DILAMAR OLEH PERUSAHAAN BESAR ? KOK BISA ?

Ojatsu:
DILAMAR OLEH PERUSAHAAN BESAR…?

Sejak duduk di bangku SD saya memang sudah hobi berjualan. Waktu SD kelas 3 saya jualan pisang goreng buatan ibu. Saat teman Kelas 6 SD pada sibuk merayakan kelulusannya, saya malah sibuk jualan mainan anak…

“Saya ingin menjadi bos di perusahaan saya sendiri…!” Itulah prinsip saya sedari kecil. Saya selalu membayangkan punya perusahaan besar, pergi ke kantor dengan memakai jas lengkap dengan dasinya pakai mobil SPORT ala Power Ranger… hihihi… Ya namanya juga masih anak-anak. Bebas berimajinasi.

Ketika SMA menjelang kelulusan, guru BK saya bertanya tentang jurusan apa yang akan saya ambil di perguruan tinggi. Saya bilang: “Saya ingin kuliah di Universitas Negeri Jakarta jurusan Matematika aja deh.”

Kalau ditanya kenapa ambil jurusan matematika, sayapun tidak tahu alasannya. Tapi sekarang baru terasa manfaatnya. Salah satunya saya mampu mencari solusi dari berbagai permasalahan.

Alhamdulilah, qodarullah saya masuk universitas tanpa harus tes. Syariatnya karena nilai rapor matematika saya bagus. Selama kurang lebih 5 tahun, berkah rahmat Allah SWT saya lulus menjadi sarjana pada tahun 2013. Masih dengan prinsip awal, saya tidak mau menjadi karyawan. Saya hanya ingin menjadi pengusaha. Mulailah saya membangun perusahaan pengembangan diri dalam bidang hipnosis islami. Lebih tepatnya saya menjadi seorang trainer.

Lah, kok bisa lulusan Matematika berbelok menjadi seorang trainer? Hipnosis pula?
Hehe

Ya. Mungkin itu jalan dari Allah SWT. Ketika kuliah, saya sempat memperdalam ilmu hipnosis dengan tujuan bisa merubah karakter anak yang malas belajar bisa menjadi rajin. Kebetulan selama kuliah kerjaan sampingan saya adalah mengajar les privat mata pelajaran matematika.

Alhamdulillah lembaga pelatihan hipnosis yang saya bangun bersama kakak saya bisa dibilang sukses menjadi manfaat bagi banyak orang. Buktinya sampai saat ini sudah sekitar 1500 orang yg telah mengikuti training saya. Alhamdulilah.

Saya sangat menikmati profesi saya sebagai pengusaha di bidang training. Karena tak harus ngantor tiap hari. Sampai pada suatu ketika saya bergumam dalam hati, “Kasihan ya para karyawan yang harus kerja setiap hari. Bermacet-macetan setiap pagi dan sore. Saya sih ogah.”

Ternyata Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Hingga akhirnya Allah membuat saya menarik perkataan saya dengan mudahnya.

Qodarullah, saya bertemu dengan seorang Ustadz yang merupakan supervisor di sebuah perusahaan umroh dan haji terbesar di Indonesia. Kebetulan saya pernah berangkat umroh disana. Beliau tanya: “Mas Ojatsu, sekarang kerja dimana?”
“Alhamdulillah saya tidak terikat kerja di perusahaan manapun, Ustadz.” Singkat cerita dia menawarkan saya untuk menjadi staff di perusahaan tersebut. “Kerjanya insya Allah sesuai profesi antum sebagai pembicara. Yakni presentasi dan memotivasi orang untuk umroh.” Ujar Ustadz.

Entah apa yang terpikir dalam kepala saya waktu itu. Sontak saya bilang: “Boleh ustadz.” Padahal menit sebelumnya keyakinan saya masih tidak mau alias anti untuk menjadi karyawan.

Yaa Muqolibal qulub. Allah benar-benar Maha membolak-balikkan hati setiap insan. Setelah sholat istikharah, hati saya semakin yakin untuk bekerja mengabdi untuk perusahaan umroh tersebut bersama ustadz.

Apalagi setelah Ustadz bilang: “Mas ojatsu, besar penghasilan itu tidak menjamin keberkahan. Tapi jika kita tulus membantu dan melayani para tamu Allah karenaNya pasti keberkahan hidup akan diraih. Jika hidup sudah berkah, tidak hanya di dunia kita bisa bahagia tetapi juga di akhirat kelak.” Aduh hati ini semakin meleleh. Karena sesuai dengan visi hidup saya, “Sukses di dunia untuk bahagia di akhirat.”

Akhirnya, lamaran itu saya terima. Alhamdulillah sekarang sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan umroh dan haji terbesar di Indonesia. Semoga Allah ridho.

Ternyata menjadi karyawan itu tidak sesusah yang saya bayangkan. Mungkin karena kerjaannya sesuai salah satu dengan tujuan hidup saya, “Bermanfaat bagi banyak orang dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meskipun harus ngantor setiap hari, saya tetap bahagia menjalaninya karena saya tahu tujuan hidup terbesar saya adalah akhirat. Di dunia ini tempatnya bekerja keras untuk mempersiapkan kehidupan kekal di akhirat.

Sejak saat itu, saya punya keyakinan bahwa yang penting itu bukan jadi karyawan atau pengusaha. Namun, tujuan kita menjadi pengusaha atau karyawan itulah yang menjadi penilaian Allah SWT.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply