episode 21. ” Puteri Merak “

Untuk mengenang perjuangan para pejuang dalam mempertahankan Negara Indonesia dan memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, hingga Negara Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya tepat tanggal 17 Agustus 1945. Maka setiap tanggal 17 Agustus seluruh rakyat Indonesia selalu merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Mulai dari Ibukota sampai ke pelosok-pelosok Tanah Air.
Berbagai macam kegiatan dilakukan, mulai dari menghias kantor-kantor, jalan-jalan raya, gang-gang sempit hingga pedesaan. Bahkan diadakan aneka lomba seperti menghias gapura tempat tinggal, kebersihan dan kerapian lingkungan, aneka permainan dan banyak lagi lainnya.
Dan setiap tanggal 18 Agustus akan diadakan “Pawai’ dengan iring-iringan kendaraan yang dihias dengan indah dan orang-orang yang berpakaian aneka macam ragam. Mulai kota-kota besar, kabupaten, kecamatan hingga desa-desa. Bahkan sekolah-sekolah juga ikut berpartisipasi.
Begitu juga dengan sekolah tempat puteriku menuntut ilmu, yang berada di luar kota tepatnya di sebuah kabupaten. Setiap tahun kabupaten ini selalu mengadakan pawai keliling dan setiap tahun “Icon”nya berbeda-beda. Tahun lalu (2016) mereka mengusung tema “ Burung merak”
Sekolah puteriku juga selalu ambil bagian di pawai tersebut, pihak sekolah mengirim beberapa orang dalam sebuah kelompok. Kebetulan puteriku adalah “Gadis “ sekolah tersebut dan sebagai duta sekolahnya akhirnya puteriku didaulat sebagai “Puteri Merak” dalam pawai tersebut. Kemudian puteriku dihias sedemikian rupa dengan memakai hiasan kepala yang jelas sangat berat.
Sebagai seorang “Puteri Merak” puteriku diharuskan duduk di atas sebuah motor yang dinaikkan di atas sebuah mobil yang sudah dihias, agar bisa terlihat jelas dan juga dengan didampingi beberapa dayang. Selama pawai berlangsung puteriku diharuskan untuk selalu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada orang-orang di sepanjang jalan yang dilalui. Aku sangat sedih karena tidak dapat menyaksikan hal itu, hanya mendengar dari cerita puteriku saja.
“Capek Mama…seharian harus tersenyum dan melambaikan tangan.”kata puteriku
“Namanya juga seorang puteri.”jawabku sambil tersenyum menggodanya
“Iya sih.”kata puteriku lagi
Sewaktu puteriku menunjukkan foto saat dia menjadi “Puteri Merak”. Aku tidak percaya kalau itu puteriku sebab benar-benar berubah wajah puteriku dan kelihatan sangat dewasa sekali.
Ingin sekali aku mendampingi puteriku seperti dulu, tapi aku menyadari kalau sekarang puteriku bukan lagi gadis kecilku yang manja dan sangat tergantung padaku. Setelah tinggal di Asrama Sekolahnya puteriku kini menjadi sosok yang mandiri dan dewasa. Pernah ada kejadian yang membuatku menangis karena mengkhawatirkannya. Saat itu aku sedang di Jakarta dan waktunya dia liburan sekolah. Aku sudah berencana pulang ke Palembang hari Sabtu, ternyata hari Jum’at puteriku sudah mau pulang.
Karena banyak yang harus diurus, akhirnya puteriku pulangnya kesorean. Jam 4 sore dia menelponku dan mengatakan baru mau berangkat ke Palembang. Aku terkejut bercampur cemas sebab dari sekolahnya ke Palembang harus menempuh perjalanan selama 2 jam kalau tidak mengalami kemacetan. Aku sangat mencemaskan akan keselamatan dirinya
“Adik…kamu pasti kemalaman sampai rumah.”kataku dengan nada cemas
‘Iya mama.”jawabnya santai
“Terus gimana adik…mama sangat takut.”kataku sambil menangis
“Mama tenang dulu dan jangan menangis.”katanya lagi
Lalu puteriku menutup telponnya dan berjanji akan menelpon lagi. Sambil menunggu telpon darinya aku terus menangis memikirkan hal ini. tak lama kemudian puteri menelpon dan mengatakan bahwa dia sudah menelpon suami adikku minta di jemput di Halte Bus. Akhirnya aku merasa sedikit lega dan tenang sambil berdoa agar puteriku dilindungi selama di perjalanan dan selamat sampai di Rumah.
Alhamdulillah…puteriku menelpon lagi dan mengatakan kalau dia sudah sampai di rumah. Ini adalah salah satu bentuk kemandirian puteriku dan selalu berusaha untuk tidak membuatku cemas.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply