Bertengkar Dengan Pasangan? Oh, No!

Untuk pasangan yang sudah menikah, wajarlah bila pernah bertengkar atau setidaknya selisih pendapat dengan pendamping hidupnya masing-masing. Namanya juga dua kepala yang dibesarkan dua keluarga yang berbeda. Yang mendapatkan pasangan satu suku pun bisa jadi punya banyak perbedaan, apalagi bila berbeda suku dan adat istiadat. Lagi-lagi based on my true story, saya mencoba berbagi pengalaman saya. Apa sajakah itu?

 

  1. Menerapkan teknik “pause” itu wajib hukumnya. Namanya juga “sedang terbakar emosi”, kadang-kadang apa yang keluar dari mulut juga tindakan kita adalah “kata ego yang dimenangkan”. Sudah tak lagi pakai logika. Kalau sudah begitu, mau bagaimana? Masing-masing pasangan perlu punya kemampuan untuk mengendalikan emosi masing-masing. Agar tidak melukai satu sama lain yang efeknya akan berujung penyesalan. Tidak mau, kan, “karena nila setitik rusak susu sebelanga”? So, pisahkan diri terlebih dahulu. Dan ini tantangan besar untuk yang belum bertempat di rumah sendiri, karena kita tak boleh menampakkan ketidakakuran di luar.

 

  1. Pada saat “break”, apa yang harus dilakukan? Legakan dulu emosi kita. Apakah ingin menangis, berteriak, menghibur diri sendiri dulu. Menahan emosi itu tidak baik. Yang betul adalah dialirkan dengan pengendalian agar tidak lepas begitu saja tanpa kontrol. Cari apa yang kita senangi. Bagusnya di saat ini, jangan dekat-dekat dulu dengan anak-anak, atau juga penyebab amarah kita, ya! Hihihi.

 

  1. Setelah melegakan emosi, berpikirlah dengan logika. Apa penyebab kita bertengkar? Alasan utamanya apa? Biasanya pasangan yang sedang bertengkar, bila sudah menurutkan emosi, semuanya diikutsertakan. Yang sebenarnya bukan masalah, bisa jadi masalah. Maka, berpikirlah dengan jernih. Dan cari tahu, kenapa saya marah pada pasangan?

 

 

  1. Setelahnya, ini yang terpenting. Bicarakanlah dengan pasangan. Komunikasikan secara terbuka. Berdua saja. Bagi yang sulit untuk berbicara langsung, saya sarankan untuk menulis surat. Karena dalam menulis, kata-kata bisa diedit sebelum “klik send”. Tentunya ini tergantung situasi dan kondisi kita. Tapi, saya tidak menyarankan lewat telepon, kecuali bagi yang menjalani “Long Distance Relationship”. Yang paling baik, tetaplah berhadapan langsung.

 

  1. Yang tak kalah pentingnya, mengenang kebersamaan kita dengan pasangan. Kebaikan yang pernah dia lakukan untuk kita. Mengenang saat pertama kali bertemu. Apa yang membuat kita jatuh cinta padanya. Mungkin menonton video rekaman pernikahan bisa membantu? Bayangkan juga, seandainya itu hari terakhir bertemu dengannya, relakah kita berpisah dengan pasangan dalam keadaan tak rukun seperti ini? Saya yakin, semuanya akan menjawab tidak.

 

Itu kira-kira hal yang bisa saya bagi. Dan tentunya, ada kalanya kondisi menjadi rumit. Masalah tidak sesepele itu. Mencari bantuan seseorang yang bersikap netral mungkin diperlukan. Dalam berumah tangga, kita perlu belajar bagaimana membangun cinta, bukan hanya sekedar jatuh cinta. Semoga bermanfaat.

 

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply