Episode 9. “Si Pemalu” menjadi Percaya Diri

Kau putri kecilku
Kusayang padamu
Bayangan dirimu
Ada dalam tatap matamu

Lentik jemarimu
Manisnya bibirmu
Kau bisikan harapanmu
Kasih sayang ibumu

Putri kecilku yang ayu
Tak tega hati tinggalkanmu
Kukorbankan semua keinginanku
Hanya untukmu

Putri kecilku yang ayu
Aku akan selalu menjagamu
Takkan kubiarkan kau menderita
Seperti diriku dahulu

(Lirik lagu : Putri, penyanyi : Dewi Yull)

Tersentuh hatiku saat mendengar lagu ini dan membawa ingatanku ke masa lalu. Seorang gadis kecil dengan tubuhnya ringkih mencoba bergembira bermain bersama teman sebayanya. Sambil tertawa kecil dia berlari kesana kemari, keceriaan terlihat di wajahnya yang tirus. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat, tiba-tiba gadis itu mendapat serangan batuk yang tidak mau berhenti, keringatnya bercucuran dan napasnya jadi tersengal.
Kuhampiri gadis kecil itu, lalu kugendong masuk kedalam rumah. Kuberi dia air minum hangat, lalu kuseka keringat yang membasahi tubuhnya, kuganti bajunya dan kucoba untuk menenangkannya. Yah…dia adalah gadis kecilku yang menderita penyakit asma dan kecapekan adalah adalah satu pemicu serangan asma.
Hingga malam hari batuknya tidak juga reda, napasnya pun mengeluarkan suara ngik-ngik (bengek). Puteriku terduduk lemas sambil bertopang pada tumpukan bantal untuk menahan dadanya yang sakit. Penderita asma tidak bisa tidur sambil guling saat serangan terjadi. Aku tidak tega melihat kondisinya ini dan hanya bisa menangis. Andai sakitnya itu bisa dipindahkan…aku mau menggantikannya.
Karena kondisinya yang lemah mengharuskan dia berdiam diri di rumah setelah pulang sekolah. Hal ini menyebabkan puteriku menjadi sosok yang pendiam, pemalu dan rendah diri. Akibat sering menahan sakit di dadanya bila terjadi serangan asma, bentuk tubuhnya jadi sedikit melengkung (sedikit bungkuk) bila berjalan.
Saat duduk di bangku SMP aku mulai mengkhawatirkan perkembangan bentuk tubuhnya dan cara berjalannya seperti laki-laki. Lalu aku perlahan-lahan bicara padanya :
“Adik, coba dilatih kalau berjalan badannya ditegakkan dan kakinya disilangkan.” Kataku
Diapun mencoba melakukan itu.
“ Tidak bisa ma, dada adik terasa sakit.” Jawabnya
“Perlahan-lahan dulu, sayangkan cantik-cantik tapi jalannya bungkuk.” Kataku untuk menyemangatinya.
Aku tahu ini tidak mudah baginya tapi kalau tidak cepat diperbaiki ini akan semakin buruk. Mumpung masih dalam tahap pertumbuhan sebab ini lebih mudah untuk memperbaikinya.
Penyakit asma tidak bisa disembuhkan tapi bisa dihindari, salah satunya dengan melakukan terapi berenang. Akupun mengajari puteriku untuk berenang setiap hari minggu. Setelah dia bisa berenang, aku memasukkannya ke sebuah klub renang yang dilatih oleh mantan perenang di kotaku.
Alhamdulillah usahaku untuk memperbaki bentuk tubuhnya menemukan jalan. Pelatih renangnya mengatakan selain bisa menyembuhkan penyakit asmanya, berenang juga bisa membantu meluruskan badan dan juga tinggi badan bertambah. Jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlewati.
Usahaku untuk memperbaiki bentuk tubuh dan cara berjalan sangat bermanfaat saat puteriku melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Setiap tahun sekolahnya selalu mengadakan pemilihan bujang dan gadis dan puteriku ditunjuk untuk ikut sebagai wakil dari kelasnya.
Karena puteriku tinggal di asrama sekolah, jadi dia mengabarkan itu lewat telpon. Dan akupun membantu mempersiapkan keperluannya.
“ Mama…adik diharuskan memakai celana jeans warna hitam, kemeja putih dan dan sepatu high hills ukuran 6 cm.” kata puteriku
Akupun membelikan semua yang dia butuhkan.
Setelah melewati bermacam seleksi, akhirnya putriku lolos masuk grand final.
“ Mama…adik diharuskan memakai sepatu high hills ukuran 9/10 cm.” katanya saat dia menelpon mengabarkan khabar baik itu kepadaku.
“Tinggi betul dik.” Jawabku
“Iya ma, sebab pasangan adik sangat tinggi badannya jadi adik harus mengimbangi”kata puteriku lagi
Akupun mencari sepatu yang ukuran 9/10 cm, warna gold dan dengan harga yang bisa kujangkau. Susah memang mencari model sepatu itu dengan harga yang murah sebab rata-rata harganya 300-400 ribu. Tapi dengan ketekunan aku mencarinya, kutemukan juga sepatu itu.
Aku tidak bisa membayangkan, dengan tinggi badan 165 cm plus high hills ukuran 9/10 cm, dan mampukah puteriku berjalan dengan sepatu itu. Aku menyarankan agar sebelumnya dia harus berlatih memakai sepatu itu jadi saat acara grand final nanti tidak terlihat kaku berjalannya.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi, kulihat putriku yang menelpon lalu kuangkat.
“ Mama…sepatu baruku haknya lepas saat adik latihan di kamar”terdengar jeritan puteriku
“Terus bagaimana dik, apa bisa diperbaiki ?”tanyaku dengan nada khawatir
“Insya’Allah bisa ma.”jawabnya
Untungnya itu terjadi saat dia latihan di kamar, bagaimana kalau itu terjadi saat dia berjalan di atas panggung. Dan aku menyadari hal itu sebab dengan harga yang murah pasti mutunya kurang bagus.
Acara grand final itu tertutup, hanya untuk lingkungan sekolahnya saja dan orang tuapun tidak boleh datang. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana puteriku berlenggak-lenggok di atas panggung dan dilihat banyak guru-guru dan teman-temannya. Mampukah dia
Aku hanya bisa memantau acara itu lewat instagram sekolahnya. Dengan harap-harap cemas aku menunggu hasilnya dan berdoa yang terbaik buat puteriku. Saat yang dinanti pun tiba, aku lihat pengumuman hasil grand final sudah di posting di instagram sekolahnya. Dengan membaca basmallah, aku perlahan-lahan membacanya dengan debaran jantung yang dag dig dug.
Alhamdulillah…puteriku menyabet juara I dengan menyandang predikat Gadis I. aku begitu terharu saat membaca sinopsis instagram sekolahnya, puteriku dan pasangannya dinyatakan sebagai ” Best Couple” sebab mulai dari pengukuran badan, sesi pemotretan dan saat tampil di grand final mereka berdua sangat kompak dan serasi.
Aku memberikan pesan kepada puteri agar tetap rendah hati dan selalu tersenyum. Tetap berdiri kokoh walau badai datang menghalang.

author

Author: 

Leave a Reply