Belajar Menepati Janji

Biasanya si bungsu, yang berusia 4 tahun 3 bulan, suka minta makan sendiri. Tapi pagi ini, dia menolak makan nasi. Hanya mau makan tahu dan kuah supnya saja.

“Makan nasi dulu, yu,” kataku.
“Mau nyemil aja, mau ke Faizah beli cemilan,” jawab si bungsu.
Faizah, nama warung di sebelah rumahku.
“Makan nasi dulu, baru ke Faizah.”
“Kenapa harus makan nasi?” tanyanya
“Ade kan perlu tenaga buat mainin fidget spinner-nya. Tenaga itu dapatnya dari nasi. Muter, muter, muter … butuh tenaga. Biar kuat muternya harus makan nasi.”
“Gitu ya, Bun.”
“Iya, begitu.”

Dan … semangkok nasi pun habis 🙂
Sampai sejam kemudian dia masih asyik bermain. Tampaknya sudah lupa tentang keinginannya pergi ke warung Faizah.

“Yu, ke Faizah. Tadi udah makan nasi, kan,” kataku sambil membuka pintu.
“Asyiik, hayu, hayu,” serunya sambil memakai sandalnya.

Sebetulnya sih kalau saya diam saja, ga apa-apa. Si bungsu udah lupa dengan janji saya. Tapi saya cuma mau mengajarkan kepada dia bahwa saya memenuhi janji saya kepadanya. Terlepas dia ingat atau lupa dengan janji saya.

Rate this article!
Belajar Menepati Janji,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply