DIET TELEVISI, WAJIB!

Pernah dengar kata diet? Pasti sering dengar ya, terus pasti dihubungkan dengan keinginan seorang wanita yang ingin badannya kurus langsing, betul kan? Hehe..bukan, ini tidak ada hubungannya dengan langsing. Diet televisi pada dasarnya sama dengan diet makanan, yakni hanya memasukkkan hal-hal yang penting ke dalam tubuh kita. Dalam konteks televisi, kita berusaha mendampingi dan menyeleksi setiap tayangan televisi yang sekiranya cocok dan bermanfaat untuk anak kita. Berbekal panduan televisi, orang tua bisa mengetahui acara yang pantas di tonton anak dan tidak pantas di tonton. Dan untuk menjalankan program Diet televisi ini orang tua dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dalam mengenal acara televisi yang cocok untuk anak-anaknya.

Diet televisi sepertinya wajib dilakukan oleh seluruh orang tua Indonesia yang memiliki anak, terutama balita. Hal ini dilakukan untuk mencegah dari hal-hal negatif tayangan televisi. Sudah jelas kan bagaimana acara-acara yang ada di televisi-televisi nasional Indonesia? Saya pikir hanya sedikit sekali yang ramah anak, paling sekitar 3 % saja acara televisi yang lumayan cocok untuk anak. itu juga tetap harus dengan pendampingan orang tua. Sisanya acara-acara yang tak layak ditonton anak-anak. Sebetulnya PR banget nih untuk pertelevisian Indonesia membuat acara yang ramah anak, tetapi di lain pihak orang tua juga seharusnya lebih bijak dalam menyediakan hiburan televisi di rumah. Jika di perhatikan televisi banyak memberikan dampak negatifnya daripada positifnya. Coba sebutkan acara televisi Indonesia yang cocok banget untuk di tonton anak-anak? saya yakin pasti ibu-ibu bapak-bapak kebingungan, paling cuma bisa jawab serial upin ipin, betul betu betul..?

Televisi tidak dipungkiri menjadi sarana hiburan yang menjadi andalan seluruh masyarakat Indonesia, hampir semua penduduk Indonesia memilikinya. Televisi dianggap sebagai sarana hiburan yang murah dan cukup efektif untuk keluarga mereka. Televisi juga kadang disangkut pautkan dengan tingkat prestise seseorang,  yang mana orang dianggap berada jika memiliki barang elektronik yang satu ini. Sayangnya, tidak semua masyarakat Indonesia memahami akan dampak buruk tayangan televisi, membiarkan anak didepan televisi seharian kerap terjadi di sebagian besar rumah di Indonesia, apalagi jika hanya ada asisten rumah tangga di rumahnya. Anak-anak dibiarkan menonoton televisi tanpa adanya pendampingan untuk menyeleksi dan membahas hal-hal yang ada di tayangan tersebut. Yang penting anak-anak anteng gak rewel mereka menjadikan televisi sebagai sarana pengasuhan yang efektif.

Menurut Milton Chen, Ph.D dalam bukunya yang berjudul “anak-anak dan televisi” (PT Gramedia Pustaka Utama, 1966), kita tidak mungkin membuang televisi. Tapi tak mungkin pula menongkronginya berjam –jam, yang perlu dilakukan adalah bagaimana orang tua turut membantu anak-anak agar menonton televisi dengan bijaksana. Chen mengungkapkan dengan gamblang bahaya-bahaya televisi bagi anak-anak. Salah satunya ia menyebut adegan kekerasan yang mempengaruhi anak bertingkah agresif. Didukung oleh beberapa penelitian, mereka yang agresif kebanyakan dari mereka yang suka menonton film kekerasan, tak terkecuali film kartun. Menghadapi bahaya televisi, Chen memberikan solusi untuk menghadapi bahaya televisi tersebut salah satunya dengan Diet TV Keluarga.

Adalah Dr, Brad Bushman, seorang pakar Iowa state University yang melakukan penelitian terhadap menurunnya tingkat daya ingat seseorang akibat dari seringnya menonton televisi yang mempertontonkan kekerasan, cukup dengan dar der dor atau baku tembak, daya ingat pemirsa dirusak. Entah bersifat sementara atau permanen, Bushman tidak menjelaskannya.

Alhamdulillah beberapa dari orang tua sekarng sudah tau dan memahami dampak negatif dari tayangan televisi buat anaknya, banyak yang sudah “menggudangkan” televisi dan menggantinya dengan sarana lain yang lebih ramah anak. tetapi itu masih dalam jumlah sedikit. Masih banyak orang tua apalagi di perkampungan yang orang tuanya memiliki wawasan yang kurang banyak, masih membiarkan anaknya menonton televisi yang notabene untuk konsumsi dewasa. Maka tak heran kita sering lihat anak kecil yang pinter nyanyi dan goyang menirukan biduan atau penyanyi pujaan orang tuanya. Kita juga banyak melihat bagaimana anak-anak remaja zaman sekarang berperilaku layaknya seorang artis sinetron. Kita juga bahkan sering melihat anak-anak zaman sekarang tumbuh lebih cepat dewasa daripada anak-anak zaman dulu. Banyak pergeseran norma-norma moral akibat dari tontonan televisi yang ditontonnya sejak kecil. Dan yang perlu dipahami tidak semua tayangan kartun cocok untuk anak-anak, jangan mentang-mentang kartun dainggap saja sebagai acara yang cocok untuk anak-anak. Tidak ya!

Kalau solusi dari saya, masih ingat kan hasil riset dari BPS Indonesia yang menyebutkan bahwa dari 1000 anak Indonesia yang memiliki minat membaca hanya satu orang saja, sisanya menonton televisi. Ingat kembali kita sebagai umat islam dengan surat petama Al quran yang diturunkan Allah SWT yaitu surat Al alaq, “iqra..”yang artinya bacalah! Baca ayah bunda..yuk mari tanamkan minat membaca anak sejak kecil bahkan sejak lahir anak bacakan buku, bacakan al quran. Jauhkan televisi bahkan kalau bisa jangan ada televisi di rumah, penuhi rumah dengan buku-buku bergizi, dengan ayat-ayat suci Al quran, in sha Allah anak-anak menjadi anak yang soleh solehah, yang berilmu tinggi berwawasan luas. Yuk bangun generasi penerus bangsa Indonesia dari rumah kita masing-masing sekarang juga!

Sidoarjo, 22 januari 2017

About the Author

Yetinurma

No Comments

Leave a Reply