Dampak Buruk Terlalu Sering Memberi Hadiah Pada Anak

“ Meliii, ayo dong mandi duluu!!” Ibu Meli berteriak menyuruh Meli mandi untuk yang kesekian kalinya. Meli yang beberapa kali dipanggil Ibunya terlihat asyik bermain boneka dan  tidak menggubrisnya. Akhirnya Ibu Meli kesal “ Meli, ini sudah sore. Tadi seharian kamu main di kebun belakang. Ayo sekarang mandi!”

“ Gak mau ah Bu..Meli gak mau mandi “ Ujar Meli santai. Akhirnya Ibu Meli berkacak pinggang sambil melotot. Bukannya takut Meli malah merajuk “ Meli mau mandi, asal ibu belikan Meli permen loli dulu!” . “ Ya sudah! Kamu tunggu sebentar” Bergegas ibu Meli pergi ke warung terdekat dan membeli beberapa buah permen loli untuk persediaan “sogokan” agar Meli gampang disuruh mandi. “ Ini..! cepet mandi sana” ujar Ibunya sambil memberikan permen loli pada Meli. Dengan sigap Meli menerima “sogokan” tersebut. Tak berapa lama, dia asyik menjilati permen tersebut. Ketika melihat Meli masih belum mandi juga, ibu Meli marah besar. Akhirnya dengan sedikit ogah-ogahan Meli akhirnya Meli mandi juga.       

Coba anda lihat cerita Meli dan Ibunya tadi. Meli pada dasarnya memang susah disuruh mandi. Ada saja alasannya jika dia disuruh. Bukan itu saja, dia pintar mengajukan syarat apabila Ibunya menyuruhnya melakukan hal apapun. Pada awalnya “sogokan” permen itu mempan untuk membuat Meli mandi. Tetapi lain waktu, Meli tidak mau lagi dibelikan permen. Dia “menaikkan” sogokannya dengan meminta dibelikan boneka baru. Ibu Meli pusing tujuh keliling karena kadang-kadang setelah “sogokan” diberikan , Meli tetap ingkar janji. Coba, sebetulnya yang salah ibunya atau Meli?

Ibu Meli orangnya tidak mau repot. Awalnya memang dia sering memberikan hadiah agar anaknya tidak rewel, gampang disuruh dll. Coba lihat akibatnya? Meli menjadi anak yang manja dan “pamrih” atas semua yang dilakukannya. Sama seperti ibunya Meli, anda sebagai orangtua harus punya sikap dalam mendidik anak. Pada dasarnya anak memang harus diberi pengertian. Misalnya: Kenapa anak harus mandi? Kita bisa menjelaskan bahwa setelah seharian mereka sekolah dan bermain, udara dan debu menempel pada tubuh kita. Dalam debu tadi ada berjuta-juta kuman penyakit yang bisa siap menyakiti mereka apabila tidak segera dibersihkan. Mereka bisa terkena penyakit kulit bila jarang mandi. Bisa juga terkena pilek, batuk dll.

 Jelaskan pada mereka pentingnya kebersihan. Anak yang rajin mandi selain terlihat bersih, wangi juga terlihat lebih cantik/ ganteng. Berikanlah pujian apabila mereka mandi sendiri tanpa disuruh. Bagaimana apabila mereka mogok mandi? Jangan berikat mereka sogokan hadiah, tetapi berikan mereka “punishment”.  Misalnya bila anak tidak mau mandi, maka dia tidak boleh main mobil/boneka kesayangannya. Simpanlah mainan tersebut sampai anak melakukan hal baik tersebut. Jangan berikan kepada mereka, meskipun mereka menangis. Anak-anak yang terbiasa merajuk, mereka paham bahwa “airmata” mereka adalah senjata yang ampuh untuk menaklukkan hati orangtua nya. Demi kebaikan, sebagai orangtua anda harus “tega” kepada anak. Bukan berarti kita tidak sayang akan tetapi justru karena kita sangat menyayangi mereka.

Bila dibiarkan, anak yang suka “pamrih” akan kehilangan motivasinya. Dia terbiasa mendapatkan sesuatu yang diinginkannya dengan instan tanpa melalui sebuah proses. Daya juangnya akan rendah dan akan tumbuh menjadi anak yang “semau gue”. Dia mau melakukan sesuatu kalau ada “balasannya” kalau tidak ya tidak mau.

Anak seperti itu juga akan tidak pede berada di lingkungan sekolahnya. Karena situasi di sekolah sangat berbeda dengan kondisi di rumah. Di sekolah , gurunya menyuruhnya menghapus papan tulis, piket menyapu kelas tanpa memberikan apa-apa padanya.

Ingat “sogokan hadiah” tidak sama dengan “reward”. Suatu perbuatan yang baik patut mendapat penghargaan dengan tujuan agar perbuatan baik itu dilakukan terus. Tetapi perbuatan mogok mandi, malas belajar, menangis itu sama sekali bukan perbuatan baik dan tidak perlu diberi “reward”.  Sebagai orang tua anda harus bersikap tegas dan disiplin. Bersikaplah bijaksana dalam memberikan hadiah atau penghargaan kepada anak, jangan sampai itu menjadi “bumerang” bagi dirinya kelak

Salam,

Tita Dewi Utara

KMO 07

Sarapan Kata ke 29

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply