Edisi 13. Karena Keadaan

Hidup adalah perjuangan, perjuangan bukan hanya berkorban jiwa dan raga. Perjuangan adalah soal kemauan untuk terus hidup meski begitu banyak rintangan yang kita hadapi. Jika kita tidak berjuang kita tidak akan mengalami yang namanya kemajuan. Berjuanglah untuk maju demi mencapai apa yang kita inginkan.
Hidup terkadang tampak tidak adil jika kita memandangnya dari sudut kekecewaan. Hidup itu sebenarnya sangat sederhana, tergantung bagaimana cara kita mensyukurinya. Jika kita merasa hidup kita penuh dengan kesulitan, jangan menyerah dan teruslah berusaha. Kita butuh perjuangan yang panjang untuk mencapai sebuah kesuksesan.
Hidup dirantau, jauh dari keluarga dan dengan ekonomi yang pas-pasan, bukan hal yang mudah untuk dijalani. Mungkin inilah yang dirasakan puteraku saat memutuskan kuliah di kota lain. Kota yang belum pernah ditapakinya, yang benar-benar asing baginya.
Hidup itu adalah sebuah pilihan, jika kita sudah memilih jalan hidup kita, kita harus bertanggung jawab penuh dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Dan itu mungkin yang ada dalam diri puteraku, dia tidak pernah mengeluh akan kondisinya.

13.1. Tukang sapu

Awal pertama memasuki asrama sekolah, yang pertama ada dalam pikiran kita adalah bagaimana keadaan asrama tersebut dan siapa yang menjadi teman satu kamar. Mampukah kita beradaptasi dengan keadaan tersebut.

Dalam satu kamar terdiri dari beberapa orang, datang dari daerah yang berbeda dan tentunya dengan berbagai macam sifat dan tingkah laku. Ini bukanlah hal yang sulit bagi puteraku karena dia anak yang mudah bergaul dan peduli dengan lingkungannya.

Karena tinggal dalam satu kamar, secara tidak langsung kita harus sama-sama bertanggung jawab untuk menjaga keamanan dan kebersihannya. Hal ini dimanfaatkan oleh puteraku untuk menghasilkan uang walau sedikit tapi halal. Dia menawarkan diri kepada teman-teman satu kamarnya, bagaimana kalau dia yang bertugas membersihkan kamar dan mereka tinggal memberikan sejumlah uang sebagai upahnya.

Saat puteraku menelpon dan menceritakan hal itu, hatiku terasa miris mendengarnya. Demi mencukupi kebutuhan hidupnya, puteraku tidak merasa malu melakukan pekerjaan itu.

13.2. Berjualan di Asrama

Setelah beberapa bulan dari itu, puteraku memberi kejutan lagi dengan apa yang dia lakukan. Karena puteraku sangat tertarik dengan dunia bisnis, maka dia memilih jurusan “Manajemen Bisnis”. Saat mendapat tugas dari dosennya tentang bagaimana memulai usaha bisnis, puteraku dan teman-temannya langsung mempraktekkannya.

Mereka membuka usaha dengan berjualan kopi dan mie instan. Mereka melakukan itu dari kamar mereka dan melayani teman-teman dari kamar-kamar lainnya. Mereka memesan lewat telpon dan langsung diantar ke kamar masing-masing.

Saat puteraku menelpon dan menceritakan tentang usahanya itu. aku menanyakan bagaimana cara mereka memasaknya dan apa menunya.
Rupanya putera terinspirasi dari makanan yang kubuat saat mereka masih kecil dulu. Aku suka membuatkan mereka semacam pizza/omelet mie, selain mudah juga ekonomis.
Caranya : mie instan direbus lalu ditiriskan, setelah itu masukan telur dan bumbu mie tersebut terus diaduk-aduk hingga rata. Dan terakhir di goring di Teflon kecil dengan sedikit minyak dan api yang kecil agar matang dengan sempurna.

Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh puteraku. Sepertinya rasa malu dan rendah diri sudah hilang dalam dirinya demi untuk sebuah keberhasilan. Selain dapat menyelesaikan tugas belajarnya juga dapat menghasilkan uang yang halal untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Tapi aku tetap mengingatkan bahwa sekolah tetap nomor satu, jangan karena tergiur dengan mencari uang hingga kuliahnya jadi berantakan. Karena disibukkan dengan kuliahnya, akhirnya mereka menutup usahanya itu. padahal mereka sudah mendapat tawaran untuk melayani semua mahasiswa di sana.
Namun putera bukan tipe anak yang pendiam, dia terus berpikir bagaimana caranya untuk menghasilkan uang tanpa mengganggu kuliahnya. Setelah setahun lebih tinggal di asrama, puteraku diharuskan keluar karena sudah peraturan dari universitasnya.
Puteraku dan beberapa temannya akhirnya menyewa sebuah rumah. Lalu mereka mencoba membuka sebuah usaha “café” kecil-kecilan di lingkungan tempat tinggalnya. Karena tidak sinkron dengan pola pikiran akhirnya bubar. Setelah itu puteraku mencoba ikut usaha membuat baju kaos dan juga ikut sebuah “EO” sebuah pernikahan.
Kini puteraku lagi fokus menyusun skripsinya untuk menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin. Aku hanya berdoa dan berharap semoga putera diberi kelancaran dan kemudahan serta mendapat hasil yang memuaskan. Aamiin.

Rate this article!
Edisi 13. Karena Keadaan,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: