CATATAN CINTA BERSELIMUT BADAI

CATATAN CINTA BERSELIMUT BADAI
(Apresiasi Puisi “JUITAKU KAPAL TAK KARAM” Oleh Imron Tohari)
Pendahuluan

Menyelami makna karya sastra puisi, tentu saja memerlukan lifeskill (keterampilan/kreatifitas) dan lifespirit (motivasi diri). Materi apresiatif yang akan kita kemukakan, sebagai hasil telaah yang maksimal, akan mendapatkan dampak positif, baik kepada diri sendiri (apresiator), kreator (pencipta puisi/karya), ataupun kepada masyarakat penikmat sastra secara umum.

Lifeskill yang saya maksud adalah sebuah keterampilan olah pikir, pengalaman imajinatif dengan cara pengamatan, membaca karya sastra orang lain, maupun pengalaman-pengalaman spiritual yang tertuang berdasarkan imaji yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lifespirit (meminjam istilah IT) adalah spiritual act yang dimiliki oleh masing-masing personil. Seseorang mampu memberikan apresiasi yang baik terhadap sebuah karya (baca: puisi), jika mendapatkan spiriutal actSpritual act adalah segala sesuatu yang memberikan dampak apresiatif, baik bersifat langsung maupun tidak langsung. Baik yang bersifat kasat mata ataupun yang bersifat abstrak. Baik dari dalam diri kita sendiri, dari orang lain, maupun lingkungan sekitar.

Apresiasi terhadap sebuah puisi akan menghasilkan nilai maksimal jika lifeskill dan lifespirit, kedua-duanya berjalan seiring (balance), berpadu menyatu, dan berkesinambungan.

Kali ini, saya akan mencoba mengapresiasi, atau memakna-tafsirkan (Dr. Maryaeni, M. Pd.) sebuah puisi yang diciptakan oleh Imron Tohari. Seseorang yang menurut saya sudah tidak asing lagi di dunia perpuisian. Beliau juga sangat familiar di grup puisi 2,7. Sehingga saya harus memberanikan diri, seperti yang disarankan oleh Imron Tohari sendiri di dalam dokumen sebuah artikel dengan judul: Bukan Saatnya Lagi Membuat Esai Menjadi Hantu Yang Menakutkan. Berbekal motivasi ini, saya mencoba untuk membuat sebuah esai apresiatif puitika.

Apresiasi Puitika

Berikut ini saya tulis kembali puisi Bung Imron Tohari, yang Insya Allah, akan saya coba untuk mengapresiasi serta menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya.

JUITAKU KAPAL TAK KARAM

gelombang datang garang menerjang
juitaku menguburkan kesedihan

(lifespirit, 11 Agustus 2013)

Pemilihan judul “Juitaku Kapal Tak Karam”, menurut saya, secara ritme, rima, irama, serta nada diksinya sudah sangat baik, padu, dan maksimal (maaf, bukan sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah swt). Hal ini karena reason kausalita yang telah saya coba dengan cara mencari format pemilihan kata yang lain, tetapi form judul Bung Imron Tohari masih lebih pas, dan lebih mengena. Atau bisa jadi, karena kondisi kapabilitas saya yang minim. Dalam hal seperti ini, maka apresiator yang lain, yang nantinya akan memberikan penyempurnaan, meski tentu aja bukan sempurna yang maksimal.

Juita, dalam KBBI artinya nyawa; kekasih; buah hati|cantik; elok; (tentang gadis; wanita). Dalam hal ini saya cenderung mengartikan juita (bukan juwita) sebgai seorang kekasih yang cantik. Kekasih, orang yang sangat dicnta, adalah seseorang yang selalu menjadi idaman, impian, bahkan harapan di masa depan. Juitaku Kapal Tak Karam, adalah kekasihku yang tercantik, selalu ada dalam hidup dan kehidupan, sekalipun penuh dengan ujian, cobaan, tantangan, serta baik buruknya kehidupan. Dia adalah segala-galanya, atau kalau dalam bahasa Ahmad Dani, separauh nafasku hilang bersama dirimu, kekasih adalah bagaikan separuh nafas yang akan lepas jika sang kekasih pergi entah kemana.

Kapal adalah fasilitas untuk menyeberang lautan. Tentu saja saat kita menyeberang, akan mendapatkan banyak rintangan, baik badai, gelombang, angin sakal (istilah D Zawawi Imron), kehabisan bekal, dan lain-lain. Tetapi, meski banyak hal yang merintang, kapal tersbut tetap tegar, menerjang segala rintangan.

Gelombang datang garang menerjang, adalah bunyi larik pertama dari dua larik yang “diwajibkan” dalam form puisi 2,7. Terdapat empat kata dalam larik tersebut dengan pemilihan diksi yang sama. Mari kita perhatikan sekali lagi, gelomb|ang| dat|ang| gar|ang| menerj|ang|. Kata-kata yang berakhiran dengan rima “ang” adalah sebuah pemilihan kata yang cukup selektif. Atau, apakah tidak terkesan dipaksakan? Dalam pengamatan saya, tidak ada keterpakasaan dalam kalimat ini. Karena ketika kita membaca kalimat tersebut, timbul rasa “wah” yang tentunya beriring dengan kepaduan kata yang aplikatif.

Gelombang adalah riak air laut yang besar. Seringkali gelombang dikonotasikan dengan ujian, cobaan, dan rintangan-rintangan besar lainnya. Gelombang terjadi di samudra luas atau laut lepas. Seringkali, para pelayar (nelayan, sudagar, dll) mendapatkan ragam kesengsaraan jika mereka menghadapi pasang gelombang. Gelombang datang dalam setiap sisi kehidupan. Tetapi dengan gelombang karang dapat berdiri kokoh, kita bisa dewasa dan siap bertempur dalam menjalani hidup dengan adanya ujian dan cobaan. Dalam bahasa puisi ini adalah “gelombang”.

Garang menerjang, bukan hanya sebatas ujian dan cobaan biasa. Tetapi berupa terjangan dan hentakan yang cukup memberikan rasa was-was. Jika tidak memiliki naluri kesabaran dalam menghadapi ujian ini, bisa-bisa kita kalah dan menyerah, bahkan bisa juga mengundurkan diri dari kehidupan dengan cara bunuh diri. Na’udzu billahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah swt dari perkara bunuh diri tersebut.

Allah swt berfirman dalam al-Quran, sesungguhnya Allah swt bersama orang-orang yang sabar. Hal ini membuktikan bahwa dalam kehidupan pasti ada cobaan. Tetapi kalau kita sabar dalam menghadapinya, maka Allah swt akan menggantikan dengan nikmat luar biasa. Di balik gelombang, terdapat pulau impian yang akan memberikan setiap apa yang kita inginkan.

Juitaku menguburkan kesedihan, larik kedua ini merupakan finalisasi dari keseluruhan maksud puisi. Juitaku, seperti yang telah saya paparkan di atas, pada baris judul, adalah kekasih, pacar, istri, atau bahkan mungkin juga “simpanan”. Maaf, bukan maksud saya merekomendasikan pacar atau simpanan sebagai kekasih, hanya saja hal ini bisa juga terjadi dalam realita hidup dan kehidupan. Tetap saya sarankan untuk melakukan hal-hal yang tidak melanggar huku agama (Islam) ataupun hukum praktis, pemerintahan.

Menguburkan kesedihan. Sesuatu yang tidak mengenakkan biasanya dikuburkan. Dipendam dalam tanah agar tidak lagi dilihat, diingat, bahkan bisa segera lenyap dari kehidupan. Orang yang sudah meninggal pun harus segera dikuburkan. Rasulullah saw, memerintahkan umatnya untuk cepat-cepat menguburkan orang yang telah meninggal. Tentu terlebih dahulu dilaksanakan segala kewajibannya. Dari memandikan, mengkafani, menyolatkan, baru kemudian segera menguburkannya. Hal ini dimaksudkan agar kesedihan karena kematian segera berakhir.

Adakah yang berpendapat bahwa kalimat “juitaku menguburkan kesedihan” adalah selalu dan senantiasa berkubang dalam kesedihan dan kepedihan? Dalam hal ini saya tidak punya alasan untuk mempertahankannya sebagai argumentasi.

Penutup

Di akhir apresiasi ini, ingin rasanya saya mengucapkan permohonan maaf, khusunya kepada Bung Imron Tohari, yang tanpa ijinnya, saya lancang mencoba menarik manfaat dari puisi beliau. Kemudian permohonan maaf juga kepada rekan-rekan pecinta puisi, khusunya grup puisi 2,7, jika dalam tulisan saya ini terdapat hal yang kurang berkenan.

Dan yang paling terakhir, saya ingin menyimpulkan apa yang terbersit dalam benak saya sehubungan dengan puisi Bung Imron Tohari. Bahwa kekasih Bung IT, dalam hal ini saya tafsirkan istri (maaf kalau salah), selalu dalam ketegaran dan kesabaran biarpun dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Selalu dalam ujian dan cobaan, selalu dalam kesedihan, selalu menghadapi banyak persoalan. Tetapi, istri beliau mampu menyembunyikan kesedihan, menjadi kebahagiaan yang memang diinginkan oleh Bung Imaron Tohari.

Demikian akhir esai apresiatif ini semoga bermanfaat, baik untuk saya sendiri maupun orang-orang yang selalu ada untuk saya, para sahabat grup puisi 2,7.

Sumenep, 13 Agustus 2013

Refrensi :

Alquranul Karim
Apresiasi Puisi Antologi Puisi W. Ikhwan Purnama, oleh Dr. Maryaeni, M. Pd. (berkas-kuliah.blogspot.com/ 2003/02/ apresiasi-puisi.html?m=1 erwanpras.blogspot.com/2010/ 12/ apresiasi-puisi.html?m=1
Artikel : Bukan Saatnya Lagi Membuat Esai Menjadi Hantu Yang Menakutkan, oleh Imron Tohari dalam dokumen grup Puisi 2,7
Celurit emas, oleh D Zawawi imron
Lirik lagu Ahmad Dhani

Rate this article!
Tags:
author

Author: