Belajar dari Sakit Hati Ibu

Sebagai seorang pembelajar, tentu ada panutan untuk bisa dijadikan contoh. Pengelolaan emosi kerap memberikan kesan terhadap seseorang atas apa yang tengah diperlihatkan. Jika Kamu ingin belajar mengenai pengelolaan emsoi secara nyata, maka pelajarilah lewat Ibumu.
Emosi merupakan keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan) atau luapan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Sifat emosi menurut Walgito mencakup emosi positif dan emosi negatif. Jika diperjelas, bahwa emosi positif menyangkut emosi yang menyenangkan dan menenangkan. Emosi ini akan menimbulkan perasaan positif terhadap orang yang merasakan. Sementara Emosi negatif yaitu emosi yang dapat menimbulkan kesedihan, benci, dan takut pada orang yang mengalami.
Mengapa pengelolaan emosi dapat pelajari pada ibu? Ibu dalam peregerakan emosi dapat mengubah emosi negatif menjadi emosi positif seketika. Bayangkan saja, setiap Kamu menyakiti hati atau berbicara kasar dengan orang lain, Kamu akan mendapatkan timbal balik dari perbuatan Kamu secara cepat. Berbeda dengan Ibu yang mampu memaafkan perkataanmu dan justru mendoakanmu diam-diam.
Andai saja Kamu tahu, menyakitkan sekali menerima perkataan kasar ketika hanya meminta anaknya melakukan sesuatu. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah lanjut usia, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (Qs. Al-Isra:23). Dan Allah juga melarang manusia membentak orang tua, meskipun hanya mengucapkan ‘ah’.
Pernah kan ketika Kamu mendapatkan perlakuan seperti itu, kamu akan segera menampakkan wajah yang menyebalkan kepada siapa saja. Tidak dengan Ibu, ketika kamu berbuat salah, cepat-cepat menyembunyikan rasa sakit hatinya dan kamu tidak menyadari itu. Padahal aliran air mata ada di sana. Dan lagi kamu tidak menyadari.
Itulah mengapa kamu dapat mempelajari pengelolaan emosi lewat Ibu. Kesedihan (emosi negatif) dapat segera diubah menjadi kasih sayang (emosi positif). Rasa cinta begitu besar dicurahkan pada anaknya dengan banyak kesalahan. Meskipun kamu memberikan banyak pengorbanan untuk Ibu, itu tidak akan dapat menebus satu helaan napasnya ketika melahirkan kamu.
Kamu mungkin bertanya-tanya, mengapa Ibu tidak menunjukkan rasa sakit hatinya kepadamu? Coba deh kamu berpikir, ketika kamu ketumpahan sup oleh adikmu yang masih kecil, akankah kamu marah-marah atas tindakannya? Karena kamu tahu, dia tidak tahu atas kesalahan yang diperbuat. Bagaimanapun kamu memarahi anak kecil adalah tidak akan berguna. Sejengkel apapun, kamu tetap memaafkannya bukan?
Begitu pula dengan ibu yang menganggap kalian anak kecil itu, meskipun dia meluapkan sakit hatinya, tidak akan membuatnya lebih lega. Sebab itu, Ibu memilih menyembunyikan rasa sakit hati dan segera melupakan karena kasih sayangnya lebih besar dari amarah yang akan beliau lontarkan.

Rate this article!
Tags:
author

Author: