Cari Pacar yang Soleh? Helow! Baca ini…

Salah seorang peserta seminar saya pernah bilang, “Om, aku mah kalau pacar mau cari yang soleh.”

Helow? Pacar Soleh? Ada kah?

Bismillah…

Duh, saya jadi ketagihan bahas tema ini, haha. Biarlah, ini juga penting bukan cuma bisnis saja. Ngomong-ngomong, saya juga praktisi pacaran selama bertahun-tahun yang sudah pensiun (huhu). Jadi soal yang satu ini saya cukup paham.

Baiklah kita bedah, adakah pacar yang soleh atau solehah?

Jawabannya: TIDAK ADA

Kenapa? Karena seorang muslim atau muslimah sejati tidak akan mau pacaran. Mereka paham dan taat dengan aturan Allah SWT. Bahkan, kita juga sudah hafal betul dengan penggalan ayat ini, “Jangan dekati Zina!” betul?

Memang tidak semua gaya pacaran itu berakhir pada perzinaan, tapi hampir seluruh perzinaan itu diawali dengan pacaran. Zina ini bukan hanya berhubungan badan saja, tapi dari mulai pandangan penuh hasrat (zina mata), pegangan tangan (zina tangan), peluk-pelukan dst.

“Ah om, yang kayak gitu mah kan biasa. Kita juga bisa jaga diri.”

Ya salaaam, seberapa kuat sih bisa menjaga? Setan bisikin terus dari segala arah loh. Kalau bener-bener bisa menjaga hati dan iman, harusnya ya tidak tergoda untuk pacaran.

Gini deh, saya mau kasih 1 tips biar Sahabat bisa lepas dari jeratan pacaran.

Yuk berandai-andai. Bagi Sahabat yang sudah merasakan manis pahitnya pacaran (well, ini sih semua pahit kalau di akhirat kelak), yang mau dilukai hatinya, yang mau diatur-atur kegiatannya, yang mau ngeluarin duit buat jajan, padahal bukan dengan pasangan yang sah silakan dengarkan ini.

Jika suatu saat, sahabat sudah menikah dan memiliki seorang anak, baik itu laki-laki dan perempuan. Anak tersebut adalah tanggung jawab dari orang tua. Bahkan, jika kita yang tidak memberikan penjagaan dan pendidikan secara agama kepada anak, anak tidak bisa disalahkan jika memang mereka melakukan kesalahan, bahkan itu bisa menjadi dosa kita. Ngeri bos!

Lalu, anaknya mulai tumbuh menjadi remaja dan mulai timbul rasa suka terhadap lawan jenis. Pertanyaan saya, relakah sahabat membiarkan anaknya berpacaran (yang jelas-jelas dosa) lalu dibawa main dengan pacarnya itu? bahkan ada loh yang sampai dibawa menginap. Apa sahabat mau dan rela jika seperti itu?

Kalau saya sih ogah. Anak saya tanggung jawab saya.

Anak adalah cerminan kita. Anak adalah peniru paling ulung. Meski saya juga belum punya anak (ya karena belum menikah), tapi alangkah bijak jika kita harus menjadi pribadi yang baik agar bisa menjadi contoh yang baik pula bagi anak kita kelak. Karena apa yang kita lakukan, akan ditiru oleh anak kita.

Ayah perokok, jangan aneh kalau anak laki-lakinya perokok.

Ibu cerewet, jangan aneh kalau anak perempuannya juga cerewet.

Ortunya ahli pacaran, beuh kemungkinan besarnya anaknya juga bakal kayak gitu.

Seperti apa anak kita kelak adalah sama persis dengan seperti apa kita saat ini.

Jadi, masih mau pacaran sebelum menikah?

Gak ada pacar soleh dan solehah, kalau soleh dan solehah mah pasti udah ngajak nikah.

Yuk hijrah! Untuk masa depan lebih baik.

Tak usah ijin, silakan langsung share saja untuk mengingatkan kepada yang lain.

Salam hangat,

Samsul R. Apriansah

Tags:

2 Responses

  1. author

    lisa tinaria1 year ago

    Kemungkinan pacaran adalah genetik. Ha ha ha ha ha ha… Coba perhatikan percakapan ini.

    “Mama dan Papa dulu ketemuannya gimana?”, seorang abege bertanya kepada Mamanya.

    “Hhmm…”, Mama garuk-garuk kepala.

    “Mama sama Papa pacaran ya?” penegasan atau masih status pertanyaan, dari sang gadis.

    “Hhmm…” Mama bingung mau menjaeab apa, soale Mama and Papa pacaran selama tujuh tahun.

    “Kan pacaran itu gak boleh”, sang gadis mulai mengganti status kalimat. Bukan lagi pertanyaan, tidak pula pernyataan tetapi malah hujatan.

    Nah lo 🙁

    Reply

Leave a Reply