Debt Collector itu membuatnya takut menghadapi pagi

Sahabat saya seorang ibu rumah tangga. Suaminya seorang guru. Sejak awal menikah suaminya tak memberi tahu berapa sebenarnya penghasilannya. Setiap hari dia dijatah untuk kebutuhan satu hari itu. Dia memang menolak diberi uang bulanan, karena dia menyadari tak pandai mengelola uang.

Jika anak-anak butuh biaya lebih untuk sekolah atau kegiatan lain, dia tinggal bilang ke suaminya. Dia betul-betul blank, berapa sebenarnya gaji suaminya. Ada yang seperti ini? banyaaaaaak. Hehehe.

Saat suaminya yang berstatus guru itu menerima tunjangan sertifikasi, kehidupannya mulai membaik. Bisa punya mobil, renovasi rumah, membeli motor untuk anak-anaknya, dan lain-lain. Selain sebagai guru, suaminya juga aktif mengerjakan beberapa proyek. So far so good.

Hingga kemudian ada pergantian pimpinan. Dia tak lagi dipercaya memegang proyek. Penghasilannya murni dari gaji dan tunjangan doang. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Ekonomi rumah tangga mereka makin hari makin limbung. Ternyata selama ini semua gaji dan tunjangan habis untuk mencicil KTA dan berbagai leasing mobil dan motor yang selama ini dimilikinya.

Ketika tunjangan sertifikasi diberikan pada para guru, pemerintah berharap dengan tunjangan itu taraf hidup para guru menjadi lebih baik. Apa daya, tambahan penghasilan itu mayoritas digunakan untuk berbondong-bondong melakukan top up hutang. Termasuk sahabat saya itu.

Sekarang, angsuran leasing itu tak tertutup lagi karena tak ada tambahan penghasilan seperti yang selama ini diterimanya. Tunggakan makin menggunung, gali lubang tutup lubang, dan hampir setiap hari petugas dari leasing berjaket kulit, bermuka seram datang ke rumah menagih angsuran yang belum dibayar bulan itu.

Dia menghadapi debt collector itu seorang diri, karena jam-jam segitu suaminya sudah berangkat ke kantor. Rumah tangganya diujung tanduk. Tak ada hari yang terlewat tanpa pertengkaran. Dia menangis padaku pagi itu.

“Mbak, setiap malam saya takut tidur. Saya takut menghadapi pagi. Takut ada yang datang menagih hutang. Saya ngga tau apa-apa, Mbak,” isaknya.

“Untuk lepas dari hutang ada dua cara. Jual aset atau menambah penghasilan. Yang sekarang urgen, sepertinya mendingan jual aset aja,” usulku. “Bagaimana kalau mobil dioverkredit biar bebannya ngga berat. Motor yang ngga dipakai itu juga dijual saja. Lumayan buat ngurangin beban hutang.”

“Gitu ya, Mbak?” tanyanya ragu. Kelihatannya memang dia berat melepaskan mobil itu, karena itu moda transportasinya sehari-hari.

“Ngga usah malu ngga punya mobil, Teh. Insya Allah nanti kalau ada rejeki bisa koq beli lagi,” ucapku yakin. Saya pernah diposisinya jadi saya tahu rasanya.

Tak berapa lama, akhirnya mobil berikut motor-motor itu dijual juga. Hasil penjualannya tak cukup untuk menutup seluruh hutang, tapi setidaknya cicilan mobil dan motor sudah tak ada.

Terlihat berat? Iya. Karena sekarang kemana-mana tak punya moda transportasi apapun, di saat anak-anak sedang butuh-butuhnya motor untuk mobile. Sekolah, kuliah, ngaji, latihan tae kwon do sampai malam, dll. Tak mengapa. Jalani saja. Kelak semua ujian ini akan berlalu. Sabar saja.

author

Author: