BERAMAL DENGAN HATI

Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.”

(Muttafaqun ‘alaihi).

Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Ketika hati selalu terjaga kebersihannya, maka seluruh amal yang dihasilkan juga akan baik. Tetapi jika hati terserang penyakit, maka amal yang dihasilkan juga akan buruk, jangankan diterima Allah, diterima makhluk saja belum tentu. Salah satu tanda baiknya hati, ketika kita bisa beramal dengan ikhlas.

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih, bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Jadi orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan amalannya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain serta tidak riya (pamer) dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (menampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

  1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
  2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Jangan sampai kita sama seperti kaum yang disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

  1. Merasa senang jika orang lain melakukukan kebaikan serupa, sebagaimana dia juga merasa senang jika kebaikan itu terlaksana oleh tangannya. Tidak iri. Seorang yang baik akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun kerjasama tanpa merasa iri, saling menolong, bukan untuk meraih popularitas dan membanggakan diri sendiri.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote “ Meninggalkan amal karena orang lain adalah riya, beramal karena orang lain adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” Selamat beramal dengan hati. Wallahu’alam.

Rate this article!
BERAMAL DENGAN HATI,5 / 5 ( 1votes )
Tags:

Leave a Reply