BERSAMA MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH

Setiap sekolah pasti punya budaya yang dibangun oleh sistem yang dijalankan oleh pemegang kebijakan dalam hal ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf.

Budaya adalah pengejewantahan aturan dan sistem yang ada di sekolah tersebut. Misalnya  untuk sebuah aturan kedisiplinan, sekolah pasti memiliki aturan-aturan yang berlaku di masing-masing sekolah tentang bagaimana cara agar guru bisa disiplin, siswa bisa disiplin, semua warga sekolah bisa disiplin. Maka dibuatlah aturan agar kedisiplinan bisa ditegakkan.

Di sekolah kami, ada aturan siswa harus memakai alas kaki jika keluar dari kelas. Siswa memang tidak memakai alas kaki ke dalam kelas, karena kelas memakai karpet di tengah. Karpet ini berguna jika guru menerangkan pembelajaran siswa duduk di disitu agar lebih fokus mendengarkan. Oleh karena itu siswa membuka alas kaki sebelum masuk kelas dan diletakkkan di rak sepatu yang tersedia di depan kelas. Jika siswa hendak keluar kelas lagi, maka siswa diwajibkan memakai alas kaki yaitu sepatu atau sandal. Untuk anak laki-laki awalnya aturan ini agak sulit karena bagi mereka itu tentu merepotkan. Sehingga banyak siswa yang tidak mau menggunakan alas kaki jika keluar kelas.

Bagaimana agar semua siswa putra mau menggunakan alas kaki. Beberapa guru awalnya sangat pesimis, karena berkali-kali meminta siswa menggunakan alas kaki, tetapi tidak pernah berhasil. Mereka menyerah. Kemudian kami duduk bersama dan berembuk. Hasilnya kami membuat aturan dan SOP (standard operating procedure) kemudian kami melakukan simulasi antara sesama guru agar semua guru mengetahui bagaimana menjalankan aturan dan SOP tersebut. Kemudian setiap wali kelas melakukan simulasi ke siswa di kelasnya.

Apakah siswa putra serta-merta berubah? Tidak. Beberapa siswa butuh berkali-kali pemahaman dan simulasi, kami pun tak lupa melibatkan orang tua siswa, agar mereka pun paham aturan yang berlaku di sekolah. Seminggu, dua minggu, semua guru berjuang agar aturan kecil ini bisa dijalankan oleh semua warga sekolah. Alhamdulillah sekarang tak ada lagi siswa yang tidak memakai alas kaki keluar dari kelasnya.

Untuk sebuah aturan kecil dibutuhkan kerjasama semua pihak agar aturan tersebut bisa berjalan dengan baik setiap hari. Aturan ini kemudian menjadi budaya. Aturan tidak bisa berjalan  dengan sendirinya, tanpa campur tangan semua warga sekolah. ketika aturan sudah ditetapkan dan siap untuk ditegakkan, maka semua orang berkewajiban bekerjasama menegakkan aturan tersebut. Guru adalah pionir atau pelopor. Gurulah pertama yang memberi contoh kemudian bisa ditiru oleh siswa-siswanya. Jika guru tidak bisa memberi contoh penegakan aturan di sekolah, maka jangan harap siswa akan mau menjalankan aturan tersebut.

Oleh karena itu, untuk membangun budaya sekolah semua warga sekolah harus paham apa aturan tersebut, apa manfaatnya sehingga bisa menjalankannya dengan baik. Jika seperti ini maka budaya sekolah bisa dibangun dan menjadi ciri khas tiap sekolah.

Makassar, 18 Januari 2017

 

 

 

 

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply