DELMAN PULANG KANTOR

DELMAN PULANG KANTOR

“Make a wish”, batinku. Aku memandangi dengan masygul benda bising yang bergerak cepat menjauhi tempatku berdiri. Derik roda kereta yang bergulir, berpadu dengan ketukan ladam di jalanan beton, bunyi pecut dan yang paling dominan, bunyi klenengan, kalung sang kuda. Bunyi itu mengalahkan suara motor dan mobil yang lalu lalang di sekitarku. Suara indah itu mengingatkanku pada masa kecilku : naik delman di Padang.

Aku mendengar bunyi neng nong neng nong itu menjauh. “Insyaallah lain kali”, kataku pada diri sendiri sambil melambaikan tangan kepada tukang ojek di seberang tempatku berdiri.

“Jam berapa biasanya delman itu lewat”, kataku agak berteriak kepada si bapak tukang ojek yang mulai menginjak gas motornya.

“Sekitar jam lima lewat”.

Ah, jam segitu aku baru keluar kantor. Tetapi, just make a wish.

—-

Aku mengeluarkan gulungan uang kecil dari kantung depan tasku.

“Berapa, Pak?”, tanyaku sambil memandang puas pada dua gelas kosong bekas tempat air kelapa muda, di meja di hadapanku.

Tiba-tiba “neng nong neng nong”, berisik yang indah, menjelang dari jalan di bagian arah kananku. Dia menuju ke bagian arah kiriku. Refleks, aku balik kanan dan menyambut si delman dengan lambaian tangan, menghentikan.

“Saya ikut”, teriakku girang bukan alang kepalang. Dalam hitungan detik aku kembali ke si penjual air kelapa muda, menyerahkan uang, kemudian meloncat ke atas delman diiringi tuter dari mobil yang terhenti sejenak di belakang sang delman. Cahaya lampu suasana maghrib, menyinari wajahku yang sumringah. Hendaknya pak sopir mengerti itu sehingga tak membunyikan klakson mobilnya. Aahh…

Sore tadi adalah sekitar sebulan sejak aku berkata “insyaallah” tentang delman itu.

Aku tersenyum puas pada sang kusir, seorang pemuda awal dua puluhan. Dia berani menghentikan kudanya untuk penumpang tak biasa seperti aku, yang menghentikannya di pertigaan yang sibuk.

Entah dari soal apa percakapan dimulai hingga sampailah pada soal jual beli kuda. Perjalananku singkat saja, tetapi sesuatu yang baru kutemukan.

“Ada kuda poni”, katanya. “Beberapa hari yang lalu baru datang dua ekor dari Jawa Tengah. Harganya sekitar 17 juta dua ekor”.

“Ha?!” aku ternganga.

“Semuanya, saya punya enam ekor sekarang”.

“Untuk apa kuda itu?” tanyaku lugu.

“Untuk disewa di tempat wisata”.

O, aku ingat di dekat kantorku ada kuda sewaan yang ditunggangi anak-anak. Si pawang kuda mengiringi kudanya dengan berjalan terbirit birit, di samping sang kuda yang berjalan santai.

“Ini saya juga sering mangkal di Gazibu. Besok juga ada karnaval. Ini delman, dihias”. Ya, besok adalah tanggal 17 Agustus 2017.

Aku mendengarkan dengan takzim ceritanya. Di belakangku sekarang ada sorot lampu. Baru aku sadar. Mobil itu mengiri kami dengan sabar. Jalan hanya pas untuk dua mobil sementara kendaraan cukup ramai. Aku – entahlah karena apa – tersenyum kepada sang sopir yang tak terlihat. Sekian menit berlalu, sampai akhirnya mobil itu menyalip kami.

Beberapa ruko, rumah penduduk, warung, gang, tempat cucian mobil, tempat pembuangan runtuhan bangunan, kulewati dengan delman itu.

“Saya, punya dua kereta ini”, tambah pemuda kusir, ketika aku melewati sepetak dua hamparan sawah.

Hamparan hijau dan delman yang kutumpangi, bagiku, adalah paduan yang sesunguhnya. Bukankah begini kira-kira suasana berkendara di kampungku seabad yang lalu? Aku meluaskan pandang pada latar belakang sawah tersebut. Kerlip lampu di lereng perbukitan Kabupaten Bandung, dan bayangan pegunungan nun jauh di sana – dalam remang maghrib – membuatku terdiam sejenak. Tak lama aku bisa bermenung seperti itu.

“Saya turun di sini”, kataku segera sadar. Delman hampir melewati jembatan kecil tempat aku biasa menyeberang kanal menuju perumahan tempatku tinggal.

Perjalanan itu tak jauh, kurang dari satu kilometer dari simpang Jalan Kuningan – Jalan Cibodas, menuju arah Parakan Saat. Namun memori yang tersimpan, akan sama langgengnya dengan memori naik delman di masa kecilku.

Akankah tahun depan, aku masih bisa menikmati hamparan sawah berlatar pebukitan itu, dari atas delman? Entahlah. Mungkin sawah itu sudah berubah jadi perumahan. Mungkin kuda poni sudah semakin jarang. Mungkin juga kereta yang ditarik kuda, sudah tak ada orang yang membuatnya. Mungkin…

Bandung, 16 08 2017
Lisa Tinaria

Rate this article!
DELMAN PULANG KANTOR,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: