Bogor Kota Impian

Namaku Virga. Aku selalu menyukai pagi. Bagiku, pagi adalah saat dimana mimpi-mimpi merekah indah seperti mawar. Pagi, berarti satu hari telah ku lalui dan harus disyukuri apapun yang terjadi. 

Namaku Virga. Aku juga menyukai hujan. Bagiku, hujan selalu menyegarkan mimpi-mimpiku yang merekah di pagi hari. Menambah semangat untuk memperjuangkannya.
Saat ini aku duduk di kelas 12 SMA jurusan IPA. Jujur, aku tak begitu tertarik untuk mendalami pengetahuan alam. Tapi entahlah, takdir mengharuskanku untuk berjuang mendalaminya. Tak mudah, tapi ku yakin ini yang terbaik dari Sang Pencipta.

Guru Fisika itu masih asyik berkutat dengan rumus dan angka. Sedangkan kami, 40 murid yang hadir lengkap di kelas sudah mulai jenuh karena tiga jam pelajaran sudah kami berkutat dengan angka. Setelah mengerjakan beberapa soal latihan yang bisa dibilang menantang, akhirnya bel nyaring sekolah berbunyi. Menandakan waktu istirahat sudah tiba. Aku dan temanku yang bernama Ratna segera menuju masjid sekolah untuk menunaikan sholat dhuha. Bagi kami, harus ada satu waktu dimana kami fokus kepada Allaah, sang pencipta langit dan bumi. Jangan sampai kesibukan kami menghadapi ujian nasional melalaikan kami dari-Nya. Karena apalah daya kami tanpa pertolongan-Nya. Aku dan Ratna larut dalam khusyu’ nya bermunajat dalam do’a. Memohon kemudahan dan kelancaran dalam meraih cita. Dua puluh menit berlalu. Kami sudah selesai sholat dhuha. Masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk berbincang ringan. Akhir akhir ini, perbincangan kami hanya seputar rencana ingin melanjutkan kuliah dimana. Intinya, kami dan teman teman yang lain berusaha semaksimal mungkin agar bisa masuk perguruan tinggi negeri terbaik. Aku berjuang agar bisa masuk Ekonomi Syariah IPB sedangkan Ratna akan berjuang agar bisa di terima di Kimia Universitas Indonesia. Entahlah, aku selalu menyukai ekonomi. Bahkan dulu, aku pernah ingin mengikuti salah satu temanku yang pindah jurusan ke IPS. Tapi, ku urungkan niat ku karena aku sangat yakin ini yang terbaik dari-Nya.

Setelah kurang lebih satu tahun kami fokus belajar di sekolah dan di tempat les, akhirnya hari ini ujian nasional tiba. Kami berjuang di sekolah dengan bekal ilmu sedangkan orang tua kami berjuang di atas sajadahnya dengan air mata. Memohon agar anak anak nya dimudahkan dan dilancarkan. Aku dan Ratna satu ruangan karena huruf awal nama kami berdekatan. Saat ujian nasional seperti ini, satu kelas hanya diisi oleh dua puluh orang siswa dan dua orang pengawas dari sekolah lain. Dua hari kedepan akan sama seperti hari ini, hanya mengerjakan soal dengan baik dan mengumpulkannya kepada pengawas ketika waktu habis.

Kami tak hanya dicemaskan oleh hasil pengumuman ujian nasional saja. Tapi, kami juga dicemaskan oleh hasil pengumuman SNMPTN. Alhamdulillaah, murid murid di sekolah ku lulus 100 persen di ujian nasional. Dua minggu kedepan tinggallah kami menunggu hasil pengumuman SNMPTN. Pengumumannya bisa di akses dari rumah. Aku dan Ratna sudah sepakat untuk melihat pengumumannya di taman dekat sekolah. Senang bersama ataupun sedih bersama untuk kemudian bangkit dan berjuang lagi bersama. Dan tibalah hari ini pengumunan SNMPTN. Aku sudah lebih dulu tiba di taman, memutuskan untuk menunggu Ratna di sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang. Tak lama ia pun datang. Kami sudah tak sabaran. Sepakat berteriak membacakan hasil pengumuman pada hitungan ketiga. Saat itu Ratna berteriak kalau dirinya lolos SNMPTN. Disaat yang sama aku berteriak kalau aku tak lolos SNMPTN. Ratna kaget. Ia langsung melihatku dan menyangka kalau aku hanya bergurau. Aku mengatakan kalau aku jujur dan tak bergurau. Ia langsung memelukku dan menangis. Sedangkan aku berusaha menutupi kesedihanku dan berusaha menenangkannya. Bilang semuanya akan baik baik saja.

Pengumuman SNMPTN kemarin mengartikan kalau aku masih harus berjuang di SBMPTN dan USM kedinasan lainnya. Aku masih memilih Ekonomi Syariah IPB saat SBMPTN. Aku juga mengikuti beberapa USM kedinasan, salah satunya USM PKN STAN. Tak terasa, minggu depan adalah pengumuman SBMPTN. Aku antusias untuk melihatnya. Berharap aku bisa diterima di salah satu pilihan. Sayang, aku pun tak lolos di semua pilihan. Tak apa, masih ada pengumuman USM kedinasan dua minggu kemudian.
Aku masih berkomunikasi dengan Ratna. Menggodanya tentang ospek yang akan diikutinya nanti. Hari-hari berjalan lancar seperti biasa walaupun kesedihan masih menggelayut di hatiku. Dan hari ini, tibalah pengumuman USM PKN STAN. Aku tak seantusias kemarin saat melihat pengumuman SBMPTN. Dan ternyata benar saja, aku tak lolos untuk yang kesekian kalinya. Langit cerah diluar sana seakan tak mengerti betapa gelapnya mendung di hatiku. Merasa semuanya telah berakhir sia-sia. Merasa bersalah karena tak bisa membanggakan kedua orang tua dan keluarga. Merasa gagal di setiap usaha. Putus asa.

Saat Ratna dan teman teman yang lainnya sibuk menyiapkan keperluan untuk kuliahnya, aku hanya diam di rumah. Melakukan apa saja yang bisa ku lakukan. Membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca buku di waktu luang. Berharap akan ada keajaiban suatu saat nanti. Berusaha bangkit atas kesedihan berulang kali kemarin. Mulai memandang semuanya dari sudut yang berbeda. Membesarkan hati untuk menerimanya dan meyakini kalau ini adalah yang terbaik dari-Nya. Mungkin IPB bukan jalan yang terbaik untuk masa depanku. Tak apa, aku yakin esok aku akan menemukan jalannya.

Setiap orang boleh berencana. Tapi satu hal yang tak boleh dilupa, rencana Allaah tetap yang terbaik. Kegagalan yang lalu janganlah dijadikan jurang yang memutus jalan ke masa depan. Kegagalan yang lalu jadikanlah sebuah pelajaran yang berharga. Kekuatan dan keikhlasan masa ini jangan hanya sesaat. Kekuatan dan keikhlasan masa ini jadikanlah tameng untuk berjuang kedepan nya. Tak gentar menghadapi berbagai kemungkinan dalam menggapai cita.

Hari ini, saat Ratna dan teman temanku yang lain memulai kuliahnya, disaat yang sama Allaah memenuhi janji-Nya. Hari ini, aku mulai kuliah di sebuah lembaga agama di Bogor. Tak apa, seperti keinginanku dulu yang ingin sekali kuliah di Bogor, hanya saja sekarang berbeda tempat dan jurusannya.

 

Rate this article!
Bogor Kota Impian,5 / 5 ( 1votes )

Leave a Reply