Etika Dalam Berbicara

Seringkali kita mendengar terjadinya perselisihan antar teman atau kesalahpahaman. Yang menjadi pemicunya adalah karena lisan yang tidak terjaga ketika berbicara. Padahal seharusnya dengan siapa, tentang apa, dimana, kapan, hingga bagaimana kita berbicara itu harus selalu dijaga. Karena ketika berbicarapun ada etikanya. Dalam Al Qur’an, Allah Swt. menyeru kepada seluruh umat muslim untuk berkata-kata dengan baik. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menyebutkan hal tersebut.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wa quuluu qoulan sadiidaa
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 70)
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ  فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً
yushlih lakum a’maalakum wa yaghfir lakum zunuubakum, wa may yuthi’illaaha wa rosuulahuu fa qod faaza fauzan ‘azhiimaa
“niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 71)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Dalam hadits juga telah disebutkan. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. juga telah bersabda, “ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam; barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)*)
» Dengan Siapa Kita Berbicara…
Pada jaman saya masih anak-anak, kira-kira sekitar tahun 1970-an.. anak-anak dan remaja kalau berbicara dengan orang yang usianya lebih tua terlebih terhadap orangtuanya selalu berhati-hati dan sopan.
Tetapi berbeda dengan anak jaman sekarang yang cenderung kasar dan tidak sopan dalam berbicara. Perbendaharaan kata-katanya juga penuh dengan kata-kata yang tak pantas, apalagi ketika sedang emosi. Dari binatang berkaki empat sampai benda kotor yang tertumpah dari mulutnya.
Bahkan ketika sedang bercanda dengan teman-temannyapun kata-kata yang sebetulnya tidak pantas tersebut bisa begitu lancarnya terlontar dari lidahnya. Yang lebih parah lagi, ada yang tak segan mengumpat dengan kata-kata yang kasar kepada siapapun yang mengganggu atau yang tak sependapat dengannya.
Ada juga sekelompok remaja yang saling mengolok, mengejek dan memanggil dengan panggilan yang tak pantas. Mungkin awalnya hanya bergurau. Tapi lama kelamaan bisa menimbulkan pertengkaran bahkan tawuran.
Yah, begitulah bila kita tidak mampu menjaga lisan kita. Padahal Allah Swt. sudah mengingatkan dalam melalui firmannya dalam Al Qur’an, sebagai berikut:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰىٓ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰىٓ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقٰبِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمٰنِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُونَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yaskhor qoumum ming qoumin ‘asaaa ay yakuunuu khoirom min-hum wa laa nisaaa`um min nisaaa`in ‘asaaa ay yakunna khoirom min-hunn, wa laa talmizuuu anfusakum wa laa tanaabazuu bil-alqoob, bi`sa lismul-fusuuqu ba’dal-iimaan, wa mal lam yatub fa ulaaa`ika humuzh-zhoolimuun
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
Maka anak-anak muda jaman sekarang harus belajar untuk menjaga cara berbicaranya dan bisa menempatkan diri dengan siapa mereka berbicara. Jangan disamakan cara berbicara antara dengan teman-temannya, dengan adiknya, dengan kakaknya atau dengan orang yang lebih tua darinya, terlebih dengan kedua orang tuanya.
Di Indonesia ada sebagian daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, dan beberapa daerah lain yang membedakan penggunaan bahasa ke orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati dengan adanya penggunaan bahasa yang lebih halus. yang akan saya bahas lebih lanjut di pembahasan dimana kita berbicara.
Boleh gaul tapi tetap ada batas kesopanannya dan bisa menempatkan diri dengan siapa berbicara. Apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang tua kita ada baiknya kita contoh dalam hal kehati-hatian berbicaranya.
» Tentang Apa Kita Berbicara…
Topik pembicaraanpun harus kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Jangan sampai ketika sedang ada acara makan bersama, malah membahas hal-hal yang kotor dan menjijikkan. Karena bisa jadi nanti ada yang mendadak mual, muntah atau tidak nafsu makan gara-gara mendengar pembicaraan tersebut.
Atau ketika suasana sedang berduka, tapi kita malah bercanda atau membicarakan tentang humor, pesta apalagi sambil tertawa dengan suara keras atau cekikikan. Tentu bisa membuat keluarga yang sedang berduka menjadi tersinggung dan terganggu.
Ketika dalam suasana belajar atau rapatpun sebaiknya yang kita bicarakan adalah hal-hal yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari atau topik yang sedang dibahas. Lebih baik bila kita tunda pembicaraannya nanti saja pada saat jam istirahat atau ketika rapat/belajar sudah usai. Agar target belajar atau tujuan rapatnya tercapai terlebih dahulu. Kecuali bila memang ada hal yang penting atau mendesak untuk segera dibicarakan.
Selain itu hindarilah pembicaraan yang bersifat dusta, menggunjing, menghasut, memfitnah, mengadu domba dan memprovokasi. Karena seperti sekarang ini yang tengah terjadi di sekitar kita, ada beberapa kasus yang menimbulkan kesalahpahaman dan mengancam perpecahan bangsa. Dan semua itu bermula hanya dari pembicaraan yang tak perlu tersebut.
Allah Swt. berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanujtanibuu kasiirom minazh-zhonni inna ba’dhozh-zhonni ismuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo, a yuhibbu ahadukum ay ya`kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuh, wattaqulloh, innalloha tawwaabur rohiim
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)
* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-iddotcom
»  Di mana Kita Berbicara…
Ada ungkapan, … dimana kita berpijak, disitu langit dijunjung. Artinya di mana kita tinggal/berada, sebaiknya kita menghormati kebiasaan dan adat istiadat setempat. Tentunya yang dimaksud disini adalah yang berhubungan dengan etika kesopanan dalam berbicara di daerah tersebut dimana semuanya tetap harus berstandar pada aturan Al Qur’an dan Al Hadits.
Misalnya ketika di daerah Jawa, kita harus menyesuaikan dengan cara berbicara di dalam masyarakatnya yang mempunyai tata krama/unggah ungguh dalam berbicara. Berbeda dengan ketika kita berada di daerah Sumatra Utara yang mungkin dari logatnya saja sudah tampak lugas, sehingga lebih ceplas ceplos.
Karena sebagaimana yang saya kutip dari tulisan Janur Musthofa, “Pembelajaran Etika dalam Bahasa Jawa” di Kompasiana, bahwa di daerah Jawa ada undhak undhuk basa (etika berbahasa) dan menjadi bagian integral dalam tata karma dalam masyarakat Jawa dalam berbahasa. Etika berbahasa itu terbagi menjadi 3, yakni ngoko (kasar), madya (biasa) dan kromo (halus).
Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk penghormatan (ngajengake, honorific) dan perendahan (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah undhak undhuknya suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicaranya. Status tersebut bisa ditentukan oleh usia, posisi keilmuan dan lain-lain.
Seseorang yang berbicara dengan lawan bicara yang sebaya atau statusnya sama dalam masyarakat, maka ia akan menggunakan bahasa Jawa madya. Bila lawan bicaranya lebih kecil usianya maka ia menggunakan bahasa Jawa ngoko. Dan bila lawan bicaranya lebih tua maka ia menggunakan bahasa Jawa kromo.
Selain menyesuaikan lawan bicaranya, berbahasa Jawa juga diharuskan untuk merendahkan diri sendiri dan meninggikan lawan bicara/yang dibicarakan dalam penggunaan bahasanya. Ini merupakan pembelajaran etika secara tidak langsung yang digunakan oleh para pendahulu kita, tentang bagaimana cara menghormati orang lain tidak hanya dengan perilaku, tetapi juga dalam berbahasa.
Karakteristik detail berbahasa seperti bahasa Jawa ini tidak ditemukan di negara-negara Barat, melainkan di Austronesia dan beberapa di Asia Timur seperti bahasa Jepang dan Korea.
Adapun etika berbicara di tempat dengan ruang lingkup yang lebih kecil adalah misalnya ketika kita sedang berkunjung ke rumah sakit, menengok teman atau saudara kita yang sedang sakit, sebaiknya kita mengurangi volume suara saat berbicara supaya tidak mengganggu pasien lain yang sedang beristirahat.
Atau ketika kita sedang berada di masjid atau majelis ilmu, mengikuti acara pengajian, sebaiknya kalau tidak terlalu penting kita membatasi pembicaraan dan tidak mengobrol sendiri.
» Kapan Kita Berbicara..
Ternyata berbicarapun juga ada waktunya. Dalam artian, berbicara itu menyesuaikan saat, situasi dan kondisi yang tepat.
Sebagai contoh, dalam suatu percakapan antar keluarga, teman atau rekan kerja/bisnis. Ketika ada yang sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu, lebih baik kita simak dan dengarkan baik-baik terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah kita boleh menanggapi, menyanggah atau sekedar memberi komentar. Jadi hindarkan memotong pembicaraan orang.
Atau dalam suatu acara seminar atau rapat, ketika moderator belum memberikan kesempatan untuk bertanya atau menanggapinya, sebaiknya kita menahan diri dulu hingga dipersilakan. Supaya suasana seminar/rapat menjadi lebih tertib. Sehingga pembicara seminar maupun pemimpin rapat dapat menyelesaikan materi yang sedang disampaikannya terlebih dahulu, lalu bisa menanggapi semua pertanyaan dan komentar yang masuk dengan lebih sistematis dan teratur.
Namun ada beberapa situasi dan kondisi yang justru mengharuskan seseorang untuk segera berbicara. Seperti ketika seorang laki-laki sudah akil balig dan sudah siap menikah, maka ia harus segera membicarakan rencana pernikahannya itu kepada kedua orang tuanya maupun kedua orang tua calon istrinya.
Atau ketika sedang dalam situasi dan kondisi yang berbahaya atau darurat, misal ketika sedang terjadi bencana, musibah, kecelakaan atau sedang ada yang sakit dan membutuhkan petolongan segera.
Nah, pada saat itulah beberapa aturan dalam berbicara yang tadi kita bahas di atas dapat dipertimbangkan kembali, berhubung keadaan yang darurat.
Namun ingatlah dalam etika berbicara ini, seseorang, siapapun dia, berapapun usianya dan dari latar belakang pendidikan apapun.. niscaya akan menjadi sosok yang disukai bahkan dihargai bila ia membiasakan berbicara/ berkata yang baik dan santun. Setidaknya dengan membiasakan penggunaan 3 kata sederhana namun ajaib ini :
1. Permisi
2. Maaf
3. Terima kasih.
Percayalah…. 😊
————————–
Referensi:
*) Buku “Inti Ajaran Islam, Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi” pensyarah: Ibnu Daqiq Al’Ied, penerbit: Media Hidayah, hal. 83.

Rate this article!
Etika Dalam Berbicara,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply