Episode 17. Sebuah Kesalahan

Manusia bukanlah makhluk yang sempura, sebab kesempurnaan hanya milik Allah semata. Di balik berbagai hal yang luar biasa yang dilakukan seseorang , pasti terdapat sebuah kesalahan atau ketidaksempurnaan yang dimilikinya. Ini tergantung bagaimana cara seseorang menyikapi kekurangannya.
Manusia sering membuat suatu kesalahan baik disengaja ataupun tidak sengaja. Kesalahan dari unsur kesengajaan akan membawa seseorang ke dalam situasi yang tidak menyenangkan. Terkadang untuk mengakui kesalahan itu sangatlah sulit, apalagi sampai harus meminta maaf atas kesalahan tersebut.
Seperti sebuah peribahasa “ Akibat nila yang setitik, rusak susu sebelanga” ini menggambarkan sebuah kesalahan kecil yang berakibat besar pada lingkungan sekitarnya. Dari kesalahan kecil menjadi sebuah permasalahan yang besar.
Menyesal ???
Sebuah penyesalan tanpa ada niat dan usaha untuk memperbaikinya adalah kesia-siaan. Sekecil apapun kesalahan tetaplah berusaha untuk memperbaiki sebab kesalahan-kesalahan kecil akan terus bermunculan. Jadi sebelum kesalahan itu berbenturan dengan kesalahan lain, lebih baik menyelesaikannya lebih awal.
Ajarkanlah anak-anak kita untuk tidak berbohong, berani mengakui akan kesalahannya dan bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya. Sedini mungkin hal ini kita terapkan kepada mereka agar kelak setelah dewasa mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang telah mereka lakukan.
Hal inipun kami terapkan kepada putera-puteri kami sejak mereka kecil. Kami mengajarkan hal terkecil terlebih dahulu, seperti jangan mengambil uang tanpa meminta izin dulu walaupun hanya seribu rupiah, jangan memaksakan kehendak tanpa melihat situasi dulu, jangan berbohong, harus berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
Alhamdulillah…ini tertanam dalam diri anak-anakku, hal ini aku coba dengan meletakkan uang sembarangan yang bisa terlihat oleh mereka. Bila ada keperluan mereka akan menanyakan terlebih dahulu itu uang siapa dan boleh tidak diambil. Ini mungkin disebabkan kami tidak membiasakan mereka untuk jajan/membeli makanan di luar rumah. Sebab aku terbiasa membuatkan mereka makanan ringan dan kue-kue setiap hari.
Biasanya anak yang terbiasa jajan di luar rumah, dia akan terus meminta uang untuk membeli apa yang dia suka dan bila tidak diberi mereka akan marah. Dan ini bisa mengakibatkan mereka akan mengambil uang dengan diam-diam/mencuri. Jika ini dibiarkan akan berlanjut hingga mereka besar, maka harus ditanggulangi sedini mungkin.
Begitu juga dengan keinginan, kami tidak langsung mengabulkan apa yang mereka minta meskipun kami sudah mempunyai uang untuk itu. kami selalu menekankan kata “Nanti” bila papa mama sudah punya uang baru dibelikan dan itupun lihat seberapa pentingnya barang atau sesuatu yang mereka inginkan.
Kadang saya suka sedih bila melihat seorang anak mengamuk dan menangis di depan sebuah toko mainan karena menginginkan sebuah mainan dan keinginannya itu tidak dituruti. Dan pernah aku melihat sebuah kejadian di halte bus, sembari menunggu bus aku memperhatikan sekitarku, tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun. Dia mengamuk, menangis, melemparkan sandalnya kearah ibunya dan memukuli badan ibunya hanya karena keinginannya untuk menaiki bus.
Astaghfirullah…hatiku terenyuh dan bertanya pada hati kecilku, bagaimana cara mereka mendidik anaknya hingga berbuat demikian dan bagaimana mereka setelah besar nanti, apakah akan berubah dan bermacam pertanyaan bermunculan dibenakku.
Aku berharap agar para ibu-ibu muda untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya dan jangan memanjakan anak dengan sebuah kesalahan. Kadang walaupun kita sudah mendidiknya dengan baik, karena keadaan dan situasi membuat anak berbuat suatu kesalahan. Namun jika kita sudah menanamkan sebuah kebaikan pada diri mereka, mereka akan menyadari dan mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.
Inipun pernah kualami, puteraku pernah melakukan sebuah kesalahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini berawal ketika dia dibelikan sebuah sepeda motor saat usianya 13 tahun. Betapa senangnya putera dengan hal ini hingga dia merawat motornya dengan baik. Setiap hari selalu dicucinya sendiri bila pulang dari sekolah.
Namanya anak laki-laki, dia selalu ingin motornya kelihatan keren dan modis. Lalu dia menempelnya dengan bermacam stiker. Dan suatu hari dia melakukan hal yang mengejutkan untuk motornya.
Biasanya setelah pulang sekolah puteraku selalu ada di rumah, sore hari baru dia keluar bermain sambil membawa motornya. Tapi hari itu saat aku pulang kerja, aku tidak melihat puteraku dan motornya. Hanya ada puteriku dan pengasuhnya di rumah.
“Adik…Mas kemana ?”tanyaku pada puteriku
“Tidak tahu ma.”jawab puteriku
Setelah agak sore baru kulihat puteraku pulang dengan motornya.
“Assalamu’alaikum.”suara putera saat memasuki rumah
“Wa’alaikumussalam.”jawabku
Memang kami membiasakan anak-anak untuk memberi salam bila pulang ke rumah.
“Dari mana Mas ?”tanyaku
Tiba-tiba puteraku memegang tanganku dan menciumnya sambil berkata
“Ma…maafkan mas ?katanya dengan wajah penyesalan
“Kenapa Mas ?tanyaku dengan sedikit keheranan
“Ma…Mas tadi mengambil uang di dompet mama sebesar Rp. 100.000,-.”kata puteraku
Lalu dia menjelaskan uang itu dia gunakan untuk mengganti knalpot motornya. Katanya kalau Mas ngomong ke mama pasti tidak dibolehkan.
“Mas janji hanya sekali ini saja ma, Mas tidak akan mengulangi.”janji puteraku
Padahal aku hanya diam, tidak marah dan belum tahu kalau puteraku mengambil uangku.
Mendengar pengakuannya dan kesungguhan janjinya, aku memaafkan kesalahannya dan berharap dia tidak melakukannya lagi. Untuk jujur dan mengakui kesalahannya bukan hal yang mudah, apalagi anak seumur itu tapi puteraku mampu melakukannya. Aku menghargai kejujurannya itu dan sangat bersyukur karena dia menepati janjinya sebab hingga sekarang puteraku tidak pernah mengulangi kesalahannya itu.
Berawal dari sebuah kesalahan, akan ditemukan sebuah kebenaran yang sejati. Dan tidak ada kebenaran tanpa diawali dari sebuah kesalahan. Kejujuran itu kadang menyakitkan tapi lebih sakit lagi kalau dibohongi.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply