siapapun dan dari manapun tak ada lagi yang dapat merusak  ketentraman dalam keluarga, bangsa dan negara kita. Aamiin…

Rate this article!
Etika di Media Sosial,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: