CAPINSOLDER

Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin…(HR. Bukhori dan Muslim)

 

Saya mengenalnya di dunia maya sebagai sosok yang kalem, tegas, lincah, tangguh dan memiliki rasa empati yang luar biasa. Sebut saja ia Ayunda Capinsolder. Kami bersahabat dan menjadi anggota di beberapa grup What’s App yang sama.

Dalam diskusi-diskusi panjang di grup, kuamati ia orang yang tidak mudah ‘nggumunan’. Ketika kami sedang ramai membicarakan model gamis paling digandrungi, ia kalem. Di saat yang lain, ketika kami sedang asyik berdiskusi tentang buku, ia juga tetap stay cool. Di waktu yang berbeda, ketika kami ribut tentang umroh, ia tetap santai. Tidak ikut heboh. Karena dia memang sudah menjalankan rukun kelima di tahun 2012.

Dibalik sikap diam dan kalemnya, ia memiliki perhatian lebih pada setiap anggota grup. Dan hampir selalu terdepan dalam memberikan solusi nyata, saat ada kawan di grup yang tertimpa kesulitan.

Pada suatu ketika, ada seorang sahabat yang bercerita tentang musibah yang menimpa putranya. Putranya terjatuh saat bermain seluncuran di sekolah, dan dari hasil rontgen ternyata ada tulang yang patah di tangan.

Gundah. Dokter merekomendasikan untuk operasi secepatnya dengan biaya belasan juta rupiah. Sementara kalau putranya dibawa ke tukang urut, beliau kuwatir kelak tangan anaknya tidak bisa pulih seperti sedia kala.

Di saat kawan yang lain menghibur dan memberi masukan, ia tidak banyak berkomentar, tapi diam-diam mengirim pesan pribadi padaku.

“Say, kita saweran yuk, buat saudari kita?”

“Ayo, mau broadcast atau bagaimana?”

“Jangan broadcast. Terlalu banyak anggotanya, capek kita nanti.Aku remove dia dulu dari grup, nanti kamu yang membuat pengumuman ya.”

“Ngga apa-apa diremove?”

“Ngga apa-apalah, sebentar saja koq, nanti aku invite lagi.”

Dan jadilah pengumuman ta’awun itu saya posting. Teman-teman di grup antusian untuk ikut saweran. Dalam waktu 2 jam terkumpul sejumlah uang yang mendekati jumlah kebutuhan untuk operasi. Alhamdulillah. Guyup. Itulah nuansa yang saya dapatkan dari grup ini. Jiwa fastabiqul khoirotnya patut diacungi jempol.

Di waktu yang lain, ada seorang ummahat bercerita bahwa dia sedang kesusahan menyiapkan bekal makanan untuk anak-anaknya. Kondisi kehamilannya yang tinggal menunggu persalinan membuatnya tidak bisa gesit, sementara suami sedang berada di luar pulau, tidak ada asisten yang menemani, dan tidak ada yang bisa dimintai tolong ke pasar untuk membeli makanan.

Ingin tahu apa yang dilakukan Ayunda? Diam-diam ia menghubungi adiknya yang tinggal satu kota dengan ummahat itu. Disuruhlah sang adik untuk belanja ke pasar, membeli makanan untuk persediaan beberapa hari, dan siang itu juga segera menyerahkannya kepada sahabat kakaknya itu.

Bisa dibayangkanlah  bagaimana reaksi ummahat ini saat ada seseorang yang tidak dikenal mengetuk pintu rumahnya, memperkenalkan diri sebagai adik Ayunda dan menyerahkan kantong berisi makanan yang dibutuhkannya saat itu. Kejutan yang tak akan pernah diduga oleh ummahat itu barangkali.

Ringan tangan kepada teman, lincah dalam bekerja, dan dermawan kepada sesama. Tak salah kalau saya memanggilnya Capinsolder. Cakep, pinter, sholehah dan dermawan. Teruntuk Bu Capinsolder dimanapun berada, ingat dan panggil aku, wahai kawan, jika kelak tak menemukanku di surgaNya.

 

Rate this article!
CAPINSOLDER,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply