BENARKAH CARAKU BERHARAP?

Apakah harapan itu?
Setiap orang pasti punya harapan
Seorang pelajar yang ingin segera menyelesaikan studinya, pengangguran yang ingin medapatkan pekerjaan yang layak, laki-laki dan wanita single ingin dipertemukan dengan pasangan ideal menurut kriterianya, dan masih banyak lagi keinginan-keinginan yang mengisi setiap hati dan pikiran setiap orang. Ya, itulah harapan mereka.
Apakah ada yang salah dengan harapan-harapan itu? Mengapa begitu banyak kita temui orang yang kecewa karena apa yang menjadi harapannya tak kunjung menjadi nyata?
Tak ada yang salah dengan semua keinginan dan harapan setiap orang. Rasa kecewa, putus asa bahkan banyak megalami stres ketika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan adalah hal yang keliru. Kita boleh punya harapan yang tinggi tapi kita juga harus menyadari di mana harus meletakkan harapan-harapan itu.
Ketika kita ingin lulus ujian jangan menaruh harapan kita kepada guru yang memberikan pelajaran, saat kita ingin mendapatkan pekerjaan jangan meletakkan harapan kita pada bos pemilik perusahaan, dan jika kita ingin mendapatkan pasangan yang sesuai kriteria jangan mengharap kepada lawan jenis yang terkadang suka memberikan harapan palsu. Lantas harapan-harapan itu harus kita sandarkan kepada siapa?
Allah. Dia yang harus menjadi tumpuan harapan kita. Bukan guru, bos, orang tua, sahabat atau orang lain yang semuanya berada dalam kendali Allah. Serahkan semua harapan kita kepada-Nya. Biarlah DIA menjadi penentu karena DIA yang maha tahu. Seindah apapun harapan kita belum tentu itu selalu baik bagi kehidupan kita kedepannya.
Jika Allah menjadi sandaran takkan ada kecewa, putus ada dan stres karena kita yakin bahwa apa yang menjadi ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Suka duka itu pasti akan selalu ada karena Allah senantiasa memberikan ujian kepada hamba-Nya untuk membuktikan seberapa yakin kita akan keberadaan-Nya sebagai pemilik alam semesta dan isinya.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi” (QS Al-Ankabut ayat 2)

Disini saya ingin memberikan sebuah kisah yang mungkin bisa menggambarkan bagaimana Allah mengatur dan menguji hamba_Nya melalui serangkaian kisah yang terkadang dianggap buruk di mata manusia.
Sebut saja namanya si A, seorang wanita yang lahir dari keluarga miskin dan penampilan fisik yang tidak cantik menurut pandangan manusia. Entah karena wajahnya yang tidak cantik atau karena keluarganya yang tidak berlimpahan harta membuat ia sering dikucilkan dalam pergaulan dengan teman sebayanya, bahkan tak jarang ia mendapat hinaan dan ejekan dari teman-temannya. Saat itu si A masih berusia kurang dari 10 tahun sehingga belum tahu bersikap dengan perlakuan orang di sekitarnya, terkadang ia hanya menangis atau melapor ke ibunya. Akan tetapi si A tidak pernah mendapat pembelaan dari ibunya sesuai dengan yang ia harapkan. Harapan si A saat itu adalah ibunya mendatangi anak-anak yang telah menghinanya dan memberikan pelajaran. Setelah beranjak dewasa dan memasuki usia SMA si A mulai menyadari mengapa ibunya tidak pernah memberikan pembelaan atas perlakuan teman-temannya. Sekarang ia menyadari bahwa sikap ibunya saat itu membuat ia mampu menghargai orang lain, karena ia merasakan sakitnya dihina membuat ia mampu menghargai orang lain. Ia tidak ingin orang lain merasakan apa yang pernah ia alami semasa kecil. Si A kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang baik hati dan banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Teman-teman yang dulu sering mengejeknya telah mengubah sikapnya, meski sebagian dari mereka terkesan menjauh.

Rate this article!
BENARKAH CARAKU BERHARAP?,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply