Episode 11. Kuliah “Gratis”

Setiap orang pasti menginginkan anak-anaknya berhasil dalam studinya dan sukses di dalam karirnya. Dan berharap pendidikan mereka lebih tinggi dari orang tuanya, untuk itu para orang tua berusaha sekuat mungkin membiayai dan mendorong agar anak-anak mereka semangat dalam belajar.
Kamipun berusaha melakukan yang terbaik untuk putera-puteri kami. Berusaha mencarikan sekolah yang baik dan bermutu dan menasehati mereka agar fokus pada sekolahnya untuk meraih masa depan yang cemerlang.
Saat puteraku kelas 3 SMA, kulihat dia sepertinya belum punya rencana untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada satu kesempatan ketika dia pulang ke rumah, aku menanyakan hal itu.
“Mas, rencananya mau kuliah di mana ?”tanyaku
“Kata mama, mas kuliah di Palembang aja.”jawab putera
Aku terkejut dengan jawaban puteraku itu dan aku baru ingat kalau aku pernah berkata meminta dia untuk kuliah di Kotaku agar bisa menemani dan menjaga aku dan adiknya. Rupanya itu menjadi hal yang serius baginya.
“Mas…itu bukan harga mati.”kataku
“Mas boleh kuliah di mana saja yang penting kamu suka.”kataku lagi
“Iya ma.”jawabnya
Untung aku tidak terlambat menanyakan itu dan membahasnya bersama. Dan aku juga menyesali perkataanku dan keinginanku dekat dengan anak-anakku. Seharusnya itu tidak aku lakukan karena itu jadi beban pikiran puteraku.
Alhamdulillah…puteraku menuruti apa yang kukatakan, dia pun mulai memikirkannya dan mengambil langkah untuk masa depannya.
Mendekati kelulusannya, dia mendapat dua surat dari dua universitas yang berbeda, yaitu :
1. Universitas STT Telkom di Bandung
2. Universitas IPB
Dalam memilih jurusan kuliah dan tempat kuliah sekolahnya membantu menyalurkan, jadi kita tidak pusing memikirkannya yang penting anak kita mempunyai nilai yang bagus.
Puteraku memutuskan mengambil STT Telkom di Bandung. Di saat teman-temannya sibuk mencari dan berpikir mau kuliah di mana, puteraku tenang-tenang saja sebab dia dinyatakan diterima di STT Telkom tersebut setelah mengisi formulir dan mengirimkan syarat-syarat yang diminta.
Tiba waktunya puteraku pergi untuk melanjutkan studinya, karena kondisi yang tidak memungkinkan kami tidak bisa mengantar dan mendampinginya. Dia hanya berangkat sendiri dengan sebuah koper dan sebuah ransel. Aku mencoba bersikap tegar dan melepasnya dengan senyuman walau hatiku begitu hancur. Kupeluk dan kucium puteraku sebelum dia memasuki area keberangkatan, mataku terus memandangnya sampai dia hilang dari penglihatan.
Keesokan harinya putera menelpon mengabarkan bahwa dia sudah sampai di asrama dengan selamat. Yah…untuk tahun pertama para mahasiswa tinggal di asrama universitasnya.
“Mama…hanya Mas yang tidak diantar sama keluarga.”kata puteraku terdengar sedih
“Mas kan sudah besar, waktu TK saja tidak mama tungguin.”jawabku untuk menguatkan hatinya.
Aku mencoba menyembunyikan kesedihanku dari puteraku, aku tidak ingin semangatnya down dengan situasi yang kuhadapi. Setelah dia menutup telponnya aku menangis tanpa henti karena tidak kuat menahan beban kesedihanku.
Setelah beberapa bulan menjalani kuliahnya, tiba-tiba puteraku menelpon dan mengatakan ada program “Beasiswa untuk Mahasiswa yang berprestasi tapi orangtuanya tidak mampu”. Dia ikut dan minta disiapkan surat-surat yang dibutuhkan. Setelah semua persyaratan lengkap lalu diajukan ke Fakultasnya.
Alhamdulillah…puteraku dinyatakan berhak menerima beasiswa tersebut. Beasiswa itu berlangsung hingga kuliahnya selesai tapi dengan syarat nilai mata kuliah tetap dipertahankan. Kalau mata kuliahnya jatuh, beasiswanya akan ditarik kembali. Selain bebas uang kuliah sampai lulus, semua uang saat pendaftaran juga dikembalikan dan juga mendapat uang saku bulanan. Dan sekarang puteraku lagi bergulat dengan skripsinya, semoga diberi kemudahan dan kelancaran dan mendapat nilai yang memuaskan. Aamiin.
Terima kasih ya Allah atas semua rezeki dan nikmat yang kau berikan kepada kami.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply