Episode 5. “Special Marga”

Bila bicara tentang Marga, kita akan langsung mengarah ke suku Batak. Yah…suku Batak yang keberadaannya di Propinsi Sumatera Utara ini, identik dengan “ Marganya “ yang disesuaikan dengan sub etnisnya.
Marga adalah nama Persekutuan dari orang-arang bersaudara, sedarah dan seketurunan menurut garis keturunan Bapak atau yang dikenal dengan istilah “ Patrilineal “. Dasar pembentukan marga adalah keluarga, yaitu :
– Suami
– Istri
– Dan Putra Putri
Fungsi dari Marga itu sendiri adalah sebagai landasan pokok dalam masyarakat Batak. Dan tujuan dari Marga adalah untuk membina kekompakan dan solidaritas sesama anggota Marga sebagai keturunan dari satu leluhur.
Suku Batak banyak sekali memiliki Marga dan itu terbagi dalam beberapa sub etnis. Suku Batak memiliki 6 macam sub etnis, yaitu :
1. Anggola
2. Karo
3. Mandailing
4. Pakpak
5. Simalungun
6. Toba
Masing-masing memiliki Marga yang diwarisi oleh keturunan mereka dan dalam satu sub etnis memiliki bermacam-macam Marga.

Ada juga suku Minangkabau yang memakai Marga tapi tidak seluruhnya seperti suku Batak. Istilah suku pada suku Minangkabau agak membingungkan bagi etnis lain di luar suku Minangkabau. Ada yang mengartikannya sebagai suku atau etnis dan ada juga yang mengartikannya sebagai Marga.
Bagi orang Minangkabau istilah suku bearti kira-kira seperti Sub-Klan atau bisa sebagai Marga atau nama keluarga. Tapi ada segelintir dari mereka yang beranggapan apabila memakai nama suku atau marga akan menghilangkan identitas Minangnya. Dan sebaliknya justeru dengan memakai nama suku atau marga menampilkan identitas keaslian Minangnya.
Untuk aturan suku (marga) mereka menganut cara “ Matrilineal “ yaitu marga diturunkan berdasarkan garis keturunan sang ibu. Namun satu hal yang masih tetap terjaga pada masyarakat Minangkabau adalah perkawinan atau pernikahan sesama satu suku (marga) tidak diperbolehkan/dilarang.
Dan mungkin masih banyak suku-suku lainnya yang memakai marga dibelakang nama mereka.

Lain halnya dengan keluarga kecilku, putera dan puteriku memiliki “ special Marga”. Kami memberikan “Special Marga” pada nama mereka untuk menunjukkan/mengingatkan bahwa mereka berdua adalah bersaudara (satu ayah dan satu ibu).
Dan uniknya lagi “ Special Marga “ ini diambil dari huruf pertama dan huruf kedua nama kami (aku dan suami) dan letaknya ditengah-tengah nama putera dan puteriku, bukan dibelakang nama seperti marga suku batak.
Adapun nama “Special Marga” yang kami berikan adalah “BAMA” singkatan dari :
BA ; diambil dari nama Suami yaitu BAgus
MA : diambil dari namaku yaitu MAya

Dan nama putera puteriku itu sangat panjang juga sama-sama memiliki 4 suku kata, yaitu :
1. Nama puteraku adalah Muhammad Aldino Bama Anugrah
2. Nama puteriku adalah Azzahra Hiththah Bama Bihurinin

Mungkin orang-orang akan menganggap ini adalah sebuah kelucuan tapi bagi kami ini adalah merupakan bentuk kasih sayang kami kepada mereka. Kami ingin membuatkan mereka sebuah sejarah hidup, hingga kelak setelah mereka berkeluarga dan punya anak mereka dapat menceritakan asal usul dari nama mereka. Dan ini akan tetap dikenang selamanya oleh garis keturunan kita nanti.
Ayo…ciptakanlah sejarah penting dalam keluarga kita masing-masing.

Rate this article!
author

Author: 

2 Responses

  1. author

    ikaprat2 years ago

    kereen…
    kalau keluarga saya, semua anak-anak diberi nama awalan huruf A. Filosofinya, biar selalu siap menjadi pemimpin kapan dan di manapun, minimal untuk dirinya sendiri. Btw, di belakang nama anak-anak saya, ada marga ‘betulan’ dari ayahnya, garis dari simalungun. purba tanjung. hehehe. horas kak !

    Reply
    • author
      Author

      myrose2 years ago

      Terima kasih adikku…
      kenapa tidak…kalau untuk sebuah kebaikan
      hehehe….horas juga adikku

      Reply

Leave a Reply