Episode 10. Malaikat Penolong

Di dalam kehidupan yang fana ini, tidak selamanya kita mereguk kebahagiaan, adakalanya kita diuji dengan berbagai macam cobaan. Sebuah musibah datangnya selalu tiba-tiba dan tanpa diundang. Musibah itu merupakan pemberian sekaligus cobaan untuk kita dan ada sebuah rahasia kebaikan dibalik itu.
Seperti sabda Rasulullah :
“ Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelehan, sakit, kecemasan, kesedihan, marabahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).

10.1. Putriku Pelindungku
Setiap hari aku selalu mengantar dan menjemput putriku sekolah, sebab jarak antara rumah kami dan sekolahnya sangat jauh. Bila naik bus/angkot harus dua kali ganti kendaraan. Aku tidak berani melepaskan putriku untuk pulang pergi sekolah seorang diri, sebab dari segi keamanan tidak menjamin. Jadi lebih baik aku yang bersusah payah dari pada terjadi apa-apa dengan putriku.
Suatu sore aku menjemput putriku yang kebetulan hari itu dia ada jadwal less (tambahan pelajaran) di sebuah tempat kursus yang dekat dengan sekolahnya. Jadi dia tidak perlu bolak balik pulang kerumah, setelah sekolah bubar dia langsung ke tempat kursus tersebut. Jadi selain efisien di waktu juga menghemat biaya transportasi.
“Ma,makan pizza yuk !” ajak putriku saat ada diboncenganku
“Boleh.”jawabku

Lalu aku menghentikan sepeda motorku di sebuah tempat pizza hut, yang searah dengan jalan pulang kerumah. Putriku memesan makan kesukaannya “Lasagna” dan sebuah pizza ukuran kecil untuk kami berdua juga minuman. Karena tempatnya nyaman sengaja kami berlama-lama disitu.
Lebih kurang satu jam kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Dengan kecepatan sedang aku menjalankan kendaraanku di Jalan raya yang sangat ramai, karena waktunya orang-orang pulang kerja. Kira-kira 20 menit perjalanan, aku merasakan ban depan sepeda motorku sedikit oleng kekanan, lalu aku membelokkan sedikit kearah kiri. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi, saat sadar dari pingsan aku baru tahu kalau aku dan putriku mengalami kecelakaan (sepeda motorku jatuh sendiri).
Lalu aku dibantu oleh orang-orang yang kebetulan ada di tempat kejadian. Tidak berapa lama adik laki-lakiku datang dan kemudian dia menelpon pamanku. Pamanku datang dengan mobilnya lalu aku dibawa ke rumah sakit terdekat dan langsung ke UGD. Setelah lukaku dibersihkan dan tanganku diberi penyanggah lalu aku ditempatkan di sebuah kamar.
Setelah agak tenang, tiba-tiba aku baru teringat dengan putriku. Kulihat putriku ada disampingku dengan mata yang habis menangis
“Apa adik mengalami luka ?”tanyaku
“Tidak ada ma.” Jawab putriku sambil menggelengkan kepalanya.
Aku sangat bersyukur karena puteriku tidak mengalami cedera sedikitpun.
Dan yang lebih membuatku bersyukur, ternyata puteriku bisa mengatasi masalah ini. Saat ditanya polisi tentang keluargaku, puteriku langsung menelpon adik laki-lakiku dan memberitahukan tentang kecelakaan yang kami alami. Puteriku benar-benar tegar. Dia hanya menangis saat melihat wajahku bersimbah darah sebab selain tangan kananku yang retak ternyata diantara bibir dan hidungku ada luka yang terus menerus mengeluarkan darah. Sembari menunggu adik laki-lakiku datang, puteriku membersihkan darah yang ada disekitar bibirku dan memberi aku air minum.
Puteriku benar-benar malaikat penolongku, kalau tidak karena kecekatan dan pikiran yang tanggap, mungkin proses pertolongan untukku akan berjalan lama. Orang-orang yang ada di sekitar tempat kejadian hanya bisa menolong sekedarnya, untuk mengambil tindakan mereka tidak mungkin berani. Mereka akan menunggu pihak keluargaku untuk kelanjutannya.

10.2. Puteriku di Lindungi Malaikat

Benar seperti yang kudengar selama ini bahwa anak-anak itu selalu dilindungi oleh Malaikat. Itu terbukti dengan puteriku sendiri. Saat kecelakaan itu sedikitpun tidak ada goresan pada tubuhnya, padahal saat itu itu dia juga tidak memakai helm. Berbalik dengan kondisiku yang sangat parah.
Allah Maha Tahu… jika saat itu puteriku juga terluka siapa yang akan merawatnya dan merawat diriku. Dan juga Allah menggerakkan hati puteriku untuk mengambil langkah mengatasi keadaan. Padahal saat itu puteriku baru berusia 12 tahun dan terbiasa manja denganku. Namun dia mampu mengatasi dan tegar menghadapinya (tidak cengeng).
Alhamdulillah…terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang Kau beri.

Rate this article!
author

Author: