Direm Dulu

Sepasang suami istri bertamu malam itu seba’da maghrib. Setelah basa basi sejenak, sampailah mereka ke inti tujuan kedatangan mereka malam itu. Mereka mengajukan proposal pinjaman untuk membeli rumah. Jumlahnya tidak sedikit. Mereka ingin meminjam uang sebesar Rp. 50.000.000,00.

Aku tak bisa memberikan pinjaman, karena memang tak punya uang sebanyak itu. Kuberikan mereka buku mas Ippho tentang keajaiban membuka pintu rejeki untuk dibaca dan diamalkan. Raut kecewa terpancar dari wajah mereka. Bagi mereka mungkin itu bukan solusi, bagi mereka yang diperlukan saat itu adalah uang tunai, bukan nasehat ini itu. Tapi biarlah. Aku hanya bisa memberinya itu. Heheheh.

Di saat yang berbeda, kembali datang sepasang kerabat. Setelah ngobrol kesana kemari, keluarlah maksud kedatangannya malam itu. Mereka ingin meminjam sejumlah dana untuk menyelesaikan renovasi rumahnya.

Aku Cuma bisa tersenyum. Mereka datang dengan motor yang lebih bagus dari motor milikku. Dan mereka juga bisa menyaksikan bahwa harta berharga yang kumiliki saat itu hanya rumah yang kami tinggali dan motor yang tak lebih bagus dari miliknya.

Kuberi masukan agar dia menjual saja motornya itu untuk menyelesaikan renovasi rumahnya. Dan jawabannya? Dia merasa sayang kalau harus menjual motor. Ya sudahlah, saya meminta maaf  pada mereka karena tak bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan. Raut kecewa terpancar dari keduanya.

Di waktu yang lain, ada lagi kerabat yang hendak meminjam untuk membayar uang uang muka motor. Anaknya baru saja diterima bekerja di sebuah counter HP, dengan gaji UMR. Belum genap 3 bulan bekerja sudah kebelet pengen punya motor baru. Kalau uang  mukanya saja berhutang, bagaimana nanti dengan angsuran bulanannya, bensinnya lain-lainnya?

Kunasehati agar keinginan itu di rem dulu. Nabung dulu. Nanti kalau uangnya sudah cukup, silakan beli motor sesuai dana yang ada. Ngga usah memaksakan beli motor baru. Tiga tahun itu ngga sebentar lho. Kembali aku disuguhi wajah penuh kecewa.

Begitulah. Saat mereka curhat, yang dibutuhkan bukan nasehat ini itu, bukan nasehat tentang riba, bukan nasehat untuk menabung dan menahan keinginan, bukan tentang menunda kesenangan. Yang mereka butuhkan adalah dana segar, terlepas dari kebutuhan itu urgen apa tidak, penting apa tidak, masuk akal apa tidak.

Kemarilah aku beritahu. Jangan malu terlihat miskin. Malulah ketika kita pura-pura kaya, padahal itu semua hasil berhutang. Hutang riba pula. Hidup itu seadanya saja, jika memang belum mampu tidak usahlah memaksakan diri. Dunia itu dikejar makin menjauh. Nafsu itu jika dipenuhi makin membuat dahaga.

Jika memang belum punya motor, naik kendaraan umum itu bukan aib. Jika memang belum mampu beli rumah, mengontrak itu bukan suatu kehinaan. Jangan bermudah-mudah untuk berhutang, terlebih jika itu hutang riba. Takutlah akan sabda Rosulullah:

“Tak seorangpun memperbanyak (harta kekaayaan) dari hasil riba, melainkan pasti akibat akhirnya akan jatuh miskin.” (HR. Ibnu Majah)

Rate this article!
Direm Dulu,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply