Curhatan Tentang Pancasila dan Si Pembawa Pesan Damai

Bismillahirrahmanirrahiimii.

Malam ini setelah membuka facebook, tiba-tiba saya merasa ingin menuangkan isi pikiran. Setelah saya pikir lama sayang sekali kalau saya hanya menuliskan ide dan gagasan di buku diary 😀 yang baca kan Cuma saya nantinya. Nggak berdampak apa-apa ke siapa-siapa, tapi saya sendiri juga gak akan dapat kritik saran membangun agar bisa menulis lebih baik lagi.

Akhirnya saya mencoba menulis di snapgram, tapi saya sendiri tidak nyaman jika harus membuat postingan banyak. Mending saya habisin jatah kesalahan nulis sekarang deh daripada baru belajar ketika sudah jadi tokoh. Kan kasihan pembacanya. Ya kan Coach Tendi, Ibu Kepsek Rina Maruti.

Nah, berhubung di facebook saya merasa punya banyak teman penulis, saya beranikan diri menuangkan opini. Seenggaknya nggak dikacangi mentah-mentah daripada di diary. Terlebih setelah mengenal indiscript, joeragan artikel serta KMO yang semuanya berisi para penulis pecinta proses, saya merasa lebih PD menulis walaupun akhirnya akan ada yang tidak suka dan menganggap tulisan saya ini sok pintar, gak jelas, ngabisin waktu. Hehe gapapa. Orang belajar kok dimaki-maki sih. Makanya di sini saya berusaha menulis sesuai kapasitas saya sebagai pelajar SMA yang baru lulus. Saya Nur Laili, 17 y.o dan saya dari Kediri. J

Sempet ngejleb sih tadi siang waktu posting wallpaper ucapan hari kelahiran Pancasila di snapwa dikomentari seorang teman dari MCA. Dia mengaitkan pancasila dengan agama. Kritiknya nancep banget sampai saya bingung harus nanggepi gimana. Jujur, selama ini saya takut memposting pendapat-pendapat saya di FB karena takut menyinggung kelompok tertentu meskipun saya sebenarnya tidak sengaja.

Hehe sebagai seorang anak SMA yang sedang digantung statusnya, boleh dong saya bertanya sebenarnya kapan Pancasila lahir? Cuma saya sendiri juga bingung siapa yang pantas menjawabnya. Mungkin saja beberapa tahun dari sekarang ketika saya telah menjadi  Mahasiswa, mengikuti kelas tertentu saya baru akan menemukan pencerahan.

Kalau bicara tentang sejarah biasanya bikin heran, emosi, sedih, bersyukur. Pokoknya sering tercampur adukkan deh. Benarkah Pancasila lahir 1 Juni 1945? Engggg.. dulu itu seinget saya pas SMP udah dikasih tahu tentang sidang Dokuritsu Junbii Cosakai sama Dokuritsu Junbii Inkai (BPUPKI dan sidang PPKI) semuanya mengarah pada kemerdekaan Indonesia. Nah, waktu sidang kedua BPUPKI kan ada beberapa tokoh yang mengajukan falsafah dasar negara, termasuk Ir. Soekarno. Pada waktu itu, Pancasilanya Pak Karno bukan seperti yang kita kenal sekarang. Sila ketuhanan ada di akhir. Barulah tanggal 22 Juni 1945 dipindahkan ke nomor 1 itu setelah diusulin beberapa tokoh termasuk para ulama.

Yang jurusan IPS suka sejarah pasti inget kan di piagam Jakarta tanggal 22 Juni itu sila pertamanya masih mengandung 7 butir yang isinya menyuruh  menjalankan kewajiban syariat agama Islam bagi pemeluknya. Nah, karena Indonesia ini beragam suku bangsa, agama, ras, etnis datanglah seorang utusan dari Indonesia Timur yang menyampaikan aspirasi masyarakat di sana untuk merevisi kata-kata sila pertama Pancasila. Ya, pastinya setelah berdebat panjang para tokoh bangsa sepakat menghapus kata agama Islam ini. Lahir deh Pancasila yang sekarang pada 18 Agustus 1945.

Para ulama tidak menentang Pancasila versi PPKI karena memang sudah menceminkan ajaran Islam yang waktu itu dipeluk sekitar 90% rakyat Indonesia tapi sekarang sudah menurun. (Ini masuk materi SBMPTN sih wkwkw. refresh tipis-tipis.) Bukankah Anda pernah mendengar istilah “Tidak penting siapa kita, yang penting manfaatnya.” Luar biasa bukan, mayoritas mau mengalah demi ketentraman bersama. Inilah sifat pancasilais sejati bagi saya. Tanpa perlu berteriak-teriak saya Pancasila, saya Bhinneka tapi langsung take action menjalankan semua sila. Daripada duta Pancasila tapi bekas melecehkannya eh nggak hafal pula. Hehe peace.

Dari sini berarti boleh ya kalau saya bilang hari lahirnya pancasila ada 3 versi. Untuk menghindari perdebatan, okelah hari ini, 1 Juni 72 tahun silam bibit Pancasila yang berasal dari ide Ir. Soekarno disampaikan pada hadirin sidang BPUPKI.

Oke deh, lanjut ke opini.

Berkaca dari sejarah yang diajarkan kepada saya di bangku sekolah, ada beberapa pernyataan publik yang banyak bertebaran di media massa dewasa ini yang tidak saya setujui. Pertama mengatakan kaum Islam radikal dan tidak pancasilais. Hehe Cuma bisa tersenyum membacanya. Ya mau gimana lagi, siapalah saya ini berani mengeluarkan statement tandingan. Siapa juga yang mau denger. Yang ada waktu update opini di snapgram disuruh diem sama temen pengaku pancasilais. Katanya sih mereka merasa tersakiti, ya kan saya jadi bingung sendiri. Karena dari awal niatnya menulis opini di media sosial hanya ingin meluruskan apa yang diupdate media mainstream di mana mereka ini kelihatan sekali condong ke pihak tertentu. Kurang independen gitu.

Tibalah di hari pancasila ini saya juga ingin menjawab temen-temen yang merasa jadi minoritas dan tersakiti. Pertama, maafkan saudara setanah air yang tidak sengaja menggoreskan luka di hati. Bagaimanapun juga, kami hanya membela diri, bukan menyerang. Sebenarnya semuanya berawal dari kisruh Pilkada DKI yang efeknya panjang banget sampe sekarang.

Dulu sebelum Pilkada DKI saya bersahabat dengan seorang non muslim dan selalu baik-baik saja. Kita tidak pernah main di hari Sabtu-Minggu (Ahad) karena itu waktunya dia ibadah bersama keluarga. Begitupun dia, selalu mau menunggu saya sholat meskipun ingin segera curhat. (Maklum, pas SMA jadi tempat curhat banyak orang hehe. Sehari bisa sampe 5). Saya juga belajar tentang blogging dan cara rewrite untuk blog di internet juga dari seorang non muslim. Kami baik-baik saja alhamdulillah sampai sekarang. Cuma heran, kenapa banyak akun sosmed penuh caci maki, bikin panas timeline -_-.

Yang tidak bisa saya terima adalah ketika ada orang di sosial media sering update tentang Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika tapi dia sendiri tidak mau menerima apologi orang lain, merasa tersakiti sendirian, tidak suka kalau kelompok tertentu menjawab tuduhan, menyuruh belajar lagi dan menghargai perbedaan, selalu bilang Indonesia tidak didirikan oleh kelompok tertentu saja. Yah, kalau saya menjawab saya hanya memperpanjang debat.

Faktanya, berbicara kebenaran menyakitkan pada orang yang sedang jatuh cinta banyakan nggak diterimanya. Jadi saya saving energy saja. Toleransi kan bukan berarti harus menjadi pengendali segalanya? Tapi saya juga nggak sepakat kalau kebenaran tidak perlu dibela. Hmmm terus kalau kebenaran tidak perlu disuarakan, dibela, lantas apa gunanya MA, MK, Polisi, dan LBH?. Nanya serius ini.

Oke, berkaitan sama itu tadi sekarang lagi gempar tulisan bijak seorang gadis  lulusan SMA tahun ini yang dianggap membawa pesan damai. (Seangkatan sama saya dong). Awalnya saya kira dia ini kecepetan sekolahnya, kayak saya. Ternyata umurnya lebih tua 2 tahun dibandingkan saya.

Oke. Menarik sekali. Dulu SMP saya pernah baca satu buku yang saat itu lagi kontroversial judulnya ‘Gurita Cikeas’ isinya kritik terhadap pemerintahan Bapak SBY. Ya, namanya anak kecil baru belajar beropini, saya menganggap isi tulisannya itu benar semua hehe maklumin ya.

Lalu saya ditugasi guru IPS menulis portofolio, saya tulis deh opini saya tentang pemerintahan yang saat itu sedang panas. Duh, untung nggak saya publikasikan di media sosial. Bisa malu kalau sekarang saya buka lagi. Lagi. SMP kelas 2 baca bukunya biografi Ir. Soekarno yang ditulis Cindy Adams. Ya saya pikir “Wah, keren banget Pak Karno.” (Bacanya padahal belum tuntas). Yap, singkatnya ketika itu sekali saya baca buku saya merasa isinya benar, baca buku lain yang itu juga benar, dan bodohnya saya dengan mudah menganggap pendapat orang yang belum baca buku itu kurang tepat. Hehe mudah ya menetapkan. Namanya juga masih awal belajar. Jadi sok pintar gitu, mau nerima kritik dipilih-pilih dulu siapa pengkritiknya. Sok bijak tapi nggak bijak. Maafkan aku yang dulu ya.

Semakin ke sini saya semakin banyak menemukan tulisan-tulisan atau statement dari berbagai sumber. Bisa dari saksi sejarah (Yang ini banyak dikasih tahu Keluarga Besar PII), internet, postingan di FB atau saat berbincang dengan orang. So, di titik ini saya bilang saya kurang respect kalau misalkan ada orang berani menyimpulkan suatu kejadian hanya dari 1 sumber saja. Bagaimana bisa dikatakan bijak kalau risetnya saja hanya satu sisi.

Menanggapi tentang Pancasila dan kaitannya sama agama warisan, waktu awal mengenal PII saya juga ditanya kenapa Islam, jangan-jangan kamu Islamnya Cuma karena kebetulan lahir di keluarga Islam. Coba kalau ayah ibumu bukan Islam, kamu pasti bukan muslim sekarang. Yayaya, waktu itu ada Yunda di PII bilang gitu menurut saya udah keren banget sih. Saya menganggapnya benar mentah-mentah. Liar deh pikiran jadinya. Alhamdulillah setelah itu diluruskan, dijelaskan kalau Islam itu pilihan bukan takdir. Nah deh, dari situ sadar juga akhirnya “Ojo gampang nggumun.”

Maybe nanti di bangku perkuliahan saya akan bertemu dengan orang-orang dari seluruh Indonesia, mereka yang atheis, mereka yang suka baca karya sosialis, anak suka demo, anak super alim sampai dikira garis keras, anak hedon, whoever lah. Makanya sejak sekarang saya biasakan untuk tidak langsung mengangap benar setiap hal yang sedang viral dan mendapatkan banyak pujian. Don’t trust media before you see the fact.

Jadi, inti dari tulisan ini adalah ….. silahkan simpulkan sendiri. 😛

Oh iya, by the way maafkan saya yang menulis panjang tapi belum begitu asik dibaca. Gak jelas ya…. Makasih sudah bersedia meluangkan waktu menyimak curhatan ini. Kalau punya kritik saran silahkan disampaikan ya. Seneng saya kalau diperhatiin gitu. Hehe. Lagi belajar menuangkan ide sendiri, bukan copas edit te

Tags:
author

Author: