Cerita dari Pengguna Fasum di Indonesia

Sarapan kata kali ini, saya akan bercerita tentang sedihnya menjadi pengguna fasum di Indonesia. Boleh ikut merasa sedih, boleh merasa geli, boleh juga merasa marah. Tetapi akan sangat menyenangkan jika siapa pun mau menyimak cerita saya ini.

Setiap hari, saya menggunakan fasum yang tersedia di lingkungan. Mulai dari jalan, trotoar, jembatan penyeberangan, zebra cross, lampu untuk menyeberang jalan, halte, terminal, angkutan umum kota, taman kota, ponten umum dan sebagainya. Namun setiap hari itu pula, saya seringkali merasa sedih.

 

Merasa sedih?

 

Ya, bahkan sedih sekali. Kenapa kok sampai merasa sedih? Bagaimana tidak begitu coba?

 

Dimulai dari cerita tentang jalan.

Saya merasa sangat senang karena kini fasilitas jalan sudah dibangun hingga ke pelosok-pelosok. Mudah rasanya untuk bepergian ke mana saja yang diinginkan. Terbayang betapa senangnya melewati jalan yang mulus dan halus. Perjalanan menjadi aman dan nyaman. Namun, ternyata keberadaan jalan yang lebar dan rata tak diikuti oleh tumbuhnya adab berlalu lintas yang benar pula. Seringkali jantung ini serasa hendak copot karena pengendara motor yang seenaknya menggeber kecepatan motornya. Salip kiri sampai mepet di bereman jalan, terkadang adu kekuatan mental karena ada pengendara motor yang melawan arus, atau pernah suatu ketika menjadi  korban terguling karena roda motor mbleset turun dari badan jalan. harus adu kekuatan mental karena ada pengendara motor yang melawan arus. Itu berarti harus sigap menginjak rem karena ada pengendara yang menerobos lampu merah. tentunya ini berlaku bagi para pengendara motor.

Hhhhhh…… dan masih banyak lagi kisah di jalan raya lainnya.

Dan saya salah satunya, pernah menjadi salah satu korban dari kegembiraan pengguna jalan yang berkendara suka-suka tersebut.

 

Berlanjut pada cerita tentang trotoar.

Sebagai pejalan kaki, saya berusaha patuh dan juga ingin selamat. Karena itu, saya berjalan kaki di trotoar. Tetapi, saya seringkali harus bertaruh nyawa menempuh resiko diserempet kendaraan atau minimal jantungan karena diklakson kendaraan. Kok bisa? Bisa banget, karena saya seringkali terpaksa harus turun dan berjalan kaki di tepian badan jalan. Terpaksa? Iya, area trotoar tidak bisa saya lalui karena tertutup lapak para pedagang kaki lima yang tidak mau direlokasi. Kalau tidak tertutup lapak pedagang, trotoar menjadi lokasi favorit pengendara motor memarkir kendaraan mereka. Ketika trotoar kosong pun, saya masih harus terkaget-kaget dan harus menepi karena berpapasan dengan pengendara motor yang naik ke area trotoar. Hmmmm, ternyata pejalan kaki di Indonesia adalah orang-orang yang pemberani ya?

 

Berlanjut pada cerita tentang jembatan penyeberangan.

Lokasi kantor saya berada di jantung kota, lalu lintasnya sangat padat dan jalannya juga lebar karena terdiri atas tiga jalur kendaraan. Untuk menyeberang jalan, saya dan juga pejalan kaki lainnya, sepenuhnya memanfaatkan jembatan penyeberangan yang ada. Pertimbangan utama, tentu sangat aman dan nyaman. Tetapi harapan tersebut tinggal harapan. Jembatan penyeberangan menjadi area super jorok dan menjijikkan. Sepanjang jembatan penyeberangan, bertebaran sampah hingga kotoran manusia. Aroma pesing menyengat hidung. Belum lagi lantai jembatan yang bolong-bolong dan berbunyi tiap kali diinjak. Walhasil, turun jembatan selalu deg-degan, pusing dan mual bahkan pernah hampir muntah. Akhirnya, penyeberang jalan memilih nekat menyeberang langsung di bawah jembatan penyeberangan.

Ini masih sebagian kecil cerita saya dan juga para pengguna fasum lainnya di Indonesia. Masih ada cerita-cerita lainnya tentang fasum di Indonesia yang juga akan saya bagikan. Tetapi sepertinya, kan saya bagi di cerita berikutnya saja. Karena sarapan itu tidak boleh berlebihan dan terlalu kenyang, nanti tidak bisa bekerja dengan maksimal.

Tags:

Leave a Reply