DEMAM PPDB ONLINE

DEMAM PPDB ONLINE
Oleh : Abdullah Makhrus

Malam hari kemarin, saya tidak jadi tidur lebih awal setelah melihat sebuah pesan WhatsApp dari salah satu wali murid yang tertulis, “Pak, nama anak saya nyaris hilang dari daftar smp pilihannya pak. Kasihan anak-anak pak. Banyak yang tidak masuk sesuai harapan”. Ada pula pesan yang berbunyi, “Pak, nama anak saya sudah tidak ada lagi di pilihan pertama , lantas saya harus bagaimana pak?”

Ya.. itulah sebagian kecil ungkapan isi hati yang terungkap secara lisan maupun tulisan berupa pesan singkat yang saya terima seharian. Sejak senin 12 Juni 2017 pagi mengawali kegiatan PPDB SMP Online di Sidoarjo begitu banyak pesan senada yang saya terima. Ada wajah resah dan gelisah menyelimuti sebagian wajah orang tua siswa yang datang ke sekolah meminta bantuan wali kelas dan jajaran pimpinan sekolah.

Kebingungan dan keresahan tampak sekali di wajah mereka berkali-kali mencoba login ke situs ppdb online namun ternyata gagal, sehingga kepala sekolah harus berulang kali menelpon pihak dinas untuk mencarikan solusi. Ada pula yang orang tua yang terpaksa harus ijin cuti demi bisa mendaftarkan anaknya dengan berkonsultasi ke sekolah untuk minta diajari cara mendaftarkan anaknya memilih sekolah dengan sistem ppdb online dengan yang baru.

Dua hari sebelumnnya, sekolah juga telah mengundang orang tua untuk memberikan sosialisasi terkait cara mendaftarkan anaknya secara online ke smp tujuan. Di sesi tanya jawab terlontar sebuah pertanyaan salah satu orang tua siswa yang nampaknya saya rasa cukup sulit untuk dijawab namun patut untuk kita cermati. Salah satu pertanyaannya demikian, “Pak kami mengetahui sekolah ini mengajarkan KEJUJURAN pada anak kami. Namun jika berkenan, ijinkan kami orang tua mengetahui rata-rata nilai siswa sekolah kita dibandingkan rata-rata siswa se Kabupaten Sidoarjo agar kami bisa menimbang peluang yang ada agar anak kami bisa di terima di smp negeri”.

Sebagai perwakilan wali kelas yang selama ini sudah berkomitmen mengajarkan KEJUJURAN pada anak-anak di tengah derasnya isu dan berita KECURANGAN, pertanyaan ini menjadi bagian penting yang harus kami jawab. Karena memang sejak awal diberi mandat mengawal siswa kelas 6, membangun mental KEJUJURAN merupakan tugas yang menantang bagi kami wali kelas 6 di sekolah.

Saya dengan suara yang agak berat karena terbawa emosi kesedihan orang tua, melalui pelantang saya mengatakan, *”Bapak/Ibu yang saya hormati, saya ingin menyampaikan bahwa saya amat bangga pada putra-putri Bapak/Ibu. Sebagai wakil dari seluruh wali kelas 6, saya begitu bangga karena anak-anak telah melakukan yang terbaik dan dengan penuh KEJUJURAN di ujian tahun ini. Masih ingatkah Bapak/ibu akan “surat cinta” yang diberikan ananda pada Bapak/Ibu sebelum mereka ujian bahwa mereka akan berusaha melakukan yang TERBAIK dengan dengan disertai energi KEJUJURAN selama mengerjakan ujian sekolah. Jika saya saja bangga, apalagi Bapak/Ibu yang memiliki putra/I seperti ananda”*.

Saya pun melanjutkan ucapan saya, *“Bapak/ibu, putra/i Bapak/Ibu telah membuktikan dan mempersembahkan kado spesial buat Bapak/Ibu. Berapapun hasil yang diterima mereka. Itulah yang yang terbaik yang mereka usahakan atas jerih payah dan KEJUJURAN yang telah kami tanamkan di benak sanubari mereka. Ingatlah bahwa kesuksesan putra/i Bapak/Ibu tidak ditentukan dari diterimanya anak-anak di sekolah smp negeri untuk saat ini. Kesuksesan mereka biasanya baru akan terlihat ketika mereka sudah di SMA dan ketika mereka dewasa kelak sebagaimana kakak-kakak kelasnya yang sudah sering kita dengar dari media masa karena menorehkan prestasi yang luar biasa saat di SMA dan kuliah”*.

Sungguh tampak ironi memang ketika melihat fakta di lapangan. Banyak laporan kecurangan terjadi dan terdengar oleh kami terjadi diluar sekolah pada saat anak didik melaksanakan ujian sekolah provinsi pada bulan mei yang lalu. Ini disebabkan karena sebagian oknum guru di sekolah tertentu ataupun orang tua mencederai proses ujian sekolah anak-anak. Mereka para oknum justru mengorbankan pendidikan karakter KEJUJURAN yang telah mereka tanamkan di sekolah ataupun saat di rumah.

Salahkah anak-anak? Tentu tidak, karena yang salah adalah oknumnya. Mereka yang memandang kesuksesan dari segi materialistis semu. Sehingga mereka, oknum orang tua yang dengan rela hati mengeluarkan uangnya untuk membeli kunci jawaban demi nilai anaknya. Termasuk oknum guru yang memberi bocoran jawaban pada peserta didiknya karena takut sekolahnya dicap tidak berhasil karena nilai rata-rata ujian akan tampak jelek di khalayak masyarakat. Mereka entah sadar atau tidak sadar sedang menghancurkan sendiri bangunan KEJUJURAN yang telah mereka bangun.

Saya kembali berkaca pada sistem pendidikan berbasis islam yang tentu jauh berbeda dengan pendidikan yang berorientasi materialistik saat ini. Pendidikan sistem materialistik memberikan kepada siswa suatu dasar pemikiran yang serba terukur secara materi serta menafikkan hal-hal yang bersifat non-materi. Hasil pendidikanya pun harus dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara nilai materi yang orang tua telah keluarkan sebelumnya. Dan inilah yang terjadi saat ini disadari ataupun tidak.

Perhatikan bahwa asas pendidikan dalam islam adalah aqidah islam. Aqidah menjadi dasar mata ajaran dan metode pengajaran yang diberlakukan dalam pendidikan dan berkonsekuensi ketaatan pada aturan islam. Sehingga tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada Allah. Lalu bagaimana mungkin seseorang akan melakukan kecurangan dalam proses ujian sementara ia meyakini bahwa Allah Maha Melihat apapun yang ia lakukan. Ia juga meyakini bahwa malaikat mencatat setiap amal sekecil apapun. Sekali lagi, mana mungkin seorang anak berani melakukan kecurangan ketika keimanannya terpatri begitu dalam pada dirinya.

Namun saya bangga dengan sekolah kami di SD Muhammadiyah 1 Pucang Anom Sidoarjo, kini tren wali murid sudah banyak yang teredukasi. Orang tua mulai banyak yang memahami bahwa membekali keimanan pada putra-putrinya itu jauh lebih utama dari sekedar mencai nilai akademik yang tinggi saat ini. Ini pula yang terus kami sosialisasikan di awal tahun pelajaran pada orang tua. Bu Aminah, salah satu wali kelas 6 pun dengan bangga mengatakan, “Alhamdulillah pak, sekolah kita telah membangun sebuah BRAND baru yaitu SEKOLAH YANG MENANAMKAN KEJUJURAN, dan itu yang menjadi kesan umum yang terbangun pada mindset sebagian besar orang tua siswa kita saat ini”

Di setiap awal ajaran baru, saat kegiatan parenting memang kita selalu mengatakan pada orang tua, *“Jangan salah memilihkan pilihan sekolah pada putra-putrinya karena akan berimplikasi pada kehidupannya kelak ketika ia dewasa. Carikanlah sekolah yang mampu menjaga keimanan anak Bapak/Ibu. Agar ketika anak-anak berubah menjadi dewasa, mereka tidak hanya mencari kesuksesan secara duniawi, namun sekaligus sukses menjadi anak sholeh solehah yang mampu menjadi mesin pahala ketika orang tua telah tiada”*.

Mengakiri tulisan ini, saya kemudian teringat dengan pesan Allah di dalam Al Quran yang semoga akan menguatkan Bapak/Ibu.

_“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”_ *(QS. Al Isra:81)*.

Maka jangan penah risau wahai orang tua ketika saat ini putra/i Anda belum bisa di terima di sekolah negeri seperti yang diinginkan oleh Bapak/Ibu, karena Allah sedang membuat RENCANA yang JAUH LEBIH BAIK buat putra/i tercinta. Kesuksesan telah menanti ananda di masa depan yang cerah yang menantikan kedatangan mereka saat mereka dewasa. Salam hangat penuh semangat dari kami wali kelas 6 SD Muhammadiyah 1 Pucang Anom Sidoarjo. SALAM SUKSES MULIA buat ananda tercinta
Sidoarjo, 12-13 Juni 2017

Rate this article!
DEMAM PPDB ONLINE,5 / 5 ( 1votes )
Tags: