DIAM ITU BISA JADI MASALAH (II)

Islam sudah mengatur semua hal yang berhubungan tentang pernikahan baik itu dari proses pengenalan calon pasangan (ta’aruf) sampai dengan  akad pernikahan. Misal dari proses pengenalan calon pasangan, tidak mungkin kan kamu mau menikah tetapi tidak mengenal calon pasanganmu. Ya biar kenal berarti harus bicara kan sama dia? Kan udah tau malu masih disuruh bicara. Eits ntar dulu, maksudnya kamu gak harus bicara langsung sama dia apalagi kalau sampai pembicaraannya menjurus mengajak pacaran atau pertunangan sudag jelas haram hukumnya.

Proses ta’aruf ini dapat kamu lakukan dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat lelaki atau perempuan dan juga bisa dari orang yang mengenal lelaki atau wanita tersebut. Gak malu kan untuk bicara sama kerabat, teman atau dengan gurunya. Nah biasanya untuk tipe orang yang pemalu bicara langsung memiliki satu kelemahan yang bisa mengundang terjadinya fitnah. Emang apaan? Dengan alasan untuk ta’aruf baik saya atau kamu pasti tidak akan terlalu malu untuk melakukan pembicaraan lewat telepon, sms, atau media sosial lainnya, ya karena gak harus langsung bertatap muka. Jangankan baru ta’arufan yang sudah meminangpun harus tetap menjaga dirinya dari fitnah. Jadi tetap harus menjaga diri dan tetap kamu jaga rasa malumu.

Nah ketika proses ta’aruf ini diterima dari sini kamu sudah harus memiliki keberanian, walaupun kamu seorang pemalu 360° mau tidak mau kamu harus berani. Kalau masih takut juga ya udah gak usah nikah – nikah aja. Hidup aja sendirian di hutan biar gak ada yang ganggu dan gak ada yang akan buat kamu malu. Ketika ta’aruf ini diterima kamu akan memasuki tahap Nazhor. Apaan lagi itu nazhor? Ribet benar urusannya. Dalam tahap ini dituntunkan bagi lelaki untuk melihat dan mengamati calonnya tersebut. Kalau sudah dilihat ya segera tundukkan pandangan lagi. Gimana mau lihat kalau gak ada keberanian.

Nah ini tahap paling krusial ketika ingin menikah dan sudah seharusnya kamu berani bicara, yaitu tahap khitbah (meminang) dan akad nikah. Wah kacau dunia persilatan kalau mau khitbah dan akad nikah diwakilkan sama orang lain. Jika sudah memiliki ketetapan hati untuk menikah maka sudah seharusnya kamu berani untuk berbicara dengan orang tuanya atau walinya. Sesulit apapun itu kamu harus berani bicara dan juga harus siap dengan jawaban apapun dari orang tua atau walinya.

Akad nikah yang merupakan perjanjian antara kedua belah pihak yang melangsungkan pernikahan yaitu berupa ijab dan qabul. Inilah puncaknya bahwa kamu harus bicara. Gak akan terjadi pernikahan jika kamu terdiam gemetaran dalam tahap ini. Orang yang tiga kali salah aja disiram pakai air, gak bisa bayangin kalau saya atau kamu cuma diam aja dalam tahap ini… Memang tidak mudah bagi seorang pendiam untuk mengungkapkan keinginan  menikahnya tetapi InsyaAllah jika berjodoh Allah akan permudah semuanya termasuk dalam hal berkomunikasi atau berbicara.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply