DASAR KONTRAKTOR

Malam itu sepasang suami istri dikejutkan oleh kedatangan pemilik rumah. Entah kenapa pemilik rumah itu tiba-tiba menyampaikan keinginannya untuk bersilaturrohmi kepada mereka sebagai penyewa atau pengontrak rumahnya. Malam yang ditunggu pun tiba, setelah tarawih pemilik rumah pun datang dengan ditemani seorang lelaki tua yang tak pernah dikenal oleh sang pengontrak rumah pengantin baru itu, baru 4 tahun sich. Disebut baru karena belum punya anak. Hehe. Sang suami yang menemui kedua tamu itu berfikir, siapakah lelaki tua ini, apakah pak RW, atau pak RW ataukah tokoh agama yang membantu mengingatkan barang kali sang pengontrak rumah ada salah atau masalah. Sang Istri berdiam di dalam.

Air mineral kemasan 240ml pun disuguhkan kepada kedua tamu tersebut. Pengontrak rumah yang usianya masih 25 tahun ini masih bertanya-tanya dalam benaknya, ini ada apa, dan lelaki tua ini siapa. Sambil pemilik rumah masih belum masuk ruang tamu karena masih sibuk nyari tempat minum burung yang ada di luar rumah sebagai asbak untuk merokok di ruang tamu sambil mengobrol dan menyampaikan unek-uneknya. Walau rumah itu dikontrakkan, rumah tersebut masih didayagunakan sebagian ruangannya sebagai tempat penyimpanan burung yang diperjual belikan olehnya. Sang pengontrak sepasang kekasih Sidoarjo-Jogja ini pun terkadang merasa terganggu saat kandang burung dicuci, baunya menyengat menembus seluruh ruangan rumah. Apalagi kondisi saat ini sedang hamil muda.

Guru 25 tahun ini pun bingung mau mengawali pembicaraan darimana, yang bisa ia lakukan hanya menunggu salah satu tamu ini mengawali pembicaraan. Akhirnya lelaki tua berpeci itu mengawali pembicaraan malam itu; “Belum pernah lihat saya ya pak?” sapanya dengan santai.

“Iya pak, siapa ya? Hhhh” jawabnya lugu dan penasaran.

“Saya mertuanya beliau” sambil tangannya menunjuk ke pengusaha burung ini.

“Kedatangan kami kesini bermaksud untuk menyampaikan sesuatu yang memang perlu kami sampaikan segera” kalimatnya berlanjut mengundang semakin penasaran. Wah, ada salah apa ini, ada masalah kah saat menempati rumah ini. Dag dig dug dan siap menerima resiko apapun.

“Mohon maaf sebelumnya pak, sebelum kemarin anda membayar uang kontra untuk memperpanjang kontrak setahun ke depan, kami sudah bimbang antara boleh dilanjut ataukah tidak” sang pengusaha burung yang sukses itu mulai bicara.

“Jadi, bisnis kami mulai semakin berkembang, kiriman burung akan diperluas ada dari beberapa kota, sehingga kami butuh tempat lebih untuk menyimpan burung” lanjutnya.

Oh, mulailah guru berbadan kurus itu pun paham akan maksud dari kedatangannya, intinya harus segera angkat kaki dari rumah.

“Saya menemani beliau, karena takut ndak bisa ngomong sendiri” sang pria berambut hitam putih itu menyela.

“Misalnya anda masih ingin tinggal di sini, kami bisa ngasih ruang yang saat ini menjadi tempat burung, kami bersihkan dengan tim kami, silakan ditempati kalau mau, harganya bisa lebih murah, tapi kalau keberatan ya kami beri waktu untuk pindah” demikian papar ayah 3 anak ini.

Pemaparannya cukup jelas, pemilik istri bercadar ini mulai muncul banyak pikiran. Kalau pindah ya pindah kemana, cari kontrakan murah susah. Kalau menetap ya nanti bau burungnya kemungkinan makin menyengat. Kalau pindah bagaimana rencana pendirian LBB bersama teman-teman di rumah. Dan sebagainnya.

“Maaf lho pak” susul pemilik rumah dengan sungkan.

“Oh, tidak apa-apa pak, saya sudah sangat senang diberikan kesempatan selama ini mengontrak dengan harga yang sangat murah” ungkapan terimakasih pria berambut pendek.

Selanjutnya dilanjut obrolan ringan mengenai tempat tinggal sang mertua pemilik rumah dan perkembangan bisnis nya.

“Ya pak, ini saya diskusikan dulu dengan istri saya, bagaimana enaknya, karena yang menempati rumah 24 jam itu istri, saya jarang di rumah” lanjutnya.

Tak lama kemudian mereka berdua mohon pamit. Masuklah sang suami ke kamar untuk menyampaikan berita tadi.

“Jadi bagaimana Yank?” Tanya sang istri tak sabar.

“Ya seperti yang kamu dengerin tadi.” Santainya menjawab.

“Aku kurang jelas mendengarnya.” Ngakunya.

Menyampaikanlah dengan pelan dan penuh pertimbangan, dilanjut diskusi mengenai kurang dan lebihnya jika tetap menetap di rumah itu di ruang bekas burung, juga tentang kurang dan lebihnya ketika harus pindah kontrakan. Dasar kontraktor alias suka ngontrak rumah orang. Sebelumnya pasangan muda ini sempat tinggal juga di kontrakan lainnya dan sekarang sepertinya harus pindah kontrakan lagi. Tepat jam 21.00 sepasang calon ayah bunda ini memutuskan untuk menelusuri jalanan malam untuk mencari kontrakan yang baru. Perumahan demi perumahan, gang demi gang, desa, ke desa lain di telusuri berdua. Wow, banyak sich yang dikontrakkan di sekitar situ, tapi harganya sungguh fantastis, rata-rata 10-15jt/tahun bahkan minta minimal 3 tahun masa sewa sakaligus. Sungguh itu di luar kemampuan mereka. Akhirnya memutuskan kembali kerumah dan tiba pukul 22.30.

Tak mau menyerah mulailah googling, menelusuri via internet, menemukan berbagai macam harga dan lokasi yang sekiranya lumayan agak terjangkau, sekitar 5-7jt/tahun. Namun masih mencari yang termurah, kiranya masih ada yang di bawah 5jt/tahun. Namun sayangnya malam itu mencoba menghubungi pengiklan hhampir tak ada yang mengangkat telephone hingga ada satu yang mengangkat tapi sudah laku atau sudah disewa orang. Ternyata jam sudah larut diatas pukul 23.00 WIB. Dan tertidur setelah berwudlu dan berdoa tentunya.

Bangun tidur pukul 03.30 WIB waktunya sahur.

“Yank, saking kepikirannya nyari kontrakan, sampai kebawa mimpi, di dalam mimpiku aku masih nyari kontrakan, hehe…” tutur sang pemimpin rumah tangga itu.

Rate this article!
DASAR KONTRAKTOR,5 / 5 ( 1votes )
Tags:

Leave a Reply