Berproses Bukan untuk Menjadi Instant dalam Universitas Kehidupan

Terkadang semua manusia maunya belajar secara cepat atau instant. Padahal, justru dalam berproses itulah banyak nilai-nilai kehidupan yang kelak, bisa menjadi bekal dalam menjalani Universitas Kehidupan. Siap yang tidak mau cepat belajar? Pasti semua akan mengacungkan jarinya. Namun siapa yang mampu melewati pedihnya, lelahnya belajar, sebagai ujian kenaikan kelasnya?

Begitu juga wanita, terkadang yang mudah baginya mengibarkan bendera puth tanda menyerah, pergi dari masalah dan, diam tanpa kata-kata. Wahai saudariku, sesungguhnya Universitas Kehidupan itu tempat kita menempa karakter dan melatih mental kita untuk menjadi kuat. Jangan pernah berharap cepat atau instant untuk mendapatkan jawaban atau solusi. Justru disitulah Allah mengujimu, dan membentukmu agar menjadi wanita sholihah yang tangguh.

Tetapi, belakangan rasanya hidup manusia jaman sekarang tidak seperti itu. Paham industrialisasi, seolah telah merubah hidup seperti arena balapan. Siapa yang paling cepat, dialah yang paling hebat. Anak-anak sekolah, maunya lulus cepet-cepetan. Kalau bisa 5 tahun, kenapa harus 6 tahun? Jikalau bisa 2 tahun saja, mengapa harus 3 tahun. Yen biso 3.5 tahun, kenapa harus sampai 4 tahun? Arena balapan pun berlanjut dengan siapa yang paling cepat mendapatkan pekerjaan. Terus berlanjut, siapa yang paling cepat kaya, yang paling cepat naik jabatan dan karirnya, yang paling cepat naik popularitasnya, dan seterusnya dan seterusnya (Urip.urup)

Saya sering berkata kepada anak-anak kandung saya dan siswa saat dikelas. Jalani setiap prosesnya belajar. Usiamu masih cukup untuk melewati perjalanan kamu belajar di sekolah. Janganlah ingin instant. Ibarat buah dimatangkan sebelum waktunya, tentu hasilnya akan berbeda dengan yang matang di pohon. Kematangannnya benar-benar merata dan menunjukkan kesiapan. Berbeda yang matang dengan paksaan atau dikarbit.

Tetapi, ada sedikit segelintir orang menempuh jalan kehidupan yang berbeda. Memilih, jalan sunyi, jalan yang berbeda, yang tidak ditempuh banyak orang, bahkan mungkin dia sendirian yang menempuhnya. Tetapi bila dia yakin, pasti hasilnya lebih baik dengan yang diambil oleh orang kebanyakan.
Seorang profesor terkenal, yang menjadi pembicara dalam pelatihan itu bercerita bahwa dulu ketika profesor itu menjadi mahasiswa PhD, supervisornya selalu menyuruh menulis ulang setiap kalimat yang dia tulis dalam disertasinya. Dan itu membutuhkan proses yang ‘teramat menyakitkan’ selama lebih dua tahun untuk menyelesaikan menulis disertasinya. Karena bersabar berproses, akhirnya beliau pun berhasil bermetamorfosis dari mahasiswa yang nyaris putus asa menjadi seorang Profesor yang ternama. (Urip.urup)

Begitu juga saya, hitungannya, saya ini terlambat untuk memulai dan memantapkan karir di dunia pendidikan. Tapi Alhamdulillah, seiring dengan pengalaman dan keperihan yang berjalan seimbang, perlahan tapi pasti satu-persatu kepercayaan diri mulai di raih. Namun, dalam membentuk keluarga, dan anak-anak saya mulai sejak awal saya merencanakan pernikahan hingga kehamilan. Saya merancang dan menjalani perjalanannya dengan kesabaran luar biasa, dimulai dari umur 19 tahun berani menikah muda, memiliki anak di usia jelang 24, Alhamdulillah 3 jagoan laki-laki saya bisa saya bentuk untuk melewati proses kehidupan. Tidak ada yang instant.

Wahai saudariku,. . .mari terus berproses, seperti ulat yang berproses menjadi kupu-kupu cantik. Begitu juga wanita sholihah membentuk keluarga dan anak-anaknya. Jangan pernah lelah

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply