BULAN JINGGA

Malam masih menyisakan gerimis. Riak air hujan menyusuri lubang-lubang kecil yang ada di sekitarku. Kurenungi sisa bintang yang bersembunyi di balik awan hitam. Hatiku terus bertalu, berteriak tentang hidup. Tentang cinta, tentang rindu, tentang asa dan air mata.

“Mungkinkah cinta kita masih bertaut?”
“Aku beku di antara kabut malam.”
“Jangan, Sayang!”
“Aku tidak tahu, Cinta!”
“Jangan pernah berputus asa!”

Aku bersandar pada sebuah batu besar. Ada perasaan yang tidak terabaikan. Terkenang dan tidak terlupakan. Agnes adalah cinta pertamaku. Hanya kepadanya labuhan hati berpadu. Satu dalam ikatan cinta yang kian bertalu.

“Malam ini, pandanglah bulan yang berwarna jingga. Bagai suatu keresahan tentang cintaku dan cinta kita.”

Dingin malam menusuk tubuhku. Aku ringkuh di balik selimut tidurku. Tanpa nyenyak. Tanpa pulas. Kenangan terus berpacu pada raut wajah yang tidak pernah terlupakan. Pada sunyi aku mengadu. Tentang resah ini. Tentang hati yang rindu. Tentang tarian rindu yang terus mencari di rerumpun malam yang syahdu. Aku hany bisa berharap mimpi.

“Perbedaan ini, sungguh menyakitkan!”
“Aku setuju,..” sambil menganggarkan wajahnya yang berbinar purnama. Cantik bersulam kembang. Indah tiada tara.
“Aku benci agama!”
“Haruskah begitu?”
“Ya,..karena perbedaan agama, kita terperosok ke dalam neraka.”
“Aku masih ragu!”
“Maaf,.. aku tidak!” Mantap. Aku telah dirasuki setan. Aku sudah tidak peduli dengan agama. Karena agama, cintaku pada Agnes runtuh.

“Dengan Agnes? Temanmu yang Kristen itu? Langkahi dulu mayat Abah!”

Kata-kata Abah masih terngiang. Begitu saja menghantam relung pikirku. Aku tidak bisa berbuat apa. Meski aku mampu untuk berontak, namun Abah adalah orang tuaku. Yang membesarkanku. Yang mendidik dan mengasuhku. Jadi, aku terpenjara di dalam cinta yang tidak direstu.

Maka, wajar. Benar-benar wajar kalau aku benci agama. Agama telah meluluh lantakkan cita cintaku. Agama telah membuat aku dan Agnes berpisah. Tidak! Aku dan Agnes akan terus bersama. Agama harus kuenyahkan dari kehidupanku. Harus!

Maka tumbuhlah benih hasratku pada kehidupan sekuler. Kehidupan yang bebas. Ya, bebas tanpa ikatan kaidah agama. Bebas berbuat apa saja. Sebagaimana dasar kebebasan untuk hidup ataupun mati. Aku ingin bebas. Sebebas-bebasnya. Tanpa aturan agama yang telah membelenggu asa dan harapanku.

“Aku sekarang sudah tidak beragam,.. Sayang!”
“Apa?” Kening Agnes mengkerut. Seakan tidak percaya dengan ucapanku.
“Ya, aku telah mencampakkan agamaku. Ini semua karenamu, Agnes!”
“Tidak! Aku tidak sudi dengan ateis. Sungguh! Tinggalkan aku sendiri!”
“Agnes,…?!”
“Jangan sentuh aku!”
“Agnes,…?!”

Bukankah agama itu candu? Seperti yang dikatakan oleh Karl Marx, bahwa agama itu alienasi dan candu. Sebuah ideologi yang akan mengikat kebebasan. Membelenggu cinta yang seharusnya disatukan. Agama adalah penghalang untuk sebuah kesucian cinta. Ya, cintaku dan cinta Agnes, yang terbangun atas keluhuran jiwa. Maka, sah-sah saja kalau aku tidak beragama.

Tuhan itu tidak ada. Ya, tidak ada. Jean Paul Sartre mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena kita bebas. Bebas berbuat semaunya. Bebas berhubungan dengan siapa saja. Silakan saja mencuri, membunuh, merampok, dan lain sebagainya. Itu semua tidak ada balasan sesudah mati. Tidak ada! Karena Tuhan itu benar-benar tidak ada.

Albert Camus mengatakan bahwa hidup itu tidak perlu dijelaskan. Bunuh diri itu bukti tidak adanya Tuhan. Karena kita dapat menentukan hidup atau mati diri kita sendiri. Jadi bohong kalau ada yang mengatakan bahwa hidup ini diatur oleh Tuhan. Tuhan yang mana? Buktinya apa? Jadi, Tuhan tidak ada. Titik!

Begitu juga menurut Juan Ramon Jimenez. Ia mengatakan bahwa tidak ada surga setelah mati. Tidak ada. Itu bohong. Karena keabadian itu membosankan. Jadi tidak ada surga, juga tidak ada neraka. Kita mati bagai tidur panjang tanpa mimpi. Kemudian lenyap ditelan perputaran waktu. Tidak ada balasan, dan tidak ada siksaan. Itulah!

Panjang lebar aku menjelaskan kepada Agnes tentang agama. Tentang eksistensi Tuhan. Tentang surga dan neraka. Tetapi, Agnes bergeming. Diam dalam tangis yang menyayat. Aku pun bagitu iba. Sedih Agnes adalah sedihku juga.

“Mas, ketahuilah. Selama ini aku sudah mencari kebenaran hakiki. Dan itu,…aku temukan dalam agamamu. Islam adalah hakikat kebenaran untuk membawa kita pada keabadian cinta!”

Aku terhenyak. Aku telah terpengaruh oleh egoisme diri. Aku terlalu apriori, emosi, dan ….

“Ya Allah, ampunilah aku ya Robb!”

Aku baru sadar bahwa selama ini aku berada dalam bujuk rayu setan. Selama ini aku terpengaruh oleh ideologi sekularisme. Aku menyesal. Sungguh, aku menyesal.

Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Awan hitam bergulung-gulung. Dan,…dari kejauhan terdengar riuh gemuruh. Dentuman keras yang menghantam desa tempat lahirku dan Agnes. Kulihat orang-orang hiruk pikuk menyelamatkan diri. Aku bertanya kepada seseorang yang berlari pontang-panting tidak jauh dari tempatku berdiri.

“Ada apa Pak?”
“Bencana,…Nak! Longsor. Segera menyelamatkan diri!”

Orang itu ngos-ngosan menahan napas. Terus berlari di antara sekian orang yang juga sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Jerit tangis terdengar di mana-mana. Dan guruh gemuruh itu sudah semakin dekat.

Kupandangi Agnes di sisiku. Ia merapat ke dalam pelukanku. Aku sadar, ini belum waktunya. Tapi, dalam keadaan darurat, keselamatan adalah yang paling utama. Aku dan Agnes pun ikut berlari. Menyelamatkan diri dari hantaman longsor yang sangat tiba-tiba. Kugenggam erat tangan Agnes. Seakan tiada akan kelepas lagi.

Tetapi suara gemuruh itu kian dekat. Gulungan tanah dan material lainnya sudah tidak mungkin untuk dihindari. Banyak orang sudah pasrah akan akhir dari hidup mereka. Jeritan kematian terdengar dimana-mana.

“Mas, ajari aku menganut agamamu.”
Agnes berkata dengan bibir bergetar. “Aku ingin mati dalam Islam.” Lanjutnya dengan mata bersinar. Kupandangi wajah cantik itu. Bergetar dadaku untuk tidak menyentuh sudut matanya yang berlinang.

“Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”

Material longsor pun menghantam kami. Aku dan Agnes rata dengan tanah. Hilang di antara reruntuhan. Lenyap bersama kedamaian iman yang bersinar. Kulihat di langit sana, Agnes tersenyum tawa, manis tiada tara.

BULAN JINGGA
(Delta ft Yulis Udo)

Hoo…
Hop…

Getar asmara di dalam dada
Rindu sekian lama tak jumpa
Cinta seakan kian membara
Kasih, adakah merasakannya

Sengaja kupetik gitar
Senandungkan lagu rindu
Kuharap Engkau di sana merasakan juga, yang kuderita

Kekasih, pandang malam ini
Bulan berwarna jingga
Bagai gambaran hatiku ini
Yang menyimpan keresahan

Lautan gunung jadi pemisah
Masih sanggup kulalui
Namun berbeda agama,….

Memaksa kau untuk pergi
Tinggalkan diriku!
***

Rate this article!
BULAN JINGGA,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply