Diriku dan Dirimu (Zadul dan Kini)

Kemerosotan nilai dari perilaku anak bangsa masih menjadi sorotan saat ini, dari pergaulan yang katanya korban sinetron, ada juga yang korban idola atau karena korban teman-temannya. Mungkin terlalu cepat mengatakan mereka korban karena mungkin karena zaman yang semakin modern sehingga mereka harus menyesuaikan diri dengan dunia sekarang ini. Kalau tidak mengikuti perkembangan zaman maka akan jadi terbelakang (Apa Iya??? Jadi berpikir!). Ada juga yang bilang itu karena mungkin kamu nya yang lahir dan hidup di zaman kuno alias zadul (zaman dulu). Okeylah, mungkin memang saya nya yang lahir di zaman dulu jadinya tidak tahu kalau zaman sekarang itu sudah modern (Aku sudah tua…hehehe).

Perilaku tidak baik dari generasi zaman sekarang sangat di dukung dengan banyak hal, media elektronik yang menayangkan beragam tontonan yang bisa dibilang menarik buat mereka, suguhan aktor dan aktris muda nan rupawan. Belum lagi alur cerita yang mngisahkan cinta kasih di ‘sekolah’, beragam perilaku anak muda metropolitan. Lebih heboh lagi Idol-Idol K-POP yang bisa dilihat kinclong, penampilan mereka yang di jadikan acuan buat para generasi zaman sekarang, sungguh luar biasa. Inilah yang dinamakan Globalisasi, zaman dimana budaya-budaya luar yang dulu asing sekarang menjadi sesuatu yang wajar. Baik jika budaya-budaya itu masih sesuai dengan nilai-nilai bangsa ini (Dasar Negara). Tapi yang membuat sangat miris, budaya asing itu turut diambil dan dicontoh dengan alasan itu tadi modern atau yang lebih keren lagi untuk memperkaya budaya bangsa kitapi jika itu, mungkin iya untuk memperkaya bangsa kita tapi jika itu malah membuat anak bangsa lupa dengan identitas bangsanya sendiri.

Balik lagi dengan tontonan di televisi sekarang ini, tayangan yang menampilkan pola kehidupan puber anak SMA bahkan anak SMP yang mungkin sebagian orang menganggapnya wajar-wajar saja dan saking positif thingkingnya menjadi sangat bagus untuk ditanyangkan (coba bareng kita mikir ya  ), pola tingkah dan prilaku serta bergaul tayangan sinetron-sinetron itu menggugah anak-anak untuk meniru dan megaplikasikannya dalam keseharian mereka. Anak SMA kongkow-kongkow sampai malam hari dengan alasan refreshing (WOW). Mungkin dulu memang tidak ada tempat buat kongkow-kongkow tapi eits jangan salah tempat kongkow kita-kita zaman dulu lebih membuat refreshing, sore hari setelah Ashar duduk di dangau tepi sawah sambil bercanda atau sesekali menghalau kawanan burung yang nangkring di padi yang tengah merunduk (hehehe). Ada lagi, saking hits nya anak zaman sekarang merayakan hari ‘pertemanan’ disetiap bulannya, minggunya bahkan harinya (selamat hari jadi satu mingguan sayang, selamat hari jadi satu bulan ya dan sebagainya…). Ini efek dari tontonan mereka loh, ngelebihi orang yang sudah menikah saja bahkan akhirnya ke arah yang lebih parah perayaan ini meningkat dengan liburan bareng dan bermalam bersama. Terus orang tuanya mana? Guru nya juga mana? Ini yang katanya modern dan kekinian atau ini yang dinamakan wajar, OK ini masih wajar (menurut yang disana…), jangan menyesal jika nanti kejadian yang tidak di inginkan terjadi.

Walaupun mereka sudah merasa usianya belas-belasan bukan lagi satuan namun justru saat inilah mereka harus mulai bisa memilih mana yang baik dan tidak, peran penting kita orang tua dan guru yang harus ekstra mengingatkan dengan cara yang baik tentunya, dengan cara yang mereka bisa terima. Komunikasikan setiap apapun dengan baik, bicaralah karena saat diskusi kita dan mereka adalah sahabat, buat mereka merasa nyaman bahkan sangat nyaman. Jadilah orang pertama yang akan dia kabari apapun yang terjadi padanya di luar sana, jadilah yang pertama tahu hendak kemana dia dengan siapa dan berapa lama. Jadilah tempat yang sangat mereka butuhkan. Masa ini, masa paling penting dalam proses belajar dewasa buat mereka. Biarkan mereka akhirnya tahu mana yang benar dan tidak dalam arti sebenarnya bukan dari arti sebaliknya.

Rate this article!
author

Author: