Berhati-Hati saat Bepergian

Sebut saja namanya Dija, mahasiswi tingkat pertama Fakultas Keguaruan dan Ilmu Pendidikan sebuah perguruan tinggi Negeri. Sebagai mahasiswi semester awal, walaupun sudah hampir empat bulan kuliah, Dija belum sepenuhnya memahami kondisi lingkungan tempatnya kuliah. Setiap hari efektif kuliah, sebelum meninggalkan kampus, Dija sholat Zuhur terlebih dahulu di Musallah Fakultas Kampusnya.
Hari itu, seperti biasa sebelum wudhu Dija meletakkan map plastik bening berisi foto kopian materi kuliah hari itu dan beberapa kartu kuliah. Dija juga meletakkan tas selempang kecil yang sedang ia pakai. Bebarapa barang bawaannya itu di letakkan di belakang tempat sholat, dekat lemari mukena di sudut belakang ruang musallah. Setelah sholat, merapikan mukena musallah dan jilbabnya, Dija menuju tempat ia meletakkan barang-barang yang ia letakkan sebelum sholat. Dija terkejut melihat hanya map yang masih ada sedangkan tasnya sudah tidak ada lagi, Dija bingung, diarahkanlah pandangannya kesemua sudut musollah, tidak ditemukan. Dija coba melihat ke teras musollah juga tidak ditemukan. Dija makin bingung. Setelah berusaha keluar masuk musollah mencari tapi tak ada hasil, Dija duduk di tempat ia meletakkan barang-barangnya.
Jama’ah musallah itu selalu banyak setiap harinya. Ratusan mahasiswi yang keluar masuk musollah itu tapi satu atau dua orang saja yang Dija kenal. maklum, mahasiswi baru. Ketika jama’ah sudah sepi. Tersisa tiga mahasiswi yang masih duduk di dalam musollah. Dija memberanikan diri bertanya, siapa tahu mereka melihat tasnya. Dija baru sadar kalau tasnya sudah dicuri orang setelah diceritakan oleh kakak tingkatnya itu. kalau sering terjadi hal serupa di musollah – musollah kampusnya. Ada oknum tertentu yang memanfaatkan kesempatan saat ramainya mahasiswa sedang ibadah. Jadi harus hati-hati dan menjaga sendiri barang-barang bawaan walaupun di tempat ibadah sekalipun. Dija langsung sedih, ada HP, Al-Qur’an yang baru dibeli serta uang untuk bayaran semester berikutnya, semua ada dalam tas. Dija tambah bingung lagi karena saat itu tak satu rupiah pun uang yang tersisa untuk ongkos pulang. Semua uang ada di dalam tas.
Waktu tak dapat diputar ulang. semua telah terjadi. Tiada guna penyesalan, penyesalan hanya akan membuat jiwa tertekan. Akhirnya, Dija bisa pulang berkat kemurahan hati salah satu kakak tingkat yang tidak ia kenal itu yang memberi Dija uang sebanyak Rp.15.000,- untuk ongkos pulang.
Lanjut cerita kedua, masih peristiwa yang dialami Dija. Suatu hari pada tahun ketiga kuliah karena belum bisa mengendarai sepeda motor, Dija bepergian menggunakan angkutan umum bus. Bus dalam keadaan penuh penumpang dan ketika Dija naik bus itu hanya tersisa satu tempat duduk lagi yakni di kursi paling belakang. Dija duduk di anatara kernek bus dan seorang laki-laki dewasa yang berpakaian rapi, wajahnya bersih dan bersikap ramah dengan Dija. Orang itu membawa bungkusan besar. Dija tak faham apa isinya tapi bungkusan itu berbentuk seperti bingkai foto atau lukisan. Karena bungkusan itu cukup lebar jadi menutupi kaki laki-laki itu dan separuhnya menutupi kaki Dija.
Beberapa waktu kemudian, sekitar sepuluh menit Dija duduk, laki-laki itu turun dan diiringi oleh dua orang lainnya. Merasa posisi tempat duduknya cukup lapang, Dija membuka tas untuk melihat HP. Semua kantong tas dibuka tapi tak ditemukan. Ternyata bukan cuma Dija yang kehilangan tapi ada beberapa penumpang bus yang kehilangan barangnya. Ada yang hilang HP dan ada juga yang hilang dompet. Jadi, Laki-laki rapi dekat Dija tadi adalah copet.
Dari dua peristiwa yang dialami Dija ini dapat kita jadikan pelajaran bahwa meski kita berada di tempat suci dan agung sekalipun kita harus tetap hati-hati dan waspada karena kejahatan mengintai kita dimanapun kita berada. Tempat yang kita anggap aman dan orang yang berpenampilan rapi ternyata tidak menjamin untuk kita percaya begitu saja kalau kita tidak akan ada masalah jika berada di tempat itu atau berada didekat orang itu, apalagi dengan orang yang tidak kita kenal. Memang semua harus kita serahkan pada Allah tapi kewajiban kita sebelum tawakkal adalah berusaha dan berdo’a. Berusaha dengan berhati-hati dan berdo’a mohon perlindungan, minta dijauhkan dari bahaya dalam setiap langkah kita.

Indralaya Utara, 13 Januari 2017

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply