episode 23. Kasih Ibu Tak Berbatas

Kasih sayang seorang ibu mengalahkan segalanya, ibu bagaikan malaikat tak bersayap, ibu pahlawan tanpa tanda jasa dan ibu adalah pemberi tanpa pamrih. Sebesar apapun usaha seorang anak untuk membalas jasa ibunya, itu tidak akan pernah mampu menandingi kasih sayang dan pengorbanan ibu untuk anak-anaknya.
Seperti yang terekam lewat lagu “Muara Kasih Bunda” oleh Erie Suzan.

Bunda
Engkaulah muara kasih dan sayang
Apapun pasti kau lakukan
Demi anakmu yang tersayang

Bunda
Tak pernah kau berharap budi balasan
Atas apa yang kau lakukan
Untuk diriku yang kau sayang

Saat diriku dekat dalam sentuhan
Peluk kasihmu dan sayang
Saatku jauh dari jangkauan
Doamu kau sertakan

Reff. Maafkan diriku bunda
Kadang tak sengaja ku membuat
Remah hatimu terluka
Kuingin kau tahu bunda
Betapa kumencintaimu lebih dari segalanya

Kumohon restu dalam langkahku
Bahagiaku seiring doamu

Kasih sayang seorang ibu akan terus mengalir bagai aliran air sungai dan doanya tidak pernah putus untuk kebahagiaan anak-anaknya. Seorang ibu tidak lagi memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Di dalam agama Islam kedudukan seorang ibu sangatlah dimuliakan, bahkan diumpamakan surganya anak itu ada di bawah telapak kaki ibu. Ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma dalam perbuatan baik, karena kesulitan yang dirasakan seorang ibu saat hamil dan melahirkan bahkan nyawa sebagai taruhannya.
Ini dijelaskan dalam sebuah Dalil, yaitu dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi yang artinya :
“ Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik ? Nabi menjawab : Ibumu. Lalu siapa lagi ? Nabi menjawab : Ibumu. Lalu siapa lagi ? Nabi menjawab : Ibumu. Lalu siapa lagi ? Nabi menjawab : ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.”
(HR. Al Bukhari dalam Adabul unfrad, sanadnya hasan).
Jadi ibu adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan perlakuan yang paling baik.

Dalam kehidupan seorang wanita akan mengalami dua fase kehidupan, yaitu menjadi seorang anak dan menjadi seorang ibu. Hal ini saling berkaitan, sebab saat si anak menjadi seorang ibu ia akan mengingat bagaimana perlakuan dan kasih sayang ibu kepadanya. Dan hal inipun kualami dengan penuh suka dan duka.
1. Fase sebagai anak
Awal kehidupan kita adalah dimulai dari ibu, bagaimana dia mengandung kita selama Sembilan bulan, melahirkan kita dengan nyawa sebagai taruhannya dan setelah kita lahir ibu merawat dan menjaga kita dengan penuh kasih sayang.
Sangatlah beruntung bila seorang anak mendapatkan penuh kasih sayang, mulai lahir sampai dia menjadi seorang ibu.

Aku mungkin termasuk anak yang kurang beruntung karena hanya sekejap aku mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua terutama ibu. Ini disebabkan keadaan yang mengharuskan aku terpisah, hidup jauh dari keluarga demi menuntut ilmu.
Saat aku lahir kami sekeluarga masih tinggal di kota, setelah berumur satu tahun kami pindah ke desa kelahiran ibuku dan ayahku menjadi seorang guru di sana.

Aku anak nomor dua dari Sembilan bersaudara yang rata-rata selisihnya 2-3 tahun. Bagaimana kerepotan ibuku saat mengurus kami seorang diri, sebagai anak perempuan tertua aku terpaksa harus membantu ibuku walau usiaku masih anak-anak. Aku membantu pekerjaan rumah juga harus menjaga adik-adikku. Jadi perhatian ibuku lebih terfokus pada adik-adikku.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar, aku harus melanjutkan Sekolah menengah Pertama di kota. Terpaksa aku harus berpisah dari orangtuaku dan adik-adikku dan tinggal bersama keluarga besar ayahku (kakek, nenek, Paman, bibi dan saudara sepupu yang masih kecil-kecil). Sejak itu aku jarang bertemu dengan keluargaku karena keadaan dan perekonomian yang sangat sulit. Ibuku tidak pernah mengunjungiku hanya ayahku yang setiap bulan datang untuk memberikan uang sekolah.aku hanya bisa bertemu dengan keluargaku saat Hari Raya atau bila ada hajatan keluarga.

Semua itu kujalani dengan keikhlasan, disamping sekolah aku juga harus membantu pekerjaan rumah. aku tumbuh menjadi dewasa tanpa belaian seorang ibu tapi aku tetap menghargai dan menyayangi ibuku karena dia telah melahirkan dan merawatku saat aku masih kecil. Dan setelah bekerja aku lebih mendahulukan membantu orangtuaku dan membiayai sekolah adik-adikku. Inilah hidup dan kehidupan yang harus aku jalani.

2. Fase menjadi seorang ibu

Aku menikah saat berumur 24 tahun (saat itu sudah masuk katagori perawan tua) itu terjadi pada tahun 1993. Dua tahun kemudian baru aku melahirkan seorang anak laki-laki, saat inilah kehidupanku berubah. Aku mulai berperan sebagai seorang ibu, dalam hal merawat bayi aku tidak mendapat kesulitan karena aku sudah terbiasa mengurus adik-adik dan saudara-saudara sepupuku. Aku merawat dan mengurus bayiku seorang diri karena aku hidup jauh dari keluarga.

Namun aku banyak mendapat masukan dan pelajaran bagaimana cara merawat bayi dan merawat diriku dari para tetangga yang kuanggap seperti ibu. Ibuku hanya satu minggu menungguiku karena dia juga punya kewajiban mengurus ayahku dan adik-adikku.

Pengalaman masa laluku yang kurang mendapatkan kasih sayang membuatku terobsesi untuk menumpahkan seluruh perhatian dan kasih sayangku kepada anak-anakku. Aku tidak ingin mereka mengalami seperti diriku. Aku ingin masa kecil mereka penuh dengan kegembiraan dan kasih sayang orangtuanya. Aku sangat memanjakan mereka dengan perhatian dan kasih sayang. Sejak mereka kecil aku tidak pernah memarahi mereka apalagi sampai memukul tubuhnya. Jika mereka salah aku hanya menasehati dan memberi pengertian agar mereka tidak mengulanginya lagi.

Sampai mereka besarpun aku masih memanjakan mereka, terkadang ini bertentangan dengan suami. Karena dia ingin anak-anak kami mandiri dan belajar bertanggung jawab. Perpaduan cara kami mendidik membuat mereka menjadi anak-anak yang penurut, mandiri dan bertanggung jawab. Dan juga taat dalam agama sebab mulai mereka kecil kami sudah menanamkan nilai-nilai agama dalam diri mereka. Ini menjadi tameng dalam mereka bergaul dan jauh dari orangtua.

Cara kita mendidik anak sangat berpengaruh dengan sifat dan perilakunya setelah besar. Seperti contoh bila kita mendidiknya dengan kemarahan tentu dia akan menjadi sosok yang pemarah. Dan bila kita mendidiknya dengan kelembutan dan kasih sayang mereka akan menjadi sosok yang penuh kasih sayang. Itu terbukti pada anak-anakku, mereka berdua selalu saling menyayangi,saling menjaga dan selalu rukun. Begitu juga terhadap orangtuanya terutama aku, mereka penuh perhatian dan selalu ingin membahagiakan aku

Saat mereka pulang liburan sekolah aku ingin memanjakan mereka seperti kecil dulu, tapi yang terjadi sebaliknya malah mereka yang ingin memanjakan aku. Aku sangat bersyukur memiliki mereka, mereka adalah sumber kekuatan dan kebahagiaanku saat ini.

Anak adalah mutiara hati yang paling berharga dan akan selalu mencintainya selamanya.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply