BUAH MANGGA

BUAH MANGGA

Olin memandang mangga menggelayut di pohonnya. Sudah seminggu ini mangga itu menjadi perhatiannya. Ada, satu, dua, eh…tiga dalam satu rangkai. Tetapi baru satu yang kelihatan kuning di dekat tangkainya. Yang paling besar.

Pohon mangga itu berada di halaman sebuah rumah. Letak pohon mangga agak ke pagar sehingga buahnya ada yang menjulur ke jalan. Setiap pergi dan pulang sekolah dia melewati jalan itu. Pohon mangga itu tak terlalu tinggi tetapi karena Olin masih kelas satu SD maka mangga itu tampak tinggiiii….sekali.

Mana orang yang punya rumah? Olin berkata dalam hati. Rumah itu gordennya terbuka, pertanda ada penghuninya. Ketika sedang memerhatikan mangga di atas kepalanya, lewatlah Malin kakak kelas Olin. Dia sudah kelas tiga.

“Olin, sedang apa di sini?!” suara Malin mengagetkan Olin. “Sedang melihat mangga ya?” Malin menebak dengan benar.

Olin tersipu malu. “Mangganya satu sudah besar” kata Olin.

“Kamu mau? Kalau iya, aku ambilkan?” Malin bisa menebak pikiran Olin. Malin berjalan ke arah pagar rumah itu.

“E, jangan. Jangan Uda Malin.” Olin berusaha mencegah tetapi Malin sudah naik ke pagar. “Kita harus meminta pada yang punya!” Olin berteriak mengingatkan Olin.

“Orangnya nggak ada. Ambil saja” jawab Malin dengan enteng. Badannya yang tinggi dengan tangan yang panjang akhirnya bisa meraih mangga itu.

“Ini. Ambillah” Malin menyerahkan tiga mangga kepada Olin. Olin ragu menerimanya. Bukankah kita tidak boleh mencuri. Pemilik mangga tidak tahu tetapi Allah melihat, bukan? Itu bisikan hati Olin. “Bawa pulang saja” kata Malin sambil memasukkan mangga itu ke tas Olin. Setelah itu Malin pergi dengan senang.

“Bunda, ini mangga untuk Bunda” Olin langsung membuka tasnya, memgeluarkan mangga dan memyerahkannya kepada Bundanya.

“Dari mana Olin dapat mangga ini?” Bunda bertanya heran.

“Dari Uda Malin, Bunda” Olin berusaha menutupi asal usul mangga itu.

“Malin dapat dari mana? Tampaknya baru dipetik.” Olin diam saja. “Malin tidak punya pohon mangga di rumahnya.” Koq Bunda tahu ya…kata Olin dalam hati.

“Olin, dari mana Malin dapat mangga ini?” tanya Bunda lagi, mulai curiga. Suara Bunda mulai naik. “Malin ngambil mangga orang ya…!?” Olin tetap diam. Bunda mulai marah. “Bunda tidak suka Olin menerima mangga curian atau Olin sendiri yang mencuri mangga”. Bunda menatap tajam pada Olin yang masih berdiri kaku, belum sempat membuka sepatu.

“Benar ini Malin yang mencuri mangga?” Dengan sangat terpaksa Olin mengangguk.

“Olin tadinya mau minta ke pemilik mangga, untuk Olin kasih ke Bunda. Tetapi Malin langsung memanjat pagar.” mata Olin mulai berair. Bahunya mulai naik turun. Dia mulai sesengukan.

Bunda terdiam kaget. Tak menyangka Olin berniat seperti itu. Niat yang baik untuk menyenangkan Bunda. Bunda terharu. Bunda sekarang berlutut di depan Olin yang menundukkan wajah.

“Coba lihat wajah Bunda.” Bunda mengangkat wajah Olin. “Olin anak baik. Bunda senang Olin memberi Bunda mangga. Tetapi Bunda tidak senang kalau Olin menerima mangga hasil curian.”

“Bukan Olin yang mencuri, Bunda”. Olin mulai berhenti menangis.

“Ya, tetapi menerima barang dari pencuri, sama artinya berteman dengan pencuri. Allah tidak suka seperti itu.”

“Ya Bunda” Olin mengangguk.

“Sekarang, mari kita kembalikan magga ini ke pemiliknya. Tunjukkan Bunda rumah pemiliknya.”

Olin dan Bunda berjalan berpegangan tangan, menuju rumah pemilik mangga. Tangan Olin yang satu lagi menenteng kantong plastik berisi tiga buah mangga.

Bandung, 23 11 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
BUAH MANGGA,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply